RSS Feed

Damn! I Love Teluk Kiluan

Posted on

Teluk Kulian Lampung adalah destinasi yang tidak asing bagi saya yang pernah mengunjunginya tahun 2010 lalu. Namun, saya tidak kehilangan antusiasme ketika temen-temen di klub motor yang bernama RICHS (ini bukan Bahasa Inggris ya, cuma singkatan aja) mengajak saya dan temen-temen lain untuk ke sana saat long weekend Mei awal lalu. Jadi ceritanya kami mau liburan bareng lagi sambil touring motor.

Bagi saya, touring motor ke Kiluan ini adalah kali pertama saya benar-benar merasakan perjalanan jarak jauh pakai motor. Sebelumnya, dengan kelompok motor yang sama, saya pernah merasakan touring dari Dieng menuju Jakarta. Hanya saja, touring saya berakhir di Tasikmalaya karena saya dan seorang teman lain nyambung naik bus menuju Jakarta, hehehe. Alesannya penting banget, karena kawan saya itu mesti kejar flight ke Lombok yang kalau mengikuti jadwal touring bisa beneran ketinggalan dia.

Dua jam pertama berada di atas motor menuju pelabuhan Merak, hati saya sangat kacho karena sebenernya saya ini sangat takut naik motor kalau gak nyetir sendiri. Bayangin aja, saya nyetir cuma 30-40 km, sedangkan dengan kelompok motor ini kan gak mungkin banget mereka berkecepatan 30-40 km. Alhasil, di jok belakang saya sibuk berdoa menenangkan diri sambil sedikit merutuki diri sendiri yang berada di situasi yang tidak saya sukai, hahaha!

Di perhentian SPBU Balaraja, saya dinasehati oleh sang RC (Road Captain). Dia kasih tau tentang apa-apa aja yang perlu diperhatikan sebagai boncenger seperti saya. Yang utama tentunya trust kepada rider. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa yang memboncengkan kita pasti bisa mengendalikan motornya dan kita tidak perlu khawatir karena kegrogian kita di jok belakang katanya berpengaruh ke rider (see? Bonceng motor aja butuh kepercayaan, apalagi menjalani hidup bersama, eyaaaaa). Lalu juga soal posisi duduk, jangan duduk yang menyebabkan melawan angin atau memberatkan si rider dalam mengendalikan motor. Kalau bisa, badan kita mesti ikuti ke mana arah liukan motor (I thank God yang boncengin saya gak pakai meliuk-liuk pisan motornya, hahaha).

Setelah beberapa nasehat teknis, saya memang agak lega dan rileks di atas motor, walaupun teteup yah, refleks hati adalah dzikir, hehehe. Mayanlah menambah amalan, kalau gak touring belum tentu loh bisa dzikir sebanyak dan selama ituh 😀

Ada satu kejadian konyol saat kami hampir sampai di Kiluan. Bagi yang pernah ke sana pasti tau betapa mengerikannya jalanan menuju ke sana. Kanan kiri jurang, jalanan terjal dan mendaki, jalanan rata tapi berlumpur. Sungguh, jika tak mengalami langsung, saya tidak akan pernah percaya kalau di Indonesia ada jalanan serusak itu dan masih banyak kendaraan melintas. 😦

Saat kami sedang nanjak di suatu jalan berbatu terjal, kanan kiri sangat gelap karena sudah lewat Magrib, hanya ada rombongan kami 4 motor yang lewat tempat itu. Tiba-tiba saja motor yang saya tumpangi agak terganjal sesuatu di roda depan mengakibatkan motor berjalan mundur. Karena saya punya trauma dengan motor, refleks saya adalah berusaha menapakkan kaki ke tanah agar tak jatuh. Tapi apa daya kaki tak sampai. Hanya sepatu kiri saya saja yang nyentuh tanah serta tertinggal dengan seluruh badan masih tetap di motor. Seluruh teman sudah tau mental saya soal naik motor, lalu mereka berlomba mendatangi saya dan mengambilkan sepatu saya (hahaha, I felt like a Cinderella). Gak semua sih, hanya ada dua temen cewek yang dengan baik hatinya turun dari boncengannya dan mengambilkan sepatu sebelah kiri saya yang tertinggal di bebatuan tanah lalu kemudian kami melanjutkan perjalanan sambil saya pura-pura kalem (padahaaaallll…). Gak ada yang ketawa saat itu karena semua sama-sama ngeri, takut berbagai hal buruk terjadi di kegelapan malam tepi jurang. Tapi sekarang, saya percaya kalau saat membaca ini, mungkin mereka senyum-senyum bodoh. Thank you for the Cinderella story, yaaa…

Setelah sampai desa Kiluan, kami disuguhi malam yang sangat syahdu dengan backsound deburan ombak. Cottage kami menginap pun terapung di atas air laut dengan dinding terbuat dari anyaman bambu sehingga cahaya yang masuk ke kamar ketika lampu dimatikan sungguhlah luar biasya! Rasanya perjuangan di atas motor menuju tempat ini lunas sudah di malam itu walaupun fasilitas kamar hanya selembar kasur di lantai yang harus kami bagi berempat. Ditambah lagi, sinyal di desa ini hanya bisa diakses oleh Simpati dan As. Kartu Halo sayapun tak berdaya di sini. Jadi, selama di Kiluan, kami semua benar-benar nyaris gadget-free dan hanya tertawa (ngetawain temen atau diketawain) untuk mengisi waktu.

Hari pertama di Kiluan, kami menuju samudera untuk melihat lumba-lumba. Bagi saya, lumba-lumba yang saya temui pagi itu tidak sebanyak dulu ketika saya pertama kali datang yang mana saya pernah melihat serombongan lumba-lumba sedang berlompatan. Saya tidak menghitung (yakali bisa diitung) tapi yang pasti berpuluh-puluh atau ratusan, banyakkkk banget nget! Setelah puas dengan lumba-lumba, kami didamparkan di Pulau Kiluan. Yes, didamparkan, karena si bapak nelayan benar-benar tidak menjemput kami untuk kembali ke cottage.

Setelah menurunkan kami di pulau, kami ditinggalkan begitu saja tanpa pesan. Bodohnya lagi, kami juga enggak ada yang tanya apa dijemput apa enggak, dijemput jam berapa oleh siapa; seolah udah pasti lah saat kami mau pulang perahu pasti datang, wong udah tugasnya kok. Bagai pepatah “untung tak dapat diraih, malang benar nasib ini”, baru turun dari perahu perut saya langsung bergejolak mules banget yang membuat saya benar-benar tidak menikmati pulau. Saya memutar otak gimana caranya bisa balik ke cottage di sebrang pulau mengingat di dalam pulau tidak ada toilet yang memadai. Setiap ada perahu yang datang, saya tanya apa bisa mengangkut saya ke cottage dan jawabnya hanya nelayan yang mengantar kita ke pulau yang akan menjemput kita kembali ke cottage. Klasik!

Tak lama, saya melihat perahu karet TNI AL menepi ke pulau. Karena dorongan keterpaksaan, saya bertanya ke bapak TNI apa bisa saya dan teman-teman numpang perahu karetnya ke cottage. Saya sebenernya pasrah aja kalau dijawab tidak. Kalau bapak nelayan aja bisa menolak kami, masa bapak TNI AL gak bisa? Hehhehe. Tapi di luar dugaan, bapak tersebut gak keberatan mengantar kami kembali asalkan kami bersedia menunggu beliau dan teman-teman makan. Wuiiihh, berasa nemu sepiring kwetiau goreng seafood saat kelaparan!

Setelah nunggu hampir satu jam, akhirnya kami diantar pulang ke cottage oleh bapak TNI AL itu dengan perahu karetnya. Dan bagi kami semua, pengalaman naik perahu karet itu adalah yang pertama (walaupun kami tinggal di Jakarta yang sering ada perahu karet ketika banjir, haha) sehingga norak-noraklah kami semua sepanjang perjalanan dari pulau menuju cottage. Ternyata beda banget naik perahu kayu dengan perahu karet, sensasi perahu karet lebih terasa, dan kami berasa lagi maen wahana di Dufan dengan pemandangan laut asli Teluk Kiluan, Lampung. 😀

Setelah sampai di penginapan, kami santai-santai menikmati hari dengan tiduran di hammock yang terpasang dengan pemandangan laut lepas. Sesekali kami tertawa, menertawai diri sendiri dan temen lain sambil menunggu sore hari menuju laguna yang terletak di balik bukit. Perjalanan menuju laguna sangatlah berat bagi mereka yang tidak suka jalan nanjak. Ketika sudah di pantai, untuk menuju ke laguna, kita benar-benar harus extra hati-hati karena jalanan penuh batu terjal dan sekaligus licin. Seru dan menantang. Sangat suka! 😀

Hari terakhir di Kiluan, kami kembali ke Pulau Kiluan. Kali ini saya bisa menikmati pulau karena mules-free, hahaha. Ternyata emang sungguh indah yah Pulau Kiluan. Gradasi warna pantainya super sekali walaupun hujan deras mengguyur kiluan dari selepas Magrib sampai larut malam sebelumnya. Sungguh potensi wisata di Teluk Kiluan ini luar biasa sekali, seluarbiasa jalanan menuju ke sini.

Setelah puas berfoto-foto sambil ketawa (entah ya, liburan itu isinya kok banyakan ketawa daripada kegiatan lain), kami berkemas kembali ke Jakarta setelah para cowok melakukan “ritual” ke motornya; cek ini dan itu agar perjalanan lancar dan selamat. Sebelum meninggalkan desa, kami menyempatkan diri berfoto di gerbang Kiluan yang sangat fenomenal itu.

Perjalanan pulang ke Jakarta menjadi suatu cerita lain dalam touring ke Pulau Sumatera ini. Tak disangka, kami bertemu dengan rombongan anak-anak SMA yang konvoi dengan baju seragam putih abu penuh coretan dari rambut hingga ujung kaki (kalau motor mereka adalah hasil keringat mereka sendiri, saya rasa motor mereka akan ikutan diwarnai deh).

Awalnya saat di wilayah tak jauh dari Kiluan, kami hanya melihat beberapa motor, tapi nyaris sepanjang jalan sampai Bandar Lampung, kami selalu berpapasan dengan mereka yang berkendara cenderung membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ternyata, puncak kehebohan massa anak SMA yang niatnya merayakan kelulusan itu justru ada di Bandar Lampung.

Tepat di suatu bundaran (mungkin semacam alun-alun ya, saya gak paham), telah berkumpul ratusan atau bahkan ribuan anak SMA dengan baju dan rambut penuh warna wara wiri gak jelas menuhin badan jalan tanpa menggunakan helm. Saya melihat satu mobil polisi yang terparkir di sekitar bundaran, tampak petugasnya sedang menertibkan anak SMA tersebut. Tapi apa daya 1 mobil patroli polisi berhadapan dengan anak puber yang berjumlah mungkin ribuan. Kami bener-bener bebas lepas dari rombongan “the chillies” setelah berada di jalan raya menuju pelabuhan yang mana itu sekitar empat-lima jam dari pertama kali kami ketemu rombongan “the chillies”! Luar biasa! Merayakan lulus SMA aja seperti itu, gimana nanti ngerayain lulus S2 dari universitas bergengsi di luar negeri????? Ah, mungkin anak-anak muda itu gak pernah berpikir sejauh ini. Kalau mereka mikir, niscaya mereka tidak akan separah itu merayakan kelulusan SMA 😦

Akhirnya kami tiba di pelabuhan Bakaheuni lebih awal dari prediksi dan sangat beruntung langsung menaiki kapal yang akan menuju Jakarta. Di kapal, kami beristirahat tiduran di deck luar, di samping bawah motor yang terparkir sambil melihat langit yang sedikit berbintang dan menikmati angin laut malam hari yang cukup dingin. Perjalanan yang “gue banget”; tidur yang tidak pakai kasur, berbantal tas ransel sambil sesekali ngomong “Aduh, gak bisa tidur nih gue,” atau “Aduh, kaki gue ga bisa selonjor, lo geser dikit dong.” Terima kasih Lampung, selamat datang kembali di Jakarta. 🙂

P.S.

FUNTASTIC Team, thank you for the hilarious story. Later when you cross your own path in different places and find hard times, you may check this piece of writing to remind you of our silly moments. And later after death if you can’t find me in Heaven, do ask the God and help me go to Heaven with you.

 

Advertisements

About nuncan

I like funny things.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: