RSS Feed

Ke Sirkuit? Why Not!

Posted on

Penggemar balap motor tentu punya mimpi untuk nonton balapan langsung di sirkuit. Beruntung, saya cukup nekad untuk mewujudkan mimpi kecil itu.

Awal tahun 2013, sahabat sejati saya, penggemar berat Valentino Rossi yang bernomor motor 46, menjejali saya dengan pembalap Italia yang udah veteran itu. Setiap chat, email, WA, apapun medianya selalu ngomongin Rossi dan kehebatannya di dunia balap motor MOTO GP. Lama-lama, saya penasaran dengan sosok Valentino. Mendengar cerita dan membaca link yang diberikan sahabat saya, Vale adalah manusia hebat yang membuat saya penasaran. Saya mulai mencoba nonton Moto GP di stasiun TV swasta pertengahan tahun 2013. Rasanya membosankan. Balap motor cuma muter-muter gak jelas dan kalau udah di depan pasti menang. Itulah yang ada di kepala saya saat itu. Sosok Valentino Rossi pun sangat jauh dari hebat. Sampai akhirnya balap Assen tahun 2013 dimenangkan Valentino dan entah mengapa sejak itu saya jadi suka nonton Moto GP. Saya mulai menemukan “excitement” balap motor yang tadinya saya anggap muter-muter gak jelas.

Sejak Assen 2013, saya mulai berpikir untuk nonton langsung di sirkuit. Alasan saya sederhana, pengen lihat aja Valentino Rossi itu orangnya seperti apa dan pastinya pengen lihat langsung seberapa cepat motor super cepat itu. Saat itu boro-boro saya tahu balap motor, yang saya tahu cuma Valentino, Marc Marquez, Pedrosa, dan Lorenzo. Sisanya saya sama sekali enggak tahu. Bahkan saya juga enggak tahu qualifikasi itu apa, free practice itu apa, fungsinya apa dll. saya sama sekali enggak paham, tapi teteup, pengen ke sirkuit. Sayapun mencari info ke Sepang International Circuit dan mencari pasukan ke sana—yang ternyata gampang dicari!

Tahun pertama nonton Moto GP tahun 2013, saya bersama 6 teman lain, sayangnya satu teman mendadak sakit pas hari H, jadilah teman saya cuma 5, plus saya jadi 6. Enam orang dari Jakarta menuju Sepang ternyata sangat seru! Walaupun sebenernya sayang sih tiket temen yang sakit hangus semua…

Kami membeli tiket pesawat Air Asia dengan harga PP hanya Rp.800,000. Hebatnya, saat saya berniat memebeli tiket GP, kami masih bisa mendapatkan harga early bird langsung di sepangcircuit.com. Dengan posisi di tikungan pertama (yang berbentuk seperti huruf S) kami hanya membayar sekitar Rp. 350.000. Sangat-sangat murah! Untuk tiga hari pula, dari hari Jum’at sampai Minggu. Dan untuk penginapan, kami mendapat tempat yang amat sangat murah di wilayah KL Sentral. Dengan menyewa satu kamar berisi 4 orang, kami masing-masing hanya membayar Rp. 80.000,- per malam. Kamarnya AC pula. Okey banget kan?

Nah, karena lokasi sirkuit ada di Sepang, sangat jauh dari KL Sentral, kira-kira 1 jam 15 menit dengan bis, kami perlu public transport untuk mengangkut kami ke sana. Setelah menyusuri dunia maya, akhirnya saya menemukan sebuah bis yang memang dikhususkan untuk mengangkut penggemar Moto GP dari KL Sentral ke Sepang. Biayanya pun terjangkau, cuma sekitar Rp. 110.000,- PP. Kalau sekali jalan mahal, Rp 66.000,-. Selain dari KL Sentral, bis khusus Moto GP juga ada di KLCC dan KLIA 2 (Bandara Budget Airline). Biaya dari KLCC sama kek dari KL Sentral, kalau dari KLIA 2 ke sirkuit Sepang cuma Rp. 37.000,- dengan waktu tempuh cuma 15 menit. Sayang sih, mendingan naik dari jauh sekalian hehe.

Saya cukup kagum dengan Malaysia karena Moto GP ini sangat mudah dijangkau berbagai kalangan. Saya pikir awalnya ribet dan membingungkan dan mahal, ternyata semua mudah dan menyenangkan. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika berada di dalam bis menuju sirkuit. Selama perjalanan 1 jam 15 menit itu, kuping kita dimanjakan dengan bahasa dari berbagai penjuru dunia. Ada Bahasa Inggris dengan berbagai aksen, lalu terdengar pula Bahasa Spanyol, Bahasa Belanda, Mandarin (ini mah di mana-mana kayaknya yah, hehe), Bahasa Portugis (ngasal sih, saya ga tau bahasa ini berbunyi gimana), Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dll yang saya gak kenal sama sekali bunyinya. Saat itu adalah saat saya merasa menaiki bis terkeren di seluruh dunia, saya merasa sedang di bis PBB, hehehehe.

Di sirkuit, pengunjung GP disuguhi berbagai acara yang memungkinkan mereka bertemu pembalap idola, dari sesi Pit Lane Walk (mengunjungi garasi pembalap), autograph session (sesi tanda tangan rider Moto GP), sampai kemunculan pembalap di booth pabrikan motor yang dibelanya. Karena baru pertama kali, saya enggak tahu ada acara semacam itu dan terlewatlah acara sesi tanda tangan. Beruntungnya, saya dan satu teman (teman yang lain jalan-jalan ke KL karena disangka di sirkuit begitu-begitu aja) bisa ikut Pit Lane Walk yang memungkinkan saya melihat Rossi secara langsung! Yaaa walaupun cuma semenit tapi paling tidak saya udah melihatnya langsung, hehehe. Dan di kesempatan lain, saya puasss mangkal di booth Ducati sambil memelototi pembalapnya Andrea Dovisioso (saya tahun lalu sama sekali gak tahu kalau dia pembalap Moto GP) yang bagi-bagi poster plus tanda tangannya. Karena saya enggak butuh posternya, saya hadiahkan ke sahabat saya yang memperkenalkan saya dengan Moto GP ini, hehehe.

Keseruan nonton di Sepang tahun 2013 membuat saya makin gila dengan Moto GP. Tahun 2014 ini saya dan teman yang sama niat nonton lagi. Kali ini cuma berdua karena teman-teman yang lain pada gak bisa nonton. Apesnya, kami berdua terlanjur kepedean setengah dewa bahwa harga early bird bisa kami dapatkan di bulan yang sama dengan tahun sebelumnya, yakni maksimal pembelian 31 Juli. Pas ngecek harga bulan April (atau Mei ya, lupa) ternyata hanya ada satu harga. Saya pun mengirim email ke admin untuk menanyakan harga early bird. Bagai dihantam badai di siang bolong, kami terhenyak karena early bird udah gak berlaku semenjak akhir Januari (untuk situs motogp.com) dan Maret (atau April yah, lupa lagi) untuk situs sepangcircuit.com. Aaahh, rasanya nyeseeelll banget. Tapi dasar udah gila, kami beli juga tiket harga normal itu setelah membanding-bandingkan harga di berbagai situs penjualan tiket. Saya sangat termotivasi karena ada tribun khusus penggemar Valentino Rossi di GP Sepang. Setiap pembelian tiket, kami akan mendapat bendera kuning berangka 46 dan topi kuning berangka sama. Okelah untuk harga sekitar Rp 800.000 di spot yang sama seperti tahun sebelumnya. Penginepan, airline yang digunakan, semuanya sama dengan tahun lalu. Bedanya tahun ini lebih terencana jadi kami gak gembel-gembel amat di Negara tetangga, hehehehe..

Ayoklah yang pada menggemari nonton Moto GP melipir ke sirkuit sebelah. Kalau punya rejeki lebih bisa menclat ke sirkuit terindah Philip Island…. *lalu menutup tulisan ini dengan do’a agar tahun depan bisa nonton Moto GP di PI*

Advertisements

About nuncan

I have been traveling for so long and I have been lost for many times :-)

One response »

  1. Moto GP di PI..
    PI..
    PI Pondok Indaaahh?
    hahahaha..
    Smg tercapai yaaa nntn ke PInya taun depan 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: