RSS Feed

Category Archives: knowledge

Cerita Pranawa Cita: Dibalik Closing PK-80

Posted on

Dibalik kemeriahan suatu kegiatan pasti ada orang-orang dibalik layar yang jumpalitan jungkir balik kayang-kayang mengatur agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses. Itulah yang akan saya ceritakan di artikel ini, tentang bagaimana acara Closing PK-80 Pranawa Cita bisa berlangsung meriah dengan menghadirkan lebih 500 orang yang terdiri dari siwa-siswi SD, guru/dosen, mahasiswa/i dan masyarakat umum serta seorang presenter TV swasta, Jemmy Darusman. Tulisan ini tidak akan menjelaskan tentang definisi PK LPDP dan apapun penjelasan terkait tentangnya, tulisan ini murni saya persembahkan untuk teman-teman Pranawa Cita PK-80 LPDP yang ingin tahu gimana acara Closing bisa semerepotkan kemarin :-p Terima kasih atas kontribusi kalian semua yang luwaarrrrr biasya! Pranawa Cita….Generasi Pelita Harapan Bangsa (masih hafal ternyata).

Divisi Closing Pranawa Cita memulai diskusi online jauh sebelum PK dimulai, jauh sebelum kami saling bertemu muka satu sama lain. Saya sendiri termasuk yang memilih berada di Closing karena merasa punya suatu hal yang saya bisa untuk salah satu kegiatan Closing (yang pada saat Closing nantinya saya merasa salah pilih “pekerjaan” hahaha). Sebagai bentuk awal diskusi online, kami memilih PIC, orang yang bertanggung jawab penuh terhadap rangkaian acara yang ada di Closing. Seperti biasa, setiap orang (kayaknya) berusaha menghindari posisi mulia ini, yekaaann?? Hahahaha. Dan memang dari belasan orang di Closing, enggak ada satupun yang menawarkan diri menjadi PIC divisi (termasuk saya sendiri yang lebih memilih “ngumpet” sampai situasi aman, hahaha) sampai kemudian muncullah sosok Mba Thia yang mau menjadi PIC. Konon katanya, Mba Thia ini menjadi PIC Closing demi berjalannya PK 80, kalau sampai gak ada PIC beneran kan PK ga bisa berjalan. Tapi sayangnya (kalau versi Mba Thia si ‘tapi alhamdulillahnya’), Mba Thia ini cuma bertahan beberapa hari karena beliau sadar tidak bisa mobile karena faktor pekerjaan dan masih punya bayi sedangkan salah satu syarat menjadi PIC Closing adalah bisa mobile saat Pra PK, paling tidak bisa ke lokasi di mana acara Closing kami akan diselenggarakan. Masuk akal lah ya, gimana mau bikin acara kalau ketua panitia tidak tahu medan acara. 😀

Lalu posisi Mba Thia digantikan oleh Willy Suryawan. Yang agak mengagetkan ternyata si Willy ini domisili di Batam, dia seorang dokter di RS swasta di sana (gak boleh sebut merk karena gak ada royalty). Keren banget karena dia sengaja meluangkan waktu sekitar seminggu di Jakarta dan Depok untuk ngurusin Closing ini. Insting saya mengatakan acara pasti sukses kalau ada orang yang rela berkorban macam ini, hahaha.

Dibawah arahan Willy (yang sudah mendapatkan arahan duluan dari perwakilan PK 80 dan Tim PK), kami merencanakan kegiatan dengan tema utama Guru karena PK-80 ini konon menurut data 80% anggotanya merupakan dosen dan guru (termasuk saya). Singkat cerita, kegiatan kami dibagi menjadi dua yakni acara indoor dan outdoor. Kegiatan indoor meliputi IELTS workshop and Simulation (pkl 8-12), dilanjutkan dengan Public Speaking Class with Jemmy Darusman untuk guru-guru (pkl 13-15). Saya cukup “beruntung” menjadi PIC acara indoor ini dibantu Mba Thia sbg PIC khusus Public Speaking 😀 Lalu kegiatan outdoor terdiri dari acara panggung hiburan (PIC Emilda), pemeriksaan telinga anak SD yang bekerja sama dengan Komnas PGPKT (PIC dr Deas, kalau mau tau singkatan PGPKT tanya Deas ya? :-D), dan lomba menggambar dan mewarnai (PIC Mas Fuad). Yang paling We O We dari semua kegiatan adalah pemeriksaan telinga anak SD karena syaratnya adalah peserta yang harus berjumlah 250-500 anak. PR banget kan di mana mencari anak sebanyak itu dan ditambah PR lagi bagaimana mengakomodir mereka. Bayangan kerja keras tim Closing mulai terbayang sambil mikir dalam hati, “Gue salah masuk divisi gak sih nih, kayaknya serius banget ini kerjanya?” #ups

Lalu tibalah saya bertemu rekan-rekan Pranawa Cita di Wisma Hijau Cimanggis Depok di H-3 pelaksanaan PK. Ketemulah saya dengan PIC Closing si dr Willy dan orang dibalik layar yang selalu rajin membantu Willy ke sana ke mari (karena dia cuma punya dua pilihan: kerja keras atau kembali PK-less #ups) si dr Deas. Rupanya mereka bekerja di rumah sakit yang sama di Batam. Dan rupanya juga atasan mereka itu…….ah sudahlah, kembali ke acara Closing 😛

Hari pertama kedatangan kami di Cimanggis diawali dengan kenal-kenalan, belum berani ceng-cengan kalau belum terlalu kenal, kan? Lalu kami diarahkan untuk mendatangi beberapa SDN yang ada di sekitar Wisma Hijau untuk kami undang di acara pemeriksaan telinga secara gratis. Saya menawarkan diri untuk pergi ke beberapa ke SDN ini karena saya punya kemampuan yang cukup oke (ehem) dalam hal mempengaruhi orang lain (ternyata berdasar tes kepribadian saya adalah seorang campaigner, haha, gak penting). Saya pergi ke SDN Susukan (ada 4 SDN di sana) ditemani Mba Thia dan Sisca, si anak perwakilan PK-80.

Kami memulai dari SDN ……. (nama dan angka tidak disebut ya, ra-ha-si-a, haha) untuk menemui kepala sekolahnya. Kebetulan bapak kepsek sedang ada di ruangan dan langsung menerima kami di pintu masuk. Saya menyampaikan maksud kedatangan dan langsung mendapat jawaban yang tidak ingin kami dengar (baca: ditolak lah, sedih). Jujur, mental sedikit turun. Gimana mau nyari minimal 250 anak kalau ternyata ada juga sekolah yang tidak ingin berpartisipasi? Gimana kalau semua sekolah menolak semua? Haiz, kami melanjutkan perjalanan ke sekolah lain sambil kembali berpikir positif. Ternyata memang SDN lain yang kami datangi hari itu semua menyambut positif dan kami bisa dapat sekitar 100 anak dari sekolah-sekolah tersebut. Keesokan hari kami harus mencari sekolah lain untuk menggalang massa minimal 250 anak.

Keesokan harinya saya ditemani dr Deas menuju sekolah lain di sekitar Wisma Hijau. Niat awal kami mau naik Gojek aja biar ngirit (ehem). Tapi namanya rejeki mah ada aja yak, tiba-tiba pas banget hari H ada anggota Closing terbaru yang menawarkan diri mengantar kami ke sekolah-sekolah (yang pada akhirnya ke mana-mana sih). Namanya rejeki kan gak boleh ditolak ya (ups), lalu saya dan Deas pergi ke beberapa sekolah dengan diantar anggota PK-80 yang merupakan seorang polisi, yass, si Pak Bro Yunnus. Sehari itu (dan hari selanjutnya sih), pak polisi kita beralih fungsi menjadi tim pengantar (mau dibilang chauffeur kok gak enak ya, hahaha). Aman nyaman sentausalah Tim Closing PK-80 😛 Daaann, hari kedua peredaran saya dan Deas membuahkan hasil fantastis. Kami mendapatkan perkiraan hampir 400 anak yang akan datang di pemeriksaan telinga nanti. Lalu apa yang ada di kepala saya, “Busyet, PR lagi nih ngangkut mereka ke Wisma Hijau.” Dipikirin ntar deh, semoga duit cukup buat ngangkotin mereka. Gleg….

Kami tim PICs Closing mengikuti rangkaian kegiatan PK dengan khidmat dan khusyuk di hari pertama sampai suatu ketika kekhusyukan kami terganggu akan adanya masalah yang menimpa kegiatan pemeriksaan telinga di hari pertama PK (H-4 Closing Acticity). Jadi tim kami melakukan kesalahan, walaupun sepele tapi fatal, dan harus segera diluruskan mengingat kami punya peserta anak SD lebih dari 500 saat itu. Gak mungkin banget batal. Lalu si dr Willy minta ijin meninggalkan PK di hari kedua untuk meluruskan kesalahpahaman dengan tim PGPKT dengan menemui dr Dama di RS MMC Kuningan Jakarta. Perjuangan Willy di luar sana kami iringi doa dari area Wisma Hijau (hasseekk).

Malamnya kami kemudian meeting membicarakan masalah tersebut dan mempersiapkan back up plans.Gila aja kan udah capek-capek kepanasan dan kelaparan blusukan nyari massa ampe dapet 500 an anak trus harus batal begitu saja, gak terima! #drama #abaikan

Alhamdulillah, miskomunikasi sudah terselesaikan dengan baik, hanya saja keberlangsungan acara pemeriksaan telinga tetap terancam karena banyak dokter spesialis THT yang tidak bisa hadir di acara kami. Demi suksesnya acara, kamipun sepakat untuk menurunkan semua dokter di PK-80 yang berjumlah 8 orang untuk langsung melakukan pemeriksaan. Karena kedelapan dokter itu adalah dokter umum (ya kalau udah spesialis gak bakal di PK juga kayaknya, haha), mereka diminta datang ke RS Khusus THT Proklamasi menemui dokter spesialis THT untuk diajarkan teknis pemeriksaan telinga (duh saya gak bisa menjelaskan detail bagian ini, awam euy). Untuk kedua kalinya si Willy meninggalkan PK dan kali ini beserta tiga dokter lainnya. Mereka bertemu dr Habli untuk teknis pemeriksaan telinga di sana.

Akhirnya, seperti yang sudah kita lewati bersama, acara Closing kita sangat meriah dengan menghadirkan lebih dari 500 pengunjung (anggota PK-80 aja udah 128, kebayang kan hebohnya kayak apa?). Bahkan menurut data tim THT, ada hampir 700 peserta yang telat diperiksa. Entah mana yang bener pokoknya ada ratusan pengunjung deh 😀

Masalah Divisi Closing PK bukan hanya di pemeriksaan THT yang melibatkan ratusan siswa dan pihak sekolah serta dokter spesialis THT dari PGPKT. Masing-masing acara punya drama dan masalah yang sempet membuat kepala cenat cenut sambil kesel-kesel sebel tapi gak tau sama siapa, hahaha. Semua masalah merupakan kejadian natural suatu kegiatan. Gak mungkin banget ada kegiatan tanpa ada masalah dan dari masalah tersebutlah kita banyak belajar berkehidupan.

Masih inget ketika ada masalah salah paham dengan Bang Jemmy sampai akhirnya Willy turun tangan menyelesaikan dan sempet membuat Mba Thia cenat cenut semalam memikirnya. Gak bakal lupa juga ketika ngeprin dan fotocopy booklet IELTS dan ternyata sia-sia karena miskoordinasi baik dengan anggota tim Closing sendiri maupun dengan abang fotocopy, eerrrr…ratusan lembar kertas terbuang sia-sia (sebagai environmentalist yang sealiran dengan Leo DiCaprio saya sediih melihat kertas ituuu). Trus juga soal crayon untuk lomba mewarnai yang paling pertama kami “beli” di Gramedia Depok dengan dianter Pak Bro Yunnus, tapi H-1 baru sadar kalau crayonnya justru yang enggak ada di tas belanja, sungguh, adakah yang lebih bodoh dari gue dan Deas saat itu???

Tentunya masih banyak sekali cerita-cerita bodoh dan konyol dari Divisi Closing dalam mempersiapkan acara penutupan PK-80. Mungkin yang paling syedih adalah gak adanya orang yang menengok aula saat konsentrasi acara memang di outdoor (kecuali tim dokumentasi yang memotret saya dan peserta simulasi IELTS, yeay!). Bahkan ajaibnya, saya kehilangan asisten yang seharusnya membantu saya di aula, Ganaaaaang, kamu ke manaaa???? Hahhaha, maap curhattt.

Bagi kebanyakan anggota Pranawa Cita, PK sudah selesai, bagi saya dan dr Reyhan (dan beberapa dokter lainnya), PK masih meninggalkan imbas. Yass, saat menulis ini, sebenarnya ada kabar dari kepsek sebuah MIT di Depok jika ada dua muridnya bermasalah dengan telinganya setelah pemeriksaan telinga, jadi dr Reyhan berencana melakukan visit esok hari (Jum’at). Dan saya sendiripun pun sedang berusaha tabah  melakukan scoring IELTS simulasi  daaaann dilanjutkan dengan mengirim SMS hasilnya ke para peserta yang berjumlah 30. Ada yang tau caranya SMS blast biar saya gak lelah ngetik nomor satu-satu? Bisa hubungi saya loh kalau ada yang bisa bantu ini, hahhahahaha.

Terima kasih Pranawa Cita. Our drowsy week stays forever in our hearts and heads, bukan begitu, bukan?? 😀

Jakbar coret, 13 Oktober 2016

Nunik Eka Sari

Advertisements

Damn! I Love Teluk Kiluan

Posted on

Teluk Kulian Lampung adalah destinasi yang tidak asing bagi saya yang pernah mengunjunginya tahun 2010 lalu. Namun, saya tidak kehilangan antusiasme ketika temen-temen di klub motor yang bernama RICHS (ini bukan Bahasa Inggris ya, cuma singkatan aja) mengajak saya dan temen-temen lain untuk ke sana saat long weekend Mei awal lalu. Jadi ceritanya kami mau liburan bareng lagi sambil touring motor.

Bagi saya, touring motor ke Kiluan ini adalah kali pertama saya benar-benar merasakan perjalanan jarak jauh pakai motor. Sebelumnya, dengan kelompok motor yang sama, saya pernah merasakan touring dari Dieng menuju Jakarta. Hanya saja, touring saya berakhir di Tasikmalaya karena saya dan seorang teman lain nyambung naik bus menuju Jakarta, hehehe. Alesannya penting banget, karena kawan saya itu mesti kejar flight ke Lombok yang kalau mengikuti jadwal touring bisa beneran ketinggalan dia.

Dua jam pertama berada di atas motor menuju pelabuhan Merak, hati saya sangat kacho karena sebenernya saya ini sangat takut naik motor kalau gak nyetir sendiri. Bayangin aja, saya nyetir cuma 30-40 km, sedangkan dengan kelompok motor ini kan gak mungkin banget mereka berkecepatan 30-40 km. Alhasil, di jok belakang saya sibuk berdoa menenangkan diri sambil sedikit merutuki diri sendiri yang berada di situasi yang tidak saya sukai, hahaha!

Di perhentian SPBU Balaraja, saya dinasehati oleh sang RC (Road Captain). Dia kasih tau tentang apa-apa aja yang perlu diperhatikan sebagai boncenger seperti saya. Yang utama tentunya trust kepada rider. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa yang memboncengkan kita pasti bisa mengendalikan motornya dan kita tidak perlu khawatir karena kegrogian kita di jok belakang katanya berpengaruh ke rider (see? Bonceng motor aja butuh kepercayaan, apalagi menjalani hidup bersama, eyaaaaa). Lalu juga soal posisi duduk, jangan duduk yang menyebabkan melawan angin atau memberatkan si rider dalam mengendalikan motor. Kalau bisa, badan kita mesti ikuti ke mana arah liukan motor (I thank God yang boncengin saya gak pakai meliuk-liuk pisan motornya, hahaha).

Setelah beberapa nasehat teknis, saya memang agak lega dan rileks di atas motor, walaupun teteup yah, refleks hati adalah dzikir, hehehe. Mayanlah menambah amalan, kalau gak touring belum tentu loh bisa dzikir sebanyak dan selama ituh 😀

Ada satu kejadian konyol saat kami hampir sampai di Kiluan. Bagi yang pernah ke sana pasti tau betapa mengerikannya jalanan menuju ke sana. Kanan kiri jurang, jalanan terjal dan mendaki, jalanan rata tapi berlumpur. Sungguh, jika tak mengalami langsung, saya tidak akan pernah percaya kalau di Indonesia ada jalanan serusak itu dan masih banyak kendaraan melintas. 😦

Saat kami sedang nanjak di suatu jalan berbatu terjal, kanan kiri sangat gelap karena sudah lewat Magrib, hanya ada rombongan kami 4 motor yang lewat tempat itu. Tiba-tiba saja motor yang saya tumpangi agak terganjal sesuatu di roda depan mengakibatkan motor berjalan mundur. Karena saya punya trauma dengan motor, refleks saya adalah berusaha menapakkan kaki ke tanah agar tak jatuh. Tapi apa daya kaki tak sampai. Hanya sepatu kiri saya saja yang nyentuh tanah serta tertinggal dengan seluruh badan masih tetap di motor. Seluruh teman sudah tau mental saya soal naik motor, lalu mereka berlomba mendatangi saya dan mengambilkan sepatu saya (hahaha, I felt like a Cinderella). Gak semua sih, hanya ada dua temen cewek yang dengan baik hatinya turun dari boncengannya dan mengambilkan sepatu sebelah kiri saya yang tertinggal di bebatuan tanah lalu kemudian kami melanjutkan perjalanan sambil saya pura-pura kalem (padahaaaallll…). Gak ada yang ketawa saat itu karena semua sama-sama ngeri, takut berbagai hal buruk terjadi di kegelapan malam tepi jurang. Tapi sekarang, saya percaya kalau saat membaca ini, mungkin mereka senyum-senyum bodoh. Thank you for the Cinderella story, yaaa…

Setelah sampai desa Kiluan, kami disuguhi malam yang sangat syahdu dengan backsound deburan ombak. Cottage kami menginap pun terapung di atas air laut dengan dinding terbuat dari anyaman bambu sehingga cahaya yang masuk ke kamar ketika lampu dimatikan sungguhlah luar biasya! Rasanya perjuangan di atas motor menuju tempat ini lunas sudah di malam itu walaupun fasilitas kamar hanya selembar kasur di lantai yang harus kami bagi berempat. Ditambah lagi, sinyal di desa ini hanya bisa diakses oleh Simpati dan As. Kartu Halo sayapun tak berdaya di sini. Jadi, selama di Kiluan, kami semua benar-benar nyaris gadget-free dan hanya tertawa (ngetawain temen atau diketawain) untuk mengisi waktu.

Hari pertama di Kiluan, kami menuju samudera untuk melihat lumba-lumba. Bagi saya, lumba-lumba yang saya temui pagi itu tidak sebanyak dulu ketika saya pertama kali datang yang mana saya pernah melihat serombongan lumba-lumba sedang berlompatan. Saya tidak menghitung (yakali bisa diitung) tapi yang pasti berpuluh-puluh atau ratusan, banyakkkk banget nget! Setelah puas dengan lumba-lumba, kami didamparkan di Pulau Kiluan. Yes, didamparkan, karena si bapak nelayan benar-benar tidak menjemput kami untuk kembali ke cottage.

Setelah menurunkan kami di pulau, kami ditinggalkan begitu saja tanpa pesan. Bodohnya lagi, kami juga enggak ada yang tanya apa dijemput apa enggak, dijemput jam berapa oleh siapa; seolah udah pasti lah saat kami mau pulang perahu pasti datang, wong udah tugasnya kok. Bagai pepatah “untung tak dapat diraih, malang benar nasib ini”, baru turun dari perahu perut saya langsung bergejolak mules banget yang membuat saya benar-benar tidak menikmati pulau. Saya memutar otak gimana caranya bisa balik ke cottage di sebrang pulau mengingat di dalam pulau tidak ada toilet yang memadai. Setiap ada perahu yang datang, saya tanya apa bisa mengangkut saya ke cottage dan jawabnya hanya nelayan yang mengantar kita ke pulau yang akan menjemput kita kembali ke cottage. Klasik!

Tak lama, saya melihat perahu karet TNI AL menepi ke pulau. Karena dorongan keterpaksaan, saya bertanya ke bapak TNI apa bisa saya dan teman-teman numpang perahu karetnya ke cottage. Saya sebenernya pasrah aja kalau dijawab tidak. Kalau bapak nelayan aja bisa menolak kami, masa bapak TNI AL gak bisa? Hehhehe. Tapi di luar dugaan, bapak tersebut gak keberatan mengantar kami kembali asalkan kami bersedia menunggu beliau dan teman-teman makan. Wuiiihh, berasa nemu sepiring kwetiau goreng seafood saat kelaparan!

Setelah nunggu hampir satu jam, akhirnya kami diantar pulang ke cottage oleh bapak TNI AL itu dengan perahu karetnya. Dan bagi kami semua, pengalaman naik perahu karet itu adalah yang pertama (walaupun kami tinggal di Jakarta yang sering ada perahu karet ketika banjir, haha) sehingga norak-noraklah kami semua sepanjang perjalanan dari pulau menuju cottage. Ternyata beda banget naik perahu kayu dengan perahu karet, sensasi perahu karet lebih terasa, dan kami berasa lagi maen wahana di Dufan dengan pemandangan laut asli Teluk Kiluan, Lampung. 😀

Setelah sampai di penginapan, kami santai-santai menikmati hari dengan tiduran di hammock yang terpasang dengan pemandangan laut lepas. Sesekali kami tertawa, menertawai diri sendiri dan temen lain sambil menunggu sore hari menuju laguna yang terletak di balik bukit. Perjalanan menuju laguna sangatlah berat bagi mereka yang tidak suka jalan nanjak. Ketika sudah di pantai, untuk menuju ke laguna, kita benar-benar harus extra hati-hati karena jalanan penuh batu terjal dan sekaligus licin. Seru dan menantang. Sangat suka! 😀

Hari terakhir di Kiluan, kami kembali ke Pulau Kiluan. Kali ini saya bisa menikmati pulau karena mules-free, hahaha. Ternyata emang sungguh indah yah Pulau Kiluan. Gradasi warna pantainya super sekali walaupun hujan deras mengguyur kiluan dari selepas Magrib sampai larut malam sebelumnya. Sungguh potensi wisata di Teluk Kiluan ini luar biasa sekali, seluarbiasa jalanan menuju ke sini.

Setelah puas berfoto-foto sambil ketawa (entah ya, liburan itu isinya kok banyakan ketawa daripada kegiatan lain), kami berkemas kembali ke Jakarta setelah para cowok melakukan “ritual” ke motornya; cek ini dan itu agar perjalanan lancar dan selamat. Sebelum meninggalkan desa, kami menyempatkan diri berfoto di gerbang Kiluan yang sangat fenomenal itu.

Perjalanan pulang ke Jakarta menjadi suatu cerita lain dalam touring ke Pulau Sumatera ini. Tak disangka, kami bertemu dengan rombongan anak-anak SMA yang konvoi dengan baju seragam putih abu penuh coretan dari rambut hingga ujung kaki (kalau motor mereka adalah hasil keringat mereka sendiri, saya rasa motor mereka akan ikutan diwarnai deh).

Awalnya saat di wilayah tak jauh dari Kiluan, kami hanya melihat beberapa motor, tapi nyaris sepanjang jalan sampai Bandar Lampung, kami selalu berpapasan dengan mereka yang berkendara cenderung membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ternyata, puncak kehebohan massa anak SMA yang niatnya merayakan kelulusan itu justru ada di Bandar Lampung.

Tepat di suatu bundaran (mungkin semacam alun-alun ya, saya gak paham), telah berkumpul ratusan atau bahkan ribuan anak SMA dengan baju dan rambut penuh warna wara wiri gak jelas menuhin badan jalan tanpa menggunakan helm. Saya melihat satu mobil polisi yang terparkir di sekitar bundaran, tampak petugasnya sedang menertibkan anak SMA tersebut. Tapi apa daya 1 mobil patroli polisi berhadapan dengan anak puber yang berjumlah mungkin ribuan. Kami bener-bener bebas lepas dari rombongan “the chillies” setelah berada di jalan raya menuju pelabuhan yang mana itu sekitar empat-lima jam dari pertama kali kami ketemu rombongan “the chillies”! Luar biasa! Merayakan lulus SMA aja seperti itu, gimana nanti ngerayain lulus S2 dari universitas bergengsi di luar negeri????? Ah, mungkin anak-anak muda itu gak pernah berpikir sejauh ini. Kalau mereka mikir, niscaya mereka tidak akan separah itu merayakan kelulusan SMA 😦

Akhirnya kami tiba di pelabuhan Bakaheuni lebih awal dari prediksi dan sangat beruntung langsung menaiki kapal yang akan menuju Jakarta. Di kapal, kami beristirahat tiduran di deck luar, di samping bawah motor yang terparkir sambil melihat langit yang sedikit berbintang dan menikmati angin laut malam hari yang cukup dingin. Perjalanan yang “gue banget”; tidur yang tidak pakai kasur, berbantal tas ransel sambil sesekali ngomong “Aduh, gak bisa tidur nih gue,” atau “Aduh, kaki gue ga bisa selonjor, lo geser dikit dong.” Terima kasih Lampung, selamat datang kembali di Jakarta. 🙂

P.S.

FUNTASTIC Team, thank you for the hilarious story. Later when you cross your own path in different places and find hard times, you may check this piece of writing to remind you of our silly moments. And later after death if you can’t find me in Heaven, do ask the God and help me go to Heaven with you.

 

Sebongkah Cerita dari Koh Larn

Posted on
Saat balik ke Pattaya hujan deras banget. Beruntung perjalanan selamat, agak mengerikan.

Saat balik ek Pattaya hujan deras banget. Beruntung perjalanan selamat, agak mengerikan.

IMG-20121111-00446

Di ujung sana ada pantai yang indaaahhh banget

IMG-20121111-00387

Peta Koh Larn

 

 

 

 

 

 

 

Kalau saya menyebut Pattaya, pasti banyak yang sudah tau. Meskipun belum pernah ke Pattaya (saya juga belum, haha), tapi paling enggak sering denger. Nah, saya memang belum pernah ke Pattaya, cumaaaaa, saya pernah lewat. Nah loh, mungkin pada bertanya, “Emang ke mana saya pergi kok Pattaya cuma dilewatin doang tanpa dijelajahi? Kan Pattaya eksotis dan terkenal di seluruh dunia?” Hehehe. Jawabannya adalah karena saya lebih tertarik ke sebuah pulau di sebrang Pattaya. Namanya Koh Larn, ada juga yang menyebut Kah Larn. Saya sendiri bingung yang mana nama sebenarnya. Mungkin ada yang tau? 🙂

Semua berawal dari solo traveling saya tahun 2012 lalu ke Bangkok dan Phuket. Saat di Bangkok, ada dua orang yang bersedia menjadi teman jalan selama weekend (mereka warga lokal) dan mereka mengajak saya ke Koh Larn itu. Mereka tidak mengajak saya ke Pattaya karena mereka enggak nyaman di sana, suka ada yang usil katanya, hehehe. Selain itu, saya juga tidak begitu menyukai tempat yang turistis, jadi saya demen-demen banget diajak ke Koh Larn. Ada apa di Koh Larn, bagaimana ke sana, berikut cerita yang saya ingat…

Dari Bangkok, kita bisa naik mini van/bis ke Pattaya dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 2-3 jam, tergantung cara nyetir :-D. Lalu di Pattaya kita bisa langsung naik ferry nyebrang ke Koh Larn selama 20-40 menit, kali ini tergantung keadaan ombak :-D. Jadwal keberangkatan ferry ini menurut saya cukup sering. Saya lupa pastinya tiap berapa jam sekali, tapi gak lama-lama banget kok. Jadwal pastinya tersaji di papan pengumuman, jadi kita bisa memilih dan memperkirakan sendiri. Perjalanan dengan ferry menuju Koh Larn terbilang menyenangkan karena kita bisa memandang pantai Pattaya sambil menjauhinya. Hiruk pikuk kehidupan pinggir pantai wisata dunia terlihat dari kejauhan, dari tengah laut. Menyenangkan!

Koh Larn merupakan sebuah pulau kecil dengan beberapa pantai yang cantik-cantik. Karena letaknya yang relatif dekat dengan pusat kota Bangkok, pulau ini sangat ramai kalau weekend. Kita harus memesan akomodasi beberapa hari sebelumnya untuk memastikan kita mendapat penginapan. Harga penginapan bervariasi tergantung fasilitas. Saya waktu itu mendapat sekitar 600 Bath/hari. Harga itu bisa lebih murah kalau pas weekdays. Sebenarnya menurut beberapa orang lokal, saat di perahu kadang ada yang nawarin akomodasi. Tapi kalau lagi musim liburan sih mending mastiin udah dapet akomodasi dulu daripada terpaksa pulang. Bisa sih pulang pergi, tapi sayang aja, hehehe. Oiya, kalau mesen akomodasi sebaiknya yang AC karena kalau Angin Cendela beneran panas deh 😦

Koh Larn merupakan kepulauan wisata yang ternyata cukup turistik meskipun tidak seperti Pattaya. Yang paling menarik dari pulau ini adalah ketersediaan ojek dan rental motor. Bagusnya, tarif ojek sudah ditentukan secara resmi dan tertulis di papan yang besar jadi kita tidak perlu menawar harga atau takut dibohongi. Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah jam operasional ojek. Jangan sampai asik menikmati sunset di pantai lalu gak bisa balik ke penginapan karena gak ada lagi ojek, hehhee, kayak pengalaman saya waktu itu.

Sore itu saya memutuskan untuk ke sebuah pantai (lupa euy nama pantainya) seorang diri karena satu temen saya sakit perut banget dan temen satunya menemani di kamar. Saya lalu naik ojek dan membayar 40 Bath. Sampai di pantai memang sudah hampir waktunya sunset, jadi saya sengaja nunggu sampai matahari benar-benar hilang. Itulah bodohnya saya, suka bertindak tanpa mikir. Pas beneran udah gelap, saya keluar area pantai dan nyari ojek. Jantung berdesir lebih kencang setelah diberitahu kalau ojek udah gak beroperasi lagi. Ngek ngok. Mau nginep di mana coba di pantai terpencil itu. Pas lagi mikir tiba-tiba ada abang-abang nawarin anter ke penginepan. Sebenernya seneng banget, tapi agak takut karena mulutnya bau alkohol banget. Udah gelap, jalanan sepi, bukan orang situ pula, saya sebenernya agak ngeri nerima tawaran itu. Tapi kalau gak diterima ya saya bakal tinggal di mana pula? Sayapun harap-harap cemas menerima tawaran abang tersebut.

Perjalanan dimulai dengan wajar. Abang ojek itu tanya asal saya dari mana, ke Thailand ke mana aja, berapa lama, dll. Saya merasa senang karena dia lalu bercerita pernah ke Bali, katanya sangat indah. Saya merasa lebih tenang walaupun bau alkohol masih menyengat. Tapi secara tiba-tiba saat melewati sebuah tanjakan dengan kanan kiri bukit, sepi gak ada bangunan ataupun kendaraan lewat, gelap tanpa lampu jalan, dibonceng abang ojek yang gak saya kenal dengan bau alkohol menyengat, saya mendadak ngeri sendiri. Saya tidak tahu jalan, tidak hafal dari arah datang tadi sore karena saya disorientasi arah. Pikiran buruk melanda. Membayangkan saya yang seorang diri, cewe pula, dan bakal dijahatin orang yang boncengin saya ini membuat jantung berdebar lebih keras. Saya berusaha berpikiran positif walaupun pasti gampang sekali kalau mau jahatin saya saat itu. Diam-diam saya memanjaatkan doa dan pasrah di belakang abang ojek.

Akhirnya, saya mulai mengenali jalanan menuju penginapan dan syukur Alhamdulillah, abang ojek tadi walaupun berbau alkohol tapi tidak mabuk. Lalu saya segera turun dari motor sesaat setelah abang ojek berhentiin motornya. Sayapun membayar 40 bath. Tapi, tau apa yang abang ojek katakan? Something awesome that left me speechless. Saya lupa kalimat persisnya karena Bahasa Inggrisnya agak aneh (bisa juga kuping saya yang aneh sih, hahaha), intinya dia bukan tukang ojek jadi saya gausah bayar, dia cuma kasihan kalau saya gak bisa pulang ke penginepan, saya di pantai mau tidur di mana. Oh, My! Kaki saya langsung gemeter, orang semulia ini bisanya saya curigai macem-macem. Sambil masih gemeter saya setengah bungkuk mengucapkan terima kasih. Abang itupun pergi entah ke mana.

Koh Larn selain memiliki pemandangan yang menggiurkan ternyata juga mempunyai orang-orang yang berhati mulia. Hari kedua weekend itu saya benar-benar menikmati pulau tanpa rasa khawatir walaupun saya masih harus jalan-jalan sendiri karena teman saya masih sakit. Saya menjelajahi beberapa pantai yang terjangkau waktu di Minggu pagi sampai siang untuk sorenya langsung pulang ke Bangkok. Terima kasih, Koh Larn!

Pemandangan pantai yang saya lupa namanya..

Pemandangan pantai yang saya lupa namanya..

DSCF0437

Air hijaunya bikin ngeces dari jauh..

DSCF0450

Pemandangan di pulau saat menuju sebuah pantai (lagi-lagi lupa ini menuju pantai mana)

IMG-20121112-00507

Ini pemandangan harbour lah, hehe

IMG-20121111-00388

Peta Koh Larn dan daftar harga sewa ojek.

IMG-20121110-00375

Ini pemandangan meninggalkan Pattaya.

Menurut saya ini pantai terindah banget.

Menurut saya ini pantai terindah banget.

Pantai ini yang membuat saya kemaleman gak dapet ojek.

Pantai ini yang membuat saya kemaleman gak dapet ojek.

Dua temen saya warga Bangkok yang ikut. Sayangnya mereka tinggal di kamar karena salah satunya sakit.

Dua temen saya warga Bangkok yang ikut. Sayangnya mereka tinggal di kamar karena salah satunya sakit.

Jalanan menuju penginapan. Asik kayak di rumah sendiri :-)

Jalanan menuju penginapan. Asik kayak di rumah sendiri 🙂

Airnya begini-begini warnanya. Nyegerin mata banget, kan?

Airnya begini-begini warnanya. Nyegerin mata banget, kan?

Peta Koh Larn

Peta Koh Larn

Ujung jalan sana ada pantai indah. Dari atas motor pun pemandangan laut sungguh indah...

Ujung jalan sana ada pantai indah. Dari atas motor pun pemandangan laut sungguh indah…

Gak tau ya, suka banget motoin jalan, hehehe

Gak tau ya, suka banget motoin jalan, hehehe

Panduan Nonton Moto GP ke Sepang

Posted on

Banyak yang bertanya pada saya gimana caranya bisa nonton Moto GP di Sepang. Ya caranya dengan pergi ke sana dong, kalau di Indonesia aja ya gak bisa nonton Moto GP di Sepang, hehehe. Menanggapi pertanyaan seputar nonton langsung ke Sepang berikut saya rangkumkan langkah-langkahnya agar yang belum pernah nonton langsung bisa segera ke sana. Aaammmiiinnnn. J

  1. Siapkan Paspor

Paspor adalah kunci terpenting untuk bisa nonton Moto GP Malaysia (Sepang). Jadi, buat yang belum tahu, Sepang adalah nama kota di Malaysia tempat diselenggarakannya Moto GP. Sirkuitnya disebut Sepang International Circuit. Biar gak kepanjangan, disingkat SIC. Nah, untuk bisa pergi ke sana, kita, warga negara Indonesia, wajib menunjukkan paspor sebagai identitas diri kita (gantinya KTP lah ya). Untuk yang belum punya paspor, silakan mendapatkannya di kantor imigrasi terdekat. Pendaftaran bisa melalui online di:  https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml

Buat yang udah punya paspor, perhatikan tanggal masa berlaku paspor. Pastikan paspor masih berlaku minimal enam bulan sebelum masa berlaku habis pada saat kita kembali ke tanah air. Oiya, untuk membeli tiket pesawat juga diperlukan paspor loh. Segera bikin ya bagi yang belum punya. Gak pernah rugi kok bikin paspor. 😀

  1. Beli Tiket

Langkah berikutnya adalah membeli tiket, baik tiket pesawat maupun tiket Moto GP. Kalau kita punya modal tak terbatas, tentu tiket tidak jadi masalah. Nah, karena modal saya sangat terbatas, saya mengakali pembelian tiket agar enggak bikin saya sengsara, hehehe. Untuk tiket pesawat, saya menunggu promo dari maskapai. Bisa Air Asia (rutin promo tiap beberapa bulan), Malaysia Airlines, Garuda (terutama pas ada event Garuda Travel Fair), dan promo lainnya. Kuncinya adalah peka terhadap promo-promo tersebut, hehe. Sekedar bayangan, tiket promo ke Malaysia dengan Air Asia 800,000 IDR untuk Pergi-Pulang, dan Malaysia Airlines juga 800,000 IDR Pergi-Pulang. Kalau harga normal, mungkin sekitar 1.5 juta.

Selanjutnya adalah tiket Moto GP. Sangat disarankan untuk membeli tiket jauh-jauh hari (early bird) karena harganya beda banget, mungkin lebih murah 30-40 % (maaf saya gak ngitung tepatnya, pokoknya murah sangat). Tiket bisa dibeli online di sepangcircuit.com (mata uang Ringgit) atau motogp.com (mata uang Euro) atau bookmoto.com (lupa euy mata uang untuk transaksinya). Periode promo early bird tiap situs berbeda-beda, harap selalu ngecek situs bersangkutan. Batas early bird ada yang akhir Januari, akhir Mei, akhir Juni dll. Yang pasti kalau bulan Agustus-Oktober, udah harga normal.

Pembelian online biasanya dilakukan dengan kartu kredit, kalau belum punya, silakan apply ke bank terdekat (kok jadi kayak salesgirl gini?). Setelah transaksi online kita berhasil, kita akan dikirimi email berisi tiket dalam bentuk PDF. Lalu kita hanya mencetak tiket tersebut untuk kita tunjukkan ke petugas sirkuit sebagai tanda masuk. Kalau nyetak tiket pakai kertas bekas aja ya, gausah berwarna, nanti yang dibutuhkan hanya nomor referensi yang ada di tiket untuk di-scan doang lalu kita boleh masuk. Kalau mau beli tiket fisik, bisa dilakukan juga di beberapa tempat penjualan tiket di Indonesia. Setau saya dulu Raja Karcis pernah beriklan tiket Moto GP ini, tapi saya sendiri selalu beli online karena mudah ,cepat, dan enggak capek.

Saya selalu membeli tiket GP dan tiket pesawat di bulan yang berbeda, biar gak terlalu bokek, hehehe. Misalnya saya beli tiket pesawat promo bulan Februari, saya akan beli tiket GP pas hari terakhir promosi early bird, jadi gak gitu amat ngeluarin uangnya. 😀

  1. Pesan Akomodasi

Setelah urusan tiket selesai, saatnya memesan akomodasi atau penginepan. Eh, tapi mesen akomodasi mah gak harus beli tiket dulu ding. Pesen aja suka-suka kita dan cari penginapan yang tanpa deposit, jadi kalau kita mau cancel kita enggak rugi. Untuk penginapan, saya selalu di KL Sentral karena sangat strategis. Mau ke sirkuit ada bis khususnya langsung, mau ke bandara, ada bis dan ada KLIA Express (kereta cepat), mau jalan keliling KL banyak transportasi pilihan.

Untuk para backpackers, ada penginapan yang bisa dijadikan pilihan seperti Bullock Cart Hostel, Central Lodge, YMCA dll. Saya sih baru nyobain di dua tempat pertama, dan itu nyaman banget. Budget per malam di dua tempat tersebut adalah sekitar 90,000 IDR (28-30 RM). Fasilitas kamar pakai AC, wifi, air minum dll. Silakan kunjungi situsnya untuk booking dan melihat kondisi kamar. Bagi saya, daya tarik hostel adalah kesempatan untuk bisa ngobrol dengan backpacker lainnya. Sekamar yang berisi enam orang memudahkan kita untuk mengobrol lebih santai. Kalau nginep di hotel bagus sih udah pasti masuk kamar langsung bobok ya hehehe.

  1. Beli Ringgit dan Menghitung Budget

Salah satu yang harus dipersiapkan tentunya adalah menukar mata uang Rupiah ke Ringgit Malaysia. Jangan menukar setelah sampai tujuan, karena selain agak ribet nyari tempatnya, di sana juga lebih mahal, sebaiknya membeli Ringgit di sini sebelum kita berangkat. Jika tinggal di Jakarta, bisa beli Ringgit di Peniti, Dollarindo, Indovalas, dll.

Mau nuker berapa? Itu tergantung kebutuhan kita. Sebagai gambaran, kebutuhan pokok adalah sebagai berikut.

  • Tiket bis dari bandara ke KL Sentral 10 RM dan dari KL Sentral balik bandara lagi 11 RM
  • Tiket bis dari KL Sentral ke SIC tiap hari selama tiga hari 90 RM (@30 RM)
  • Biaya makan di kota 10 RM sekali makan (kecuali makan di restoran/mall, bisa jadi 30 RM). Biaya makan dan minum di sirkuit beda-beda. Makanan dijual sekitar 10-15 RM (tergantung jenis), minuman 3-5 RM (tergantung jenis)
  • Biaya beli kartu untuk internetan sekitar 60 RM, tergantung kuota yang dibeli. Saya sih gak pernah beli, enggak butuh soalnya.
  • Biaya oleh-oleh, biaya beli souvenir di sirkuit, silakan disesuaikan sendiri.

Bagaimana sekarang? Sudah jelas, kan? Semoga ya. Kalau ada yang kurang jelas silakan ajukan pertanyaan di kolom komentar. Terakhir, selamat merencakan nonton Moto GP Sepang dan bersiaplah ketagihan!

P.S

Tulisan ini dibuat berdasar pengalaman pribadi selama 3 tahun berturut ke Sepang. Pengalaman saya pasti berbeda dengan pengalaman orang lain, jadi kemungkinan ada perbedaan detail dalam beberapa info di sini.

Perjuangan Menemui Sang Legenda dari Italia Yang Murah Senyum :-)

Posted on

Indonesia merupakan negara dengan penggemar Moto GP yang amat sangat banyak. Saking banyaknya, pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, sampai heran karena Indonesia enggak menyelenggarakan Moto GP, enggak pula punya pembalap yang membalap di Moto GP, tapi penggemar Moto GP luar biasa gila di sini. Saya juga heran karena saya adalah penggemar yang segitunya…

Dari semua rider Moto GP yang ada, saya bisa bilang bahwa Valentino Rossi—atau dikenal dengan VR46 dengan warna kuning sebagai simbolnya—adalah pembalap yang mempunyai penggemar paling banyak jumlahnya. Kenapa saya bilang paling banyak? Karena setiap pemandangan di sirkuit, yang tampak mencolok adalah warna kuning di mana-mana. Belum lagi adanya tribun khusus VR46 walaupun si pembalap tidak sedang membalap di “rumahnya”. Si pembalap legendaris itu bisa punya tribun khusus tidak hanya di Italia, tapi bahkan di Sepang Malaysia. Sadisnya, tiket tribun beliau terjual ludes alias sold out!

Dua tahun berturut-turut mengunjungi Sepang, saya selalu takjub dengan penggemar VR46, jumlahnya unlimited dan enggak pernah berkurang, justru malah bertambah. Ketika saya berjalan di area booth, booth yang gak pernah sepi adalah booth yang menjual VR46 racing apparel. Padahal, racing apparel itu tergolong mahal. Kalau iseng pengen beli gantungan kunci VR46, kita mesti rela membayar sekitar Rp 120.000,- Kalau mau kaos oblong, sekitar Rp. 700-900.000,- tergantung model dan ukuran. Belum kalau mau beli helem, mahal bingits pasti. Hebatnya, asal produk VR46, pasti ludes-ludes aja. Ketika mengunjungi sirkuit saat gelaran Moto GP, seberapapun uang yang kita punya, seolah enggak berarti banyak.

Kembali ke Valentino Rossi. Berdasarkan berita yang saya baca, dia digambarkan sebagai sosok yang sangat ramah dan mencintai penggemarnya. Saya pun pengen membuktikannya sendiri sekaligus ingin menikmati euphoria bergerombol dengan pasukan kuning lainnya dari seluruh penjuru dunia.

Tahun 2013 di GP Sepang, saya cukup beruntung karena secara kebetulan saya bisa ikut Pit Lane Walk sesaat sebelum saya ingin meninggalkan sirkuit. Sebagai amatir waktu itu, saya tidak tahu acara GP apa saja, jadi begitu free practice selesai saya bersiap pulang. Tiba-tiba, mata saya melihat barisan manusia yang antri mengular. Setelah bertanya, ternyata itu barisan menuju garasi rider. Spontan saya ikut berpanas-panas mengantri. Setelah berjuang dalam antrian sekitar satu jam lebih, kami diperbolehkan masuk melalui jalur tertentu menuju garasi rider. Wooooow, keren! Rasanya mau teriak kenceng karena untuk pertama kalinya bisa lihat langsung dari dekat motor-motor yang dipakai balap itu. Asli loh, bukan replika! J

Karena fokus utama saya adalah Valentino Rossi, saya melihat garasi Honda, Ducati dll secara kilat. Kaki langsung melangkah menuju garasi Yamaha di mana sudah berkumpul banyaknya manusia berkaos kuning dan berteriak memanggil Valentino. Dikarenakan badan saya kecil, saya akhirnya berhasil merangsek ke bagian paling depan setelah berdesak-desakan sehingga dengan jelas bisa memandang isi garasi. Tampaklah di depan saya motor bernomor 46 dan 99, motor-motor yang selama ini hanya bisa saya lihat di TV, itupun jaraknya jauh. Motor-motor itu sedang diutak atik oleh mekanik yang ganteng-ganteng, entahlah sedang diapain itu.

Kerumunan di depan garasi Yamaha mulai “gerah” karena sang idola bernomor 46 tak kunjung menandakan akan keluar. Beberapa orang mulai berteriak histeris memanggil. Saat beberapa orang gaduh meminta Vale keluar garasi, tiba-tiba sebuah sekat di dalam garasi dibuka dan tampaklah dari dalam sosok berkaos oblong putih berkaca mata hitam tersenyum ke arah kami sambil melambaikan tangan. Subhanallah, pria itu sungguh berkharismatik sekali. Ganteng banget sebenernya enggak, tapi auranya itu bikin badan kaku dan lebih rela menatapnya saja daripada ngeluarin kamera/hape, hahaha. Sayangnya, mata ini hanya bisa menatapnya selama beberapa detik karena ia lalu masuk ke dalam garasi lagi setelah membuat gerombolan kuning histeris gak karuan. Permainan yang cantik dari sang legenda.

Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, saya dan seorang partner GP merencanakan banyak hal untuk menyempurnakan petualangan kami di sirkuit di Sepang 2014. Kami merasa inilah petualangan terkahir di sirkuit terdekat yang menyelenggarakan Moto GP, tahun berikutnya kami bertekad pindah sirkuit, jadi kami harus melengkapi mimpi di tempat ini.

Mengetahui ada Pit Lane Walk dan sesi minta tanda tangan para pembalap, kami harus ikut semuanya dan mencari posisi terbaik demi bertatap muka dengan sang idola. Nasib baik memang selalu bersama mereka yang mempercayainya. Tralaaa, saya pun berhasil (lagi) mendapatkan posisi terdepan ketika nongkrong di depan pit no 10 alias pit Yamaha setelah mengantri dari jarak 300 meter dari yang terdepan sebelumnya. And guess what?? Pintu garasi Yamaha sengaja dibuka ketika gerombolan kuning datang dan sungguh rejeki luar biasa kalau di dalam garasi itu ada laki-laki berkharisma tinggi memakai topi kuning nomor 46 dikelilingi 2 kru mekaniknya sedang membicarakan sesuatu. Wooww, itulah dia tujuan saya datang ke Sepang! Valentino Rossi…

Setelah mendapat teriakan dari kami, sang pembalap berlogo matahari dan bulan itu melambaikan tangan sambil tersenyum menatap kerumunan orang yang menggilainya. Wau wau wau, the crowd went wild! Setelah berdadah-dadah kepada kami, beliau kembali sibuk berbincang dengan kru mekaniknya di sebuah meja bundar kecil tepat di hadapan kami. Buat saya, hal itu lebiiiiih dari cukup. Menatap dari jarak sangat dekat walaupun yang ditatap sudah pasti gak menatap balik, hehehe. Orang-orang yang di belakang saya masih terus memanggil sang idola, tapi tampaknya beliau sedang sibuk meeting, jadi kurang begitu menggubris.

Sekitar 15-20 menit kemudian, tiba-tiba petugas keamanan mengganti pagar yang tadinya berupa tali biasa menjadi pagar besi. Wah, nampaknya sang idola akan keluar nih kalau pengamanan sudah ditingkatkan begini, hehehe. Bakal kayak apa yah orang-orang gila di sekitar saya ini nanti….

Pelan tapi pasti, Valentino Rossi bangkit dari duduknya sambil senyam senyum dan spontan gerombolan di sekeliling saya menjadi gila, sangat-sangat gila. Tiba-tiba badan saya terjepit dahsyat, itu padahal Vale baru berdiri doang lho. Bisa dibayangkan ketika pemilik nomor paten 46 itu berjalan ke arah kami sambil menebar senyum. Alamaaakk, badan saya rasanya seperti terjepit parah. Saya pikir saya akan pingsan dan terinjak-injak lalu meninggal, sayapun beristighfar sambil menatap pergerakan sang idola sambil berdoa jangan mati di sini, konyol banget dan enggak khusnul khotimah.

Beruntung tangan saya bergerak cepat untuk memotret idola sejati dari dekat (sambil tetep berdoa biar saya selamat dari kerumunan orang gila ini heheh). Saya rasa satu foto sangat sangat cukup dan saya enggak berniat untuk teriak-teriak minta tanda tangan. Setelah berhasil mendapat fotonya, saya pasrah aja terjepit-jepit gak keruan, toh niat untuk melihat idola tanpa jarak sudah terkabul, hehehe. Sementara itu mas-mas petugas keamanan teriak-teriak minta Vale disuruh mundur dulu karena fans makin gila dorong-dorongan merangsek ke pagar besi. Bener-bener gila. Untungnya saya ga segila itu sih, hehhee.

Pelan tapi pasti, Vale hilang dari pandangan. Kami mulai diusir-usir untuk meninggalkan area pit. Lalu bertemulah saya dengan partner GP saya. Dia ternyata dari tadi nongkrong di pit Ducati yang berada di sebelah Yamaha (partner saya gak menyukai pembalap manapu, cuma suka Ducati) dan ketika Vale berjalan meninggalkan Yamaha, dia sempet juga mengabadikan foto sang idola yang jalannya kayak robot itu, hehehe. Tapi bukan itu sih yang bikin saya terharu. Menurut cerita temen saya itu, si Vale udah berjalan menjauh dari keramaian, tapi mendadak ada ibu-ibu berjilbab lebar (jilbab ya, bukan kerudung) dan berbaju gamis bersama anak kecil berkostum balap yang meneriakinya untuk minta foto bareng. Bisa ketebak dong apa yang terjadi? Exactly, si pembalap Italia itu mendekati si ibu dan anak kecil itu untuk berfoto-foto bersama sebentar lalu kembali berjalan menjauh.

Gila yah? Dia segitunya sama ibu dan anak itu. Salut! Kalau sama penggemar muda, dia gak terlalu peduli, tapi kalau ibu-ibu or anak-anak, dia tampaknya lebih memperhatikan. Ah, Vale, makin bangga deh mengagumimu! Semoga takdir kembali mempertemukan kita di Philip Island tahun 2015. Hahahaha…

photo

Hola! Me llamo Pedro(sa)

Posted on

Bulunya putih bersih (kecuali ketika abis gulung-gulung di tempat kotor), matanya biru dan suaranya cempreng super manja. Kenalkan, namanya Pedro. Nama panjangnya Pedrosa.

Dua tahun lalu, ada seekor kucing kecil yang tiba-tiba nongkrong di teras rumah dan enggak mau pergi. Mungkin ketika itu umurnya baru sebulan atau 3 minggu karena ia tampak sangat sangat kecil imut tapi menyebalkan. Dia tampak sendiri tanpa induk ataupun teman. Dia hanya duduk diam di teras dan enggak macam-macam pada hari pertama. Karena kasihan, adek saya memberinya makan. Adek saya dari dulu memang udah sering ngasih makan kucing yang mampir ke rumah, gak seperti saya yang aslinya dulu benci sama kucing. Sejak itu, si kucing kecil sama sekali gak pernah meninggalkan rumah kami.

Setelah beberapa hari, si kucing kecil makin rese. Dia mulai ngaing-ngaing kalau minta makan. Yang paling menyebalkan adalah ketika dia selalu mengikuti kaki ke manapun melangkah kalau dia belum diberi makan sehingga kaki sering keserimpet si kucing. Saya adalah orang yang paling sebel dengan kedatangan si kucing di rumah saya pada awalnya. Saya beberapa kali menendang si kucing ketika kaki saya keserimpet badannya yang menempel kaki saya. Tentu nendangnya enggak serius dan enggak pakai tenaga, hanya sekedar menyemplakkan kaki saya ke badannya biar dia sadar kalau saya enggak suka dengan dia. Tapi percuma sih, tetep aja dia nggelendotin kaki saya dan kaki siapapun yang ada di rumah. Bener-bener kucing yang punya karakter, ndablek kalau kata orang jawa.

Entah bagaimana ceritanya, saya tiba-tiba suka sama si kucing. Kira-kira setelah 6-7 bulan sejak kedatangannya ke rumah, hati saya luluh juga sama keimutannya. Hal pertama yang membuat saya suka padanya adalah matanya yang biru. Saya kan penyuka manusia-manusia bermata biru, jadi saya juga harus suka kucing bermata biru, begitulah alasan yang saya ciptakan kalau ditanya kenapa suka sama si kucing. Karena alasan warna matanya itu pulalah saya mantap menamainya Pedrosa; nama orang bule yang saya pinjam untuk kucing bule saya. Mungkin penggemar balap Moto GP tanya, kok enggak Marquez atau Rossi, kenapa Pedrosa, kan saya pengagum Rossi? Entahlah, saya enggak bisa jawab.

Banyak orang (termasuk saya dulu) bilang bahwa kucing itu mempunyai sifat negatif, seperti suka nyolong, enggak setia dengan pemiliknya dan enggak bisa diajarin ini itu. Well, yea, ada benernya tapi hampir semua sifat-sifat itu enggak dimiliki Pedro.

Pedro setia. Untuk ukuran kucing dia amat sangat setia dengan kami sekeluarga selaku juragan dia. Kalau ibu saya belanja pagi ke tukang sayur, si Pedro akan menguntit di belakang sampai di suatu ujung jalan. Dia memang enggak akan “nganter” ibu saya sampai ke penjual sayur karena mungkin terlalu jauh (dia enggak suka pergi jauh dari rumah, sejauh-jauhnya cuma jarak 5 rumah aja). Di suatu ujung jalan itu dia berhenti lalu menghilang, mungkin masuk ke dalam rumah tetangga. Kerennya, si Pedro muncul ketika ibu saya balik dari warung menuju rumah. Begitulah yang diceritakan ibu saya ke saya hampir setiap hari.

Pedro emang paling suka menempel dan mengendus kaki siapapun di keluarga kami. Tempat favoritnya adalah dapur. Kalau ibu lagi masak, Pedro pasti duduk manis di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dia enggak ngapa-ngapain, cuma semacam nemenin ibu masak. Ya mending dia bisa bantuin nyuci piring atau ngambilin cabe, dia kadang malah tidur. Pokoknya dia hanya ingin dekat dengan juragannya.

Kadang saya mendapati Pedro tidur pulas di dapur di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dan sering pula ketika saya lewat dapur mau ke kamar mandi saya ngeliat posisi tidurnya yang meliuk persis kek kucing lagi yoga. Biar gak mengganggu tidurnya, saya melangkah pelan ke arah kamar mandi. Dan sungguh luar biasa ketika saya keluar kamar mandi, saya mendapati si Pedro sedang duduk manis di keset depan pintu kamar mandi sambil memandangi saya keluar kamar mandi. Pertama kali mengetahui itu saya heboh cerita ke seluruh orang, sekarang udah biasa karena Pedro selalu menunggui saya kalau saya lagi di depan kamar mandi. Dan ini dilakukan ke seluruh keluarga saya, ke adek, ibu, dan bapak. Semua ditungguin sama Pedro kalau lagi di dalam kamar mandi.

Pedro gak suka mencuri. Pedro memang gak pernah nyolong makanan, tapi dia sering naik ke meja makan yang kosong kalau saya lagi ngeracik makannya. Ceritanya dia suka gak sabar pengen segera makan jadi sampe naik-naik meja. Saya gak perlu nurunin dia dengan tangan saya, saya cukup berteriak dengan nada agak tinggi untuk membuatnya turun dari meja. Setelah itu, dia akan duduk dengan dua kakinya sambil tetep cerewet ngeong-ngeong tanpa berani lagi naik ke atas meja. Keren yah?

Dulu saat bulunya rontok parah, ibu saya melarang Pedro masuk rumah biar bulunya gak nempel ke makanan dan pakaian di dalam rumah. Dia hanya boleh berada di teras dan gak boleh masuk. Namanya juga kucing, kadang nyolong-nyolong masuk kalau pintu lagi terbuka. Lucunya, walaupun sedang berlari-lari kecil menuju dapur dari arah teras, si Pedro akan mendadak menghentikan langkah lalu berbalik arah menuju teras lagi kalau sudah denger teriakan ibu, “E…e…e” dengan nada tinggi. Keren kan? Saking senengnya ibu sama adegan ini sering dengan sengaja buka pintu biar si Pedro masuk lalu si Pedro akan diteriakin biar dia berhenti berlari dan berbalik arah kembali menuju teras.

Saking cintanya saya sama si Pedro, kalau Pedro sakit dikit saya pasti panik parah dan bahkan pernah nangis waktu sholat mendoakan kesembuhan untuk kucing tersayang. Waktu itu si Pedro sakit parah dan saya berkali-kali gagal bawa dia ke dokter. Ya begitulah, cinta itu sangat universal dan enggak beralasan khusus. Pedro adalah bagian dari keluarga saa sekarang.  Te amooo, Pedro….

My boss' bags are comfortable!

My boss’ bags are comfortable!

la foto (3)

I am sleepy

Am I cute?

Am I cute?

Akhir Kesendirian Sementara

Posted on

Dua belas jam di bus tingkat tak terasa melelahkan karena pulas tertidur sepanjang malam. Memasuki wilayah Bangkok, situasi jalanan sama seperti Jakarta, padat merayap sedikit harapan. Kira-kira jam 7 pagi, sampai jugalah bus di sebuah terminal yang sangat luas dan ramai yang bernama Mo chit. Tempat pertama  yang saya tuju adalah pos keamananan di mana saya menanyakan lokasi wartel atau telepon umum. Oleh bapak petugasnya, saya malah secara mengagetkan disuguhi pesawat telepon dan dipersilakan memencet nomor yang saya tuju secara gratis. Wow, baik sekali! Setelah berterimakasih, saya langsung tersambung dengan saudara angkat saya yang berencana menjemput saya di terminal. Sayang sunggung sayang, si anak itu sedang ujian di kelasnya—dia seorang mahasiswi—dan dia baru bisa ada di terminal jam 11—apaaaahh, jam sebelaasss…. Bayangan akan segera bertemu orang yang saya kenal segera memudar, masih harus menunggu, saya masih harus bengong-bengong dulu sendirian sampai beberapa jam ke depan. Fiuh!

Dengan pasrah saya menutup percakapan via telepon dan spontan berpikir bagaimana menghabiskan waktu dari jam 7 ke jam 11 di sebuah terminal. Saya putuskan untuk melihat-lihat seluruh terminal aja untuk membunuh waktu sambil mencari tau ada apa di situ. Ternyata, di dalam terminal ada mini market 7-11—jangan dibayangkan café-nya karena di Thailand 7-11 cuma berupa toko aja tanpa café—lumayan untuk mencari sarapan, lalu kalau kita mengikuti jalur setelah keluar dari 7-11 kita akan sampai di barisan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam produk, mulai dari makanan sampai sepatu, tas, dll. Mirip pasar di sekitar stasiun Jatinegara. Tanpa berniat membeli, saya hanya berjalan ke sana ke mari. Di sebuah sudut yang berseberangan dengan lokasi 7-11, saya mendapati banyak kendaraan umum untuk menjangkau luar kota Bangkok, lengkap rupanya. Saya mulai membayangkan ke tempat-tempat tujuan yang tertera di papan informasi, menggiurkan, tapi tidak untuk dicoba sekarang.

Terminal Mo chit disebut juga terminal utara, mungkin karena terletak di Bangkok belahan utara, gak jauh dari pasar bombastis dan fantastis Catuchak—pasar superrrrr luas dengan harga murah yang beroperasi hanya Sabtu-Minggu. Ngomongin pasar, Catuchak ini katanya merupakan pasar akhir pekan terbesar di seluruh dunia, apa aja bisa didapat di sini; baju, makanan, souvenir, peralatan rumah tangga, bahkan binatang peliharaan. Pasar ini juga dikenal sebagai J.J market. Menurut penduduk lokal, produk yang dijual di pasar ini tidak semuanya kelas murahan. Memang kita bisa mendapatkan barang-barang bekas di sini, tapi ada banyak produk yang berkualitas bagus yang dijual dengan harga lebih murah daripada di mall. Untuk ini saya belum pernah membuktikannya, ya, karena saya bukan orang yang gila belanja, hehe. Sebagai gambaran betapa murahnya produk di pasar ini, saya pernah membeli rok ala Thailand seharga 150 Baht—sekitar 50.000 Rupiah—yang kalau udah masuk mall di Jakarta harganya 200.000 Rupiah. Wajar sekali karena ongkos rok itu mahaaallll 🙂 Kalau mau beli oleh-oleh, pasar ini merupakan pilihan yang tidak mengecewakan untuk belanja buah tangan.

Balik lagi ke terminal, setelah lelah ngider-ngider terminal, saya masih mati gaya menunggu jam 11. Hari itu adalah hari Jum’at 9 November 2012, dan saya memutuskan untuk membunuh sisa waktu di warnet—gak ada hubungannya, hahaha. Sewa internet di lokasi terminal Mo chit per jamnya seingat saya 20 atau 25 Baht, deh, lupa pastinya. Setelah tiga jam bermain Facebook, Twitter, email, dll, akhirnya ketemu juga saya dengan keluarga angkat saya, si anak yang mahasiswi  dan papa angkat saya. Kamipun berpelukan sambil ketawa-tawa setelah persis lima tahun gak pernah bertemu. Bagi saya, pertemuan dengan mereka tentu saja akhir dari solo trip yang menyiksa, tanpa teman. Untuk sementara, saya akan selalu mempunyai kawan, hohoho.

Untuk melepas kangen, saya hanya berada di rumah seharian beserta seluruh keluarga angkat saya yang Bahasa Inggrisnya amat sangat terbatas; hanya si mahasiswi yang bagus bahasa Inggrisnya sehingga dia juga berperan sebagai penerjemah untuk membantu kami berkomunikasi. Mama angkat yang tinggal dan bekerja di luar kota Bangkok hari itu menyempatkan pulang ke Bangkok demi bertemu saya. Mengharukan sekali. Saya pun selalu sangat menyenangkan berada di tengah keluarga angkat Thailand ini. Mereka selalu gembira dan senang kalau saya udah mulai cerita—walaupun tetep si anak nanti akan bercerita dalam bahasa lokal, hehe—dan mereka selalu menanyakan saya mau makan apa dan mau pergi ke mana. Sungguh beruntung saya dipertemukan dengan keluarga ini, selalu membuat saya terharu dengan semua ketulusan mereka serta pujian-ujianya untuk saya 🙂

Hari itu saya dijamu makanan kesukaan saya—mereka masih ingat banget makanan kedoyanan saya walaupun lima tahun telah berlalu—tom  yam dan papaya salad! Nah, sekarang tibalah saatnya ngomongin makanan, nyam, nyam. Menurut Wikipedia, Tom yam berasal dari kata “tom” yang artinya proses rebusan dan “yam” yang artinya sayuran pedas dan asam. Jadi, tom yam ini merupakan sayuran berkuah kental dengan campuran udang atau kepiting yang rasanya asam, pedas, manis, enak banget deh, hehehe. Makanan ini merupakan masakan khas Thailand dan Laos, sangat lezat di lidah saya. Nah, kalau papaya salad, itu menurut saya sih semacam rujak pepaya muda yang masih mentah. Jadi, pepaya mudanya diiris tipis lalu dicampur kacang panjang, terung Thailand , tomat muda mentah lalu dikasih cabe, limau, gula dan seafood—biasanya kepiting dan udang. Awalnya agak aneh juga sih makanan itu, rasanya gak nyambung, buah sayur mentah dan bumbu-bumbu plus seafood pula, gak wajar di lidah saya. Ternyata saya ketagihan campuran rasa pedes, asem, dan manis itu. Karena keterbatasan—sebagai muslimah—kulineran, kedua makanan itu sudah merupakan yang terbaik.

Setelah melewatkan makan siang dan makan malam, saya dan saudara angkat mulai membicarakan rencana liburan bersama ke sebuah pulau di sebrang Pattaya. Awalnya saya yang mengajak ke Pattaya, tapi menurut saudara angkat, sebaiknya kami nyebrang dari Pattaya ke sebuah pulau yang indah dan keren, Kah Larn. Waah, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, dan tentu saja saya tidak keberatan datang ke sana karena obsesi saya adalah mendatangi tempat-tempat yang tidak begitu dikenal dunia tapi indah, kapan lagi, kan? Segeralah kami menyusun acara liburan singkat itu dengan memesan kamar penginapan di pulau tersebut, memilih-milih pantai mana saja yang akan kami kunjungi dan transportasi apa yang akan kami gunakan selama di pulau, sewa motor atau ojek. Semua tampak sangat menyenangkan dalam imajinasi saya; kami akan berangkat Sabtu pagi dan pulang kembali ke Bangkok Minggu sore. Begitulah rencana yang saya bayangkan akan menyenangkan luar biasa. Sayangnya, kenyataan tak pernah selalu seindahrencana, tapi saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati apapun, hehehe……

Unfortunately, I forget the name of this area...

Unfortunately, I forget the name of this area… Ini berada di kota Bangkok.

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

 

 

 

 

 

 

 

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!