RSS Feed

Cerita Pranawa Cita: Dibalik Closing PK-80

Posted on

Dibalik kemeriahan suatu kegiatan pasti ada orang-orang dibalik layar yang jumpalitan jungkir balik kayang-kayang mengatur agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan sukses. Itulah yang akan saya ceritakan di artikel ini, tentang bagaimana acara Closing PK-80 Pranawa Cita bisa berlangsung meriah dengan menghadirkan lebih 500 orang yang terdiri dari siwa-siswi SD, guru/dosen, mahasiswa/i dan masyarakat umum serta seorang presenter TV swasta, Jemmy Darusman. Tulisan ini tidak akan menjelaskan tentang definisi PK LPDP dan apapun penjelasan terkait tentangnya, tulisan ini murni saya persembahkan untuk teman-teman Pranawa Cita PK-80 LPDP yang ingin tahu gimana acara Closing bisa semerepotkan kemarin :-p Terima kasih atas kontribusi kalian semua yang luwaarrrrr biasya! Pranawa Cita….Generasi Pelita Harapan Bangsa (masih hafal ternyata).

Divisi Closing Pranawa Cita memulai diskusi online jauh sebelum PK dimulai, jauh sebelum kami saling bertemu muka satu sama lain. Saya sendiri termasuk yang memilih berada di Closing karena merasa punya suatu hal yang saya bisa untuk salah satu kegiatan Closing (yang pada saat Closing nantinya saya merasa salah pilih “pekerjaan” hahaha). Sebagai bentuk awal diskusi online, kami memilih PIC, orang yang bertanggung jawab penuh terhadap rangkaian acara yang ada di Closing. Seperti biasa, setiap orang (kayaknya) berusaha menghindari posisi mulia ini, yekaaann?? Hahahaha. Dan memang dari belasan orang di Closing, enggak ada satupun yang menawarkan diri menjadi PIC divisi (termasuk saya sendiri yang lebih memilih “ngumpet” sampai situasi aman, hahaha) sampai kemudian muncullah sosok Mba Thia yang mau menjadi PIC. Konon katanya, Mba Thia ini menjadi PIC Closing demi berjalannya PK 80, kalau sampai gak ada PIC beneran kan PK ga bisa berjalan. Tapi sayangnya (kalau versi Mba Thia si ‘tapi alhamdulillahnya’), Mba Thia ini cuma bertahan beberapa hari karena beliau sadar tidak bisa mobile karena faktor pekerjaan dan masih punya bayi sedangkan salah satu syarat menjadi PIC Closing adalah bisa mobile saat Pra PK, paling tidak bisa ke lokasi di mana acara Closing kami akan diselenggarakan. Masuk akal lah ya, gimana mau bikin acara kalau ketua panitia tidak tahu medan acara. 😀

Lalu posisi Mba Thia digantikan oleh Willy Suryawan. Yang agak mengagetkan ternyata si Willy ini domisili di Batam, dia seorang dokter di RS swasta di sana (gak boleh sebut merk karena gak ada royalty). Keren banget karena dia sengaja meluangkan waktu sekitar seminggu di Jakarta dan Depok untuk ngurusin Closing ini. Insting saya mengatakan acara pasti sukses kalau ada orang yang rela berkorban macam ini, hahaha.

Dibawah arahan Willy (yang sudah mendapatkan arahan duluan dari perwakilan PK 80 dan Tim PK), kami merencanakan kegiatan dengan tema utama Guru karena PK-80 ini konon menurut data 80% anggotanya merupakan dosen dan guru (termasuk saya). Singkat cerita, kegiatan kami dibagi menjadi dua yakni acara indoor dan outdoor. Kegiatan indoor meliputi IELTS workshop and Simulation (pkl 8-12), dilanjutkan dengan Public Speaking Class with Jemmy Darusman untuk guru-guru (pkl 13-15). Saya cukup “beruntung” menjadi PIC acara indoor ini dibantu Mba Thia sbg PIC khusus Public Speaking 😀 Lalu kegiatan outdoor terdiri dari acara panggung hiburan (PIC Emilda), pemeriksaan telinga anak SD yang bekerja sama dengan Komnas PGPKT (PIC dr Deas, kalau mau tau singkatan PGPKT tanya Deas ya? :-D), dan lomba menggambar dan mewarnai (PIC Mas Fuad). Yang paling We O We dari semua kegiatan adalah pemeriksaan telinga anak SD karena syaratnya adalah peserta yang harus berjumlah 250-500 anak. PR banget kan di mana mencari anak sebanyak itu dan ditambah PR lagi bagaimana mengakomodir mereka. Bayangan kerja keras tim Closing mulai terbayang sambil mikir dalam hati, “Gue salah masuk divisi gak sih nih, kayaknya serius banget ini kerjanya?” #ups

Lalu tibalah saya bertemu rekan-rekan Pranawa Cita di Wisma Hijau Cimanggis Depok di H-3 pelaksanaan PK. Ketemulah saya dengan PIC Closing si dr Willy dan orang dibalik layar yang selalu rajin membantu Willy ke sana ke mari (karena dia cuma punya dua pilihan: kerja keras atau kembali PK-less #ups) si dr Deas. Rupanya mereka bekerja di rumah sakit yang sama di Batam. Dan rupanya juga atasan mereka itu…….ah sudahlah, kembali ke acara Closing 😛

Hari pertama kedatangan kami di Cimanggis diawali dengan kenal-kenalan, belum berani ceng-cengan kalau belum terlalu kenal, kan? Lalu kami diarahkan untuk mendatangi beberapa SDN yang ada di sekitar Wisma Hijau untuk kami undang di acara pemeriksaan telinga secara gratis. Saya menawarkan diri untuk pergi ke beberapa ke SDN ini karena saya punya kemampuan yang cukup oke (ehem) dalam hal mempengaruhi orang lain (ternyata berdasar tes kepribadian saya adalah seorang campaigner, haha, gak penting). Saya pergi ke SDN Susukan (ada 4 SDN di sana) ditemani Mba Thia dan Sisca, si anak perwakilan PK-80.

Kami memulai dari SDN ……. (nama dan angka tidak disebut ya, ra-ha-si-a, haha) untuk menemui kepala sekolahnya. Kebetulan bapak kepsek sedang ada di ruangan dan langsung menerima kami di pintu masuk. Saya menyampaikan maksud kedatangan dan langsung mendapat jawaban yang tidak ingin kami dengar (baca: ditolak lah, sedih). Jujur, mental sedikit turun. Gimana mau nyari minimal 250 anak kalau ternyata ada juga sekolah yang tidak ingin berpartisipasi? Gimana kalau semua sekolah menolak semua? Haiz, kami melanjutkan perjalanan ke sekolah lain sambil kembali berpikir positif. Ternyata memang SDN lain yang kami datangi hari itu semua menyambut positif dan kami bisa dapat sekitar 100 anak dari sekolah-sekolah tersebut. Keesokan hari kami harus mencari sekolah lain untuk menggalang massa minimal 250 anak.

Keesokan harinya saya ditemani dr Deas menuju sekolah lain di sekitar Wisma Hijau. Niat awal kami mau naik Gojek aja biar ngirit (ehem). Tapi namanya rejeki mah ada aja yak, tiba-tiba pas banget hari H ada anggota Closing terbaru yang menawarkan diri mengantar kami ke sekolah-sekolah (yang pada akhirnya ke mana-mana sih). Namanya rejeki kan gak boleh ditolak ya (ups), lalu saya dan Deas pergi ke beberapa sekolah dengan diantar anggota PK-80 yang merupakan seorang polisi, yass, si Pak Bro Yunnus. Sehari itu (dan hari selanjutnya sih), pak polisi kita beralih fungsi menjadi tim pengantar (mau dibilang chauffeur kok gak enak ya, hahaha). Aman nyaman sentausalah Tim Closing PK-80 😛 Daaann, hari kedua peredaran saya dan Deas membuahkan hasil fantastis. Kami mendapatkan perkiraan hampir 400 anak yang akan datang di pemeriksaan telinga nanti. Lalu apa yang ada di kepala saya, “Busyet, PR lagi nih ngangkut mereka ke Wisma Hijau.” Dipikirin ntar deh, semoga duit cukup buat ngangkotin mereka. Gleg….

Kami tim PICs Closing mengikuti rangkaian kegiatan PK dengan khidmat dan khusyuk di hari pertama sampai suatu ketika kekhusyukan kami terganggu akan adanya masalah yang menimpa kegiatan pemeriksaan telinga di hari pertama PK (H-4 Closing Acticity). Jadi tim kami melakukan kesalahan, walaupun sepele tapi fatal, dan harus segera diluruskan mengingat kami punya peserta anak SD lebih dari 500 saat itu. Gak mungkin banget batal. Lalu si dr Willy minta ijin meninggalkan PK di hari kedua untuk meluruskan kesalahpahaman dengan tim PGPKT dengan menemui dr Dama di RS MMC Kuningan Jakarta. Perjuangan Willy di luar sana kami iringi doa dari area Wisma Hijau (hasseekk).

Malamnya kami kemudian meeting membicarakan masalah tersebut dan mempersiapkan back up plans.Gila aja kan udah capek-capek kepanasan dan kelaparan blusukan nyari massa ampe dapet 500 an anak trus harus batal begitu saja, gak terima! #drama #abaikan

Alhamdulillah, miskomunikasi sudah terselesaikan dengan baik, hanya saja keberlangsungan acara pemeriksaan telinga tetap terancam karena banyak dokter spesialis THT yang tidak bisa hadir di acara kami. Demi suksesnya acara, kamipun sepakat untuk menurunkan semua dokter di PK-80 yang berjumlah 8 orang untuk langsung melakukan pemeriksaan. Karena kedelapan dokter itu adalah dokter umum (ya kalau udah spesialis gak bakal di PK juga kayaknya, haha), mereka diminta datang ke RS Khusus THT Proklamasi menemui dokter spesialis THT untuk diajarkan teknis pemeriksaan telinga (duh saya gak bisa menjelaskan detail bagian ini, awam euy). Untuk kedua kalinya si Willy meninggalkan PK dan kali ini beserta tiga dokter lainnya. Mereka bertemu dr Habli untuk teknis pemeriksaan telinga di sana.

Akhirnya, seperti yang sudah kita lewati bersama, acara Closing kita sangat meriah dengan menghadirkan lebih dari 500 pengunjung (anggota PK-80 aja udah 128, kebayang kan hebohnya kayak apa?). Bahkan menurut data tim THT, ada hampir 700 peserta yang telat diperiksa. Entah mana yang bener pokoknya ada ratusan pengunjung deh 😀

Masalah Divisi Closing PK bukan hanya di pemeriksaan THT yang melibatkan ratusan siswa dan pihak sekolah serta dokter spesialis THT dari PGPKT. Masing-masing acara punya drama dan masalah yang sempet membuat kepala cenat cenut sambil kesel-kesel sebel tapi gak tau sama siapa, hahaha. Semua masalah merupakan kejadian natural suatu kegiatan. Gak mungkin banget ada kegiatan tanpa ada masalah dan dari masalah tersebutlah kita banyak belajar berkehidupan.

Masih inget ketika ada masalah salah paham dengan Bang Jemmy sampai akhirnya Willy turun tangan menyelesaikan dan sempet membuat Mba Thia cenat cenut semalam memikirnya. Gak bakal lupa juga ketika ngeprin dan fotocopy booklet IELTS dan ternyata sia-sia karena miskoordinasi baik dengan anggota tim Closing sendiri maupun dengan abang fotocopy, eerrrr…ratusan lembar kertas terbuang sia-sia (sebagai environmentalist yang sealiran dengan Leo DiCaprio saya sediih melihat kertas ituuu). Trus juga soal crayon untuk lomba mewarnai yang paling pertama kami “beli” di Gramedia Depok dengan dianter Pak Bro Yunnus, tapi H-1 baru sadar kalau crayonnya justru yang enggak ada di tas belanja, sungguh, adakah yang lebih bodoh dari gue dan Deas saat itu???

Tentunya masih banyak sekali cerita-cerita bodoh dan konyol dari Divisi Closing dalam mempersiapkan acara penutupan PK-80. Mungkin yang paling syedih adalah gak adanya orang yang menengok aula saat konsentrasi acara memang di outdoor (kecuali tim dokumentasi yang memotret saya dan peserta simulasi IELTS, yeay!). Bahkan ajaibnya, saya kehilangan asisten yang seharusnya membantu saya di aula, Ganaaaaang, kamu ke manaaa???? Hahhaha, maap curhattt.

Bagi kebanyakan anggota Pranawa Cita, PK sudah selesai, bagi saya dan dr Reyhan (dan beberapa dokter lainnya), PK masih meninggalkan imbas. Yass, saat menulis ini, sebenarnya ada kabar dari kepsek sebuah MIT di Depok jika ada dua muridnya bermasalah dengan telinganya setelah pemeriksaan telinga, jadi dr Reyhan berencana melakukan visit esok hari (Jum’at). Dan saya sendiripun pun sedang berusaha tabah  melakukan scoring IELTS simulasi  daaaann dilanjutkan dengan mengirim SMS hasilnya ke para peserta yang berjumlah 30. Ada yang tau caranya SMS blast biar saya gak lelah ngetik nomor satu-satu? Bisa hubungi saya loh kalau ada yang bisa bantu ini, hahhahahaha.

Terima kasih Pranawa Cita. Our drowsy week stays forever in our hearts and heads, bukan begitu, bukan?? 😀

Jakbar coret, 13 Oktober 2016

Nunik Eka Sari

Advertisements

About nuncan

I have been traveling for so long and I have been lost for many times :-)

2 responses »

  1. Keyennn… semangat ya nunoy canteek.. sebagai info aja untuk sms blast ada caranya, tp kan ente mau kirim nilai yg beda2 tiap anak.. so, ya tetap berjuang kirim satu2 ya kakak guru. Sini ane bantu cek aja..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: