RSS Feed

Damn! I Love Teluk Kiluan

Posted on

Teluk Kulian Lampung adalah destinasi yang tidak asing bagi saya yang pernah mengunjunginya tahun 2010 lalu. Namun, saya tidak kehilangan antusiasme ketika temen-temen di klub motor yang bernama RICHS (ini bukan Bahasa Inggris ya, cuma singkatan aja) mengajak saya dan temen-temen lain untuk ke sana saat long weekend Mei awal lalu. Jadi ceritanya kami mau liburan bareng lagi sambil touring motor.

Bagi saya, touring motor ke Kiluan ini adalah kali pertama saya benar-benar merasakan perjalanan jarak jauh pakai motor. Sebelumnya, dengan kelompok motor yang sama, saya pernah merasakan touring dari Dieng menuju Jakarta. Hanya saja, touring saya berakhir di Tasikmalaya karena saya dan seorang teman lain nyambung naik bus menuju Jakarta, hehehe. Alesannya penting banget, karena kawan saya itu mesti kejar flight ke Lombok yang kalau mengikuti jadwal touring bisa beneran ketinggalan dia.

Dua jam pertama berada di atas motor menuju pelabuhan Merak, hati saya sangat kacho karena sebenernya saya ini sangat takut naik motor kalau gak nyetir sendiri. Bayangin aja, saya nyetir cuma 30-40 km, sedangkan dengan kelompok motor ini kan gak mungkin banget mereka berkecepatan 30-40 km. Alhasil, di jok belakang saya sibuk berdoa menenangkan diri sambil sedikit merutuki diri sendiri yang berada di situasi yang tidak saya sukai, hahaha!

Di perhentian SPBU Balaraja, saya dinasehati oleh sang RC (Road Captain). Dia kasih tau tentang apa-apa aja yang perlu diperhatikan sebagai boncenger seperti saya. Yang utama tentunya trust kepada rider. Kita harus percaya sepenuhnya bahwa yang memboncengkan kita pasti bisa mengendalikan motornya dan kita tidak perlu khawatir karena kegrogian kita di jok belakang katanya berpengaruh ke rider (see? Bonceng motor aja butuh kepercayaan, apalagi menjalani hidup bersama, eyaaaaa). Lalu juga soal posisi duduk, jangan duduk yang menyebabkan melawan angin atau memberatkan si rider dalam mengendalikan motor. Kalau bisa, badan kita mesti ikuti ke mana arah liukan motor (I thank God yang boncengin saya gak pakai meliuk-liuk pisan motornya, hahaha).

Setelah beberapa nasehat teknis, saya memang agak lega dan rileks di atas motor, walaupun teteup yah, refleks hati adalah dzikir, hehehe. Mayanlah menambah amalan, kalau gak touring belum tentu loh bisa dzikir sebanyak dan selama ituh😀

Ada satu kejadian konyol saat kami hampir sampai di Kiluan. Bagi yang pernah ke sana pasti tau betapa mengerikannya jalanan menuju ke sana. Kanan kiri jurang, jalanan terjal dan mendaki, jalanan rata tapi berlumpur. Sungguh, jika tak mengalami langsung, saya tidak akan pernah percaya kalau di Indonesia ada jalanan serusak itu dan masih banyak kendaraan melintas.😦

Saat kami sedang nanjak di suatu jalan berbatu terjal, kanan kiri sangat gelap karena sudah lewat Magrib, hanya ada rombongan kami 4 motor yang lewat tempat itu. Tiba-tiba saja motor yang saya tumpangi agak terganjal sesuatu di roda depan mengakibatkan motor berjalan mundur. Karena saya punya trauma dengan motor, refleks saya adalah berusaha menapakkan kaki ke tanah agar tak jatuh. Tapi apa daya kaki tak sampai. Hanya sepatu kiri saya saja yang nyentuh tanah serta tertinggal dengan seluruh badan masih tetap di motor. Seluruh teman sudah tau mental saya soal naik motor, lalu mereka berlomba mendatangi saya dan mengambilkan sepatu saya (hahaha, I felt like a Cinderella). Gak semua sih, hanya ada dua temen cewek yang dengan baik hatinya turun dari boncengannya dan mengambilkan sepatu sebelah kiri saya yang tertinggal di bebatuan tanah lalu kemudian kami melanjutkan perjalanan sambil saya pura-pura kalem (padahaaaallll…). Gak ada yang ketawa saat itu karena semua sama-sama ngeri, takut berbagai hal buruk terjadi di kegelapan malam tepi jurang. Tapi sekarang, saya percaya kalau saat membaca ini, mungkin mereka senyum-senyum bodoh. Thank you for the Cinderella story, yaaa…

Setelah sampai desa Kiluan, kami disuguhi malam yang sangat syahdu dengan backsound deburan ombak. Cottage kami menginap pun terapung di atas air laut dengan dinding terbuat dari anyaman bambu sehingga cahaya yang masuk ke kamar ketika lampu dimatikan sungguhlah luar biasya! Rasanya perjuangan di atas motor menuju tempat ini lunas sudah di malam itu walaupun fasilitas kamar hanya selembar kasur di lantai yang harus kami bagi berempat. Ditambah lagi, sinyal di desa ini hanya bisa diakses oleh Simpati dan As. Kartu Halo sayapun tak berdaya di sini. Jadi, selama di Kiluan, kami semua benar-benar nyaris gadget-free dan hanya tertawa (ngetawain temen atau diketawain) untuk mengisi waktu.

Hari pertama di Kiluan, kami menuju samudera untuk melihat lumba-lumba. Bagi saya, lumba-lumba yang saya temui pagi itu tidak sebanyak dulu ketika saya pertama kali datang yang mana saya pernah melihat serombongan lumba-lumba sedang berlompatan. Saya tidak menghitung (yakali bisa diitung) tapi yang pasti berpuluh-puluh atau ratusan, banyakkkk banget nget! Setelah puas dengan lumba-lumba, kami didamparkan di Pulau Kiluan. Yes, didamparkan, karena si bapak nelayan benar-benar tidak menjemput kami untuk kembali ke cottage.

Setelah menurunkan kami di pulau, kami ditinggalkan begitu saja tanpa pesan. Bodohnya lagi, kami juga enggak ada yang tanya apa dijemput apa enggak, dijemput jam berapa oleh siapa; seolah udah pasti lah saat kami mau pulang perahu pasti datang, wong udah tugasnya kok. Bagai pepatah “untung tak dapat diraih, malang benar nasib ini”, baru turun dari perahu perut saya langsung bergejolak mules banget yang membuat saya benar-benar tidak menikmati pulau. Saya memutar otak gimana caranya bisa balik ke cottage di sebrang pulau mengingat di dalam pulau tidak ada toilet yang memadai. Setiap ada perahu yang datang, saya tanya apa bisa mengangkut saya ke cottage dan jawabnya hanya nelayan yang mengantar kita ke pulau yang akan menjemput kita kembali ke cottage. Klasik!

Tak lama, saya melihat perahu karet TNI AL menepi ke pulau. Karena dorongan keterpaksaan, saya bertanya ke bapak TNI apa bisa saya dan teman-teman numpang perahu karetnya ke cottage. Saya sebenernya pasrah aja kalau dijawab tidak. Kalau bapak nelayan aja bisa menolak kami, masa bapak TNI AL gak bisa? Hehhehe. Tapi di luar dugaan, bapak tersebut gak keberatan mengantar kami kembali asalkan kami bersedia menunggu beliau dan teman-teman makan. Wuiiihh, berasa nemu sepiring kwetiau goreng seafood saat kelaparan!

Setelah nunggu hampir satu jam, akhirnya kami diantar pulang ke cottage oleh bapak TNI AL itu dengan perahu karetnya. Dan bagi kami semua, pengalaman naik perahu karet itu adalah yang pertama (walaupun kami tinggal di Jakarta yang sering ada perahu karet ketika banjir, haha) sehingga norak-noraklah kami semua sepanjang perjalanan dari pulau menuju cottage. Ternyata beda banget naik perahu kayu dengan perahu karet, sensasi perahu karet lebih terasa, dan kami berasa lagi maen wahana di Dufan dengan pemandangan laut asli Teluk Kiluan, Lampung.😀

Setelah sampai di penginapan, kami santai-santai menikmati hari dengan tiduran di hammock yang terpasang dengan pemandangan laut lepas. Sesekali kami tertawa, menertawai diri sendiri dan temen lain sambil menunggu sore hari menuju laguna yang terletak di balik bukit. Perjalanan menuju laguna sangatlah berat bagi mereka yang tidak suka jalan nanjak. Ketika sudah di pantai, untuk menuju ke laguna, kita benar-benar harus extra hati-hati karena jalanan penuh batu terjal dan sekaligus licin. Seru dan menantang. Sangat suka!😀

Hari terakhir di Kiluan, kami kembali ke Pulau Kiluan. Kali ini saya bisa menikmati pulau karena mules-free, hahaha. Ternyata emang sungguh indah yah Pulau Kiluan. Gradasi warna pantainya super sekali walaupun hujan deras mengguyur kiluan dari selepas Magrib sampai larut malam sebelumnya. Sungguh potensi wisata di Teluk Kiluan ini luar biasa sekali, seluarbiasa jalanan menuju ke sini.

Setelah puas berfoto-foto sambil ketawa (entah ya, liburan itu isinya kok banyakan ketawa daripada kegiatan lain), kami berkemas kembali ke Jakarta setelah para cowok melakukan “ritual” ke motornya; cek ini dan itu agar perjalanan lancar dan selamat. Sebelum meninggalkan desa, kami menyempatkan diri berfoto di gerbang Kiluan yang sangat fenomenal itu.

Perjalanan pulang ke Jakarta menjadi suatu cerita lain dalam touring ke Pulau Sumatera ini. Tak disangka, kami bertemu dengan rombongan anak-anak SMA yang konvoi dengan baju seragam putih abu penuh coretan dari rambut hingga ujung kaki (kalau motor mereka adalah hasil keringat mereka sendiri, saya rasa motor mereka akan ikutan diwarnai deh).

Awalnya saat di wilayah tak jauh dari Kiluan, kami hanya melihat beberapa motor, tapi nyaris sepanjang jalan sampai Bandar Lampung, kami selalu berpapasan dengan mereka yang berkendara cenderung membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ternyata, puncak kehebohan massa anak SMA yang niatnya merayakan kelulusan itu justru ada di Bandar Lampung.

Tepat di suatu bundaran (mungkin semacam alun-alun ya, saya gak paham), telah berkumpul ratusan atau bahkan ribuan anak SMA dengan baju dan rambut penuh warna wara wiri gak jelas menuhin badan jalan tanpa menggunakan helm. Saya melihat satu mobil polisi yang terparkir di sekitar bundaran, tampak petugasnya sedang menertibkan anak SMA tersebut. Tapi apa daya 1 mobil patroli polisi berhadapan dengan anak puber yang berjumlah mungkin ribuan. Kami bener-bener bebas lepas dari rombongan “the chillies” setelah berada di jalan raya menuju pelabuhan yang mana itu sekitar empat-lima jam dari pertama kali kami ketemu rombongan “the chillies”! Luar biasa! Merayakan lulus SMA aja seperti itu, gimana nanti ngerayain lulus S2 dari universitas bergengsi di luar negeri????? Ah, mungkin anak-anak muda itu gak pernah berpikir sejauh ini. Kalau mereka mikir, niscaya mereka tidak akan separah itu merayakan kelulusan SMA😦

Akhirnya kami tiba di pelabuhan Bakaheuni lebih awal dari prediksi dan sangat beruntung langsung menaiki kapal yang akan menuju Jakarta. Di kapal, kami beristirahat tiduran di deck luar, di samping bawah motor yang terparkir sambil melihat langit yang sedikit berbintang dan menikmati angin laut malam hari yang cukup dingin. Perjalanan yang “gue banget”; tidur yang tidak pakai kasur, berbantal tas ransel sambil sesekali ngomong “Aduh, gak bisa tidur nih gue,” atau “Aduh, kaki gue ga bisa selonjor, lo geser dikit dong.” Terima kasih Lampung, selamat datang kembali di Jakarta.:-)

P.S.

FUNTASTIC Team, thank you for the hilarious story. Later when you cross your own path in different places and find hard times, you may check this piece of writing to remind you of our silly moments. And later after death if you can’t find me in Heaven, do ask the God and help me go to Heaven with you.

 

Sebongkah Cerita dari Koh Larn

Posted on
Saat balik ke Pattaya hujan deras banget. Beruntung perjalanan selamat, agak mengerikan.

Saat balik ek Pattaya hujan deras banget. Beruntung perjalanan selamat, agak mengerikan.

IMG-20121111-00446

Di ujung sana ada pantai yang indaaahhh banget

IMG-20121111-00387

Peta Koh Larn

 

 

 

 

 

 

 

Kalau saya menyebut Pattaya, pasti banyak yang sudah tau. Meskipun belum pernah ke Pattaya (saya juga belum, haha), tapi paling enggak sering denger. Nah, saya memang belum pernah ke Pattaya, cumaaaaa, saya pernah lewat. Nah loh, mungkin pada bertanya, “Emang ke mana saya pergi kok Pattaya cuma dilewatin doang tanpa dijelajahi? Kan Pattaya eksotis dan terkenal di seluruh dunia?” Hehehe. Jawabannya adalah karena saya lebih tertarik ke sebuah pulau di sebrang Pattaya. Namanya Koh Larn, ada juga yang menyebut Kah Larn. Saya sendiri bingung yang mana nama sebenarnya. Mungkin ada yang tau?:-)

Semua berawal dari solo traveling saya tahun 2012 lalu ke Bangkok dan Phuket. Saat di Bangkok, ada dua orang yang bersedia menjadi teman jalan selama weekend (mereka warga lokal) dan mereka mengajak saya ke Koh Larn itu. Mereka tidak mengajak saya ke Pattaya karena mereka enggak nyaman di sana, suka ada yang usil katanya, hehehe. Selain itu, saya juga tidak begitu menyukai tempat yang turistis, jadi saya demen-demen banget diajak ke Koh Larn. Ada apa di Koh Larn, bagaimana ke sana, berikut cerita yang saya ingat…

Dari Bangkok, kita bisa naik mini van/bis ke Pattaya dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 2-3 jam, tergantung cara nyetir😀. Lalu di Pattaya kita bisa langsung naik ferry nyebrang ke Koh Larn selama 20-40 menit, kali ini tergantung keadaan ombak😀. Jadwal keberangkatan ferry ini menurut saya cukup sering. Saya lupa pastinya tiap berapa jam sekali, tapi gak lama-lama banget kok. Jadwal pastinya tersaji di papan pengumuman, jadi kita bisa memilih dan memperkirakan sendiri. Perjalanan dengan ferry menuju Koh Larn terbilang menyenangkan karena kita bisa memandang pantai Pattaya sambil menjauhinya. Hiruk pikuk kehidupan pinggir pantai wisata dunia terlihat dari kejauhan, dari tengah laut. Menyenangkan!

Koh Larn merupakan sebuah pulau kecil dengan beberapa pantai yang cantik-cantik. Karena letaknya yang relatif dekat dengan pusat kota Bangkok, pulau ini sangat ramai kalau weekend. Kita harus memesan akomodasi beberapa hari sebelumnya untuk memastikan kita mendapat penginapan. Harga penginapan bervariasi tergantung fasilitas. Saya waktu itu mendapat sekitar 600 Bath/hari. Harga itu bisa lebih murah kalau pas weekdays. Sebenarnya menurut beberapa orang lokal, saat di perahu kadang ada yang nawarin akomodasi. Tapi kalau lagi musim liburan sih mending mastiin udah dapet akomodasi dulu daripada terpaksa pulang. Bisa sih pulang pergi, tapi sayang aja, hehehe. Oiya, kalau mesen akomodasi sebaiknya yang AC karena kalau Angin Cendela beneran panas deh😦

Koh Larn merupakan kepulauan wisata yang ternyata cukup turistik meskipun tidak seperti Pattaya. Yang paling menarik dari pulau ini adalah ketersediaan ojek dan rental motor. Bagusnya, tarif ojek sudah ditentukan secara resmi dan tertulis di papan yang besar jadi kita tidak perlu menawar harga atau takut dibohongi. Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah jam operasional ojek. Jangan sampai asik menikmati sunset di pantai lalu gak bisa balik ke penginapan karena gak ada lagi ojek, hehhee, kayak pengalaman saya waktu itu.

Sore itu saya memutuskan untuk ke sebuah pantai (lupa euy nama pantainya) seorang diri karena satu temen saya sakit perut banget dan temen satunya menemani di kamar. Saya lalu naik ojek dan membayar 40 Bath. Sampai di pantai memang sudah hampir waktunya sunset, jadi saya sengaja nunggu sampai matahari benar-benar hilang. Itulah bodohnya saya, suka bertindak tanpa mikir. Pas beneran udah gelap, saya keluar area pantai dan nyari ojek. Jantung berdesir lebih kencang setelah diberitahu kalau ojek udah gak beroperasi lagi. Ngek ngok. Mau nginep di mana coba di pantai terpencil itu. Pas lagi mikir tiba-tiba ada abang-abang nawarin anter ke penginepan. Sebenernya seneng banget, tapi agak takut karena mulutnya bau alkohol banget. Udah gelap, jalanan sepi, bukan orang situ pula, saya sebenernya agak ngeri nerima tawaran itu. Tapi kalau gak diterima ya saya bakal tinggal di mana pula? Sayapun harap-harap cemas menerima tawaran abang tersebut.

Perjalanan dimulai dengan wajar. Abang ojek itu tanya asal saya dari mana, ke Thailand ke mana aja, berapa lama, dll. Saya merasa senang karena dia lalu bercerita pernah ke Bali, katanya sangat indah. Saya merasa lebih tenang walaupun bau alkohol masih menyengat. Tapi secara tiba-tiba saat melewati sebuah tanjakan dengan kanan kiri bukit, sepi gak ada bangunan ataupun kendaraan lewat, gelap tanpa lampu jalan, dibonceng abang ojek yang gak saya kenal dengan bau alkohol menyengat, saya mendadak ngeri sendiri. Saya tidak tahu jalan, tidak hafal dari arah datang tadi sore karena saya disorientasi arah. Pikiran buruk melanda. Membayangkan saya yang seorang diri, cewe pula, dan bakal dijahatin orang yang boncengin saya ini membuat jantung berdebar lebih keras. Saya berusaha berpikiran positif walaupun pasti gampang sekali kalau mau jahatin saya saat itu. Diam-diam saya memanjaatkan doa dan pasrah di belakang abang ojek.

Akhirnya, saya mulai mengenali jalanan menuju penginapan dan syukur Alhamdulillah, abang ojek tadi walaupun berbau alkohol tapi tidak mabuk. Lalu saya segera turun dari motor sesaat setelah abang ojek berhentiin motornya. Sayapun membayar 40 bath. Tapi, tau apa yang abang ojek katakan? Something awesome that left me speechless. Saya lupa kalimat persisnya karena Bahasa Inggrisnya agak aneh (bisa juga kuping saya yang aneh sih, hahaha), intinya dia bukan tukang ojek jadi saya gausah bayar, dia cuma kasihan kalau saya gak bisa pulang ke penginepan, saya di pantai mau tidur di mana. Oh, My! Kaki saya langsung gemeter, orang semulia ini bisanya saya curigai macem-macem. Sambil masih gemeter saya setengah bungkuk mengucapkan terima kasih. Abang itupun pergi entah ke mana.

Koh Larn selain memiliki pemandangan yang menggiurkan ternyata juga mempunyai orang-orang yang berhati mulia. Hari kedua weekend itu saya benar-benar menikmati pulau tanpa rasa khawatir walaupun saya masih harus jalan-jalan sendiri karena teman saya masih sakit. Saya menjelajahi beberapa pantai yang terjangkau waktu di Minggu pagi sampai siang untuk sorenya langsung pulang ke Bangkok. Terima kasih, Koh Larn!

Pemandangan pantai yang saya lupa namanya..

Pemandangan pantai yang saya lupa namanya..

DSCF0437

Air hijaunya bikin ngeces dari jauh..

DSCF0450

Pemandangan di pulau saat menuju sebuah pantai (lagi-lagi lupa ini menuju pantai mana)

IMG-20121112-00507

Ini pemandangan harbour lah, hehe

IMG-20121111-00388

Peta Koh Larn dan daftar harga sewa ojek.

IMG-20121110-00375

Ini pemandangan meninggalkan Pattaya.

Menurut saya ini pantai terindah banget.

Menurut saya ini pantai terindah banget.

Pantai ini yang membuat saya kemaleman gak dapet ojek.

Pantai ini yang membuat saya kemaleman gak dapet ojek.

Dua temen saya warga Bangkok yang ikut. Sayangnya mereka tinggal di kamar karena salah satunya sakit.

Dua temen saya warga Bangkok yang ikut. Sayangnya mereka tinggal di kamar karena salah satunya sakit.

Jalanan menuju penginapan. Asik kayak di rumah sendiri :-)

Jalanan menuju penginapan. Asik kayak di rumah sendiri:-)

Airnya begini-begini warnanya. Nyegerin mata banget, kan?

Airnya begini-begini warnanya. Nyegerin mata banget, kan?

Peta Koh Larn

Peta Koh Larn

Ujung jalan sana ada pantai indah. Dari atas motor pun pemandangan laut sungguh indah...

Ujung jalan sana ada pantai indah. Dari atas motor pun pemandangan laut sungguh indah…

Gak tau ya, suka banget motoin jalan, hehehe

Gak tau ya, suka banget motoin jalan, hehehe

Panduan Nonton Moto GP ke Sepang

Posted on

Banyak yang bertanya pada saya gimana caranya bisa nonton Moto GP di Sepang. Ya caranya dengan pergi ke sana dong, kalau di Indonesia aja ya gak bisa nonton Moto GP di Sepang, hehehe. Menanggapi pertanyaan seputar nonton langsung ke Sepang berikut saya rangkumkan langkah-langkahnya agar yang belum pernah nonton langsung bisa segera ke sana. Aaammmiiinnnn. J

  1. Siapkan Paspor

Paspor adalah kunci terpenting untuk bisa nonton Moto GP Malaysia (Sepang). Jadi, buat yang belum tahu, Sepang adalah nama kota di Malaysia tempat diselenggarakannya Moto GP. Sirkuitnya disebut Sepang International Circuit. Biar gak kepanjangan, disingkat SIC. Nah, untuk bisa pergi ke sana, kita, warga negara Indonesia, wajib menunjukkan paspor sebagai identitas diri kita (gantinya KTP lah ya). Untuk yang belum punya paspor, silakan mendapatkannya di kantor imigrasi terdekat. Pendaftaran bisa melalui online di:  https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml

Buat yang udah punya paspor, perhatikan tanggal masa berlaku paspor. Pastikan paspor masih berlaku minimal enam bulan sebelum masa berlaku habis pada saat kita kembali ke tanah air. Oiya, untuk membeli tiket pesawat juga diperlukan paspor loh. Segera bikin ya bagi yang belum punya. Gak pernah rugi kok bikin paspor.😀

  1. Beli Tiket

Langkah berikutnya adalah membeli tiket, baik tiket pesawat maupun tiket Moto GP. Kalau kita punya modal tak terbatas, tentu tiket tidak jadi masalah. Nah, karena modal saya sangat terbatas, saya mengakali pembelian tiket agar enggak bikin saya sengsara, hehehe. Untuk tiket pesawat, saya menunggu promo dari maskapai. Bisa Air Asia (rutin promo tiap beberapa bulan), Malaysia Airlines, Garuda (terutama pas ada event Garuda Travel Fair), dan promo lainnya. Kuncinya adalah peka terhadap promo-promo tersebut, hehe. Sekedar bayangan, tiket promo ke Malaysia dengan Air Asia 800,000 IDR untuk Pergi-Pulang, dan Malaysia Airlines juga 800,000 IDR Pergi-Pulang. Kalau harga normal, mungkin sekitar 1.5 juta.

Selanjutnya adalah tiket Moto GP. Sangat disarankan untuk membeli tiket jauh-jauh hari (early bird) karena harganya beda banget, mungkin lebih murah 30-40 % (maaf saya gak ngitung tepatnya, pokoknya murah sangat). Tiket bisa dibeli online di sepangcircuit.com (mata uang Ringgit) atau motogp.com (mata uang Euro) atau bookmoto.com (lupa euy mata uang untuk transaksinya). Periode promo early bird tiap situs berbeda-beda, harap selalu ngecek situs bersangkutan. Batas early bird ada yang akhir Januari, akhir Mei, akhir Juni dll. Yang pasti kalau bulan Agustus-Oktober, udah harga normal.

Pembelian online biasanya dilakukan dengan kartu kredit, kalau belum punya, silakan apply ke bank terdekat (kok jadi kayak salesgirl gini?). Setelah transaksi online kita berhasil, kita akan dikirimi email berisi tiket dalam bentuk PDF. Lalu kita hanya mencetak tiket tersebut untuk kita tunjukkan ke petugas sirkuit sebagai tanda masuk. Kalau nyetak tiket pakai kertas bekas aja ya, gausah berwarna, nanti yang dibutuhkan hanya nomor referensi yang ada di tiket untuk di-scan doang lalu kita boleh masuk. Kalau mau beli tiket fisik, bisa dilakukan juga di beberapa tempat penjualan tiket di Indonesia. Setau saya dulu Raja Karcis pernah beriklan tiket Moto GP ini, tapi saya sendiri selalu beli online karena mudah ,cepat, dan enggak capek.

Saya selalu membeli tiket GP dan tiket pesawat di bulan yang berbeda, biar gak terlalu bokek, hehehe. Misalnya saya beli tiket pesawat promo bulan Februari, saya akan beli tiket GP pas hari terakhir promosi early bird, jadi gak gitu amat ngeluarin uangnya.😀

  1. Pesan Akomodasi

Setelah urusan tiket selesai, saatnya memesan akomodasi atau penginepan. Eh, tapi mesen akomodasi mah gak harus beli tiket dulu ding. Pesen aja suka-suka kita dan cari penginapan yang tanpa deposit, jadi kalau kita mau cancel kita enggak rugi. Untuk penginapan, saya selalu di KL Sentral karena sangat strategis. Mau ke sirkuit ada bis khususnya langsung, mau ke bandara, ada bis dan ada KLIA Express (kereta cepat), mau jalan keliling KL banyak transportasi pilihan.

Untuk para backpackers, ada penginapan yang bisa dijadikan pilihan seperti Bullock Cart Hostel, Central Lodge, YMCA dll. Saya sih baru nyobain di dua tempat pertama, dan itu nyaman banget. Budget per malam di dua tempat tersebut adalah sekitar 90,000 IDR (28-30 RM). Fasilitas kamar pakai AC, wifi, air minum dll. Silakan kunjungi situsnya untuk booking dan melihat kondisi kamar. Bagi saya, daya tarik hostel adalah kesempatan untuk bisa ngobrol dengan backpacker lainnya. Sekamar yang berisi enam orang memudahkan kita untuk mengobrol lebih santai. Kalau nginep di hotel bagus sih udah pasti masuk kamar langsung bobok ya hehehe.

  1. Beli Ringgit dan Menghitung Budget

Salah satu yang harus dipersiapkan tentunya adalah menukar mata uang Rupiah ke Ringgit Malaysia. Jangan menukar setelah sampai tujuan, karena selain agak ribet nyari tempatnya, di sana juga lebih mahal, sebaiknya membeli Ringgit di sini sebelum kita berangkat. Jika tinggal di Jakarta, bisa beli Ringgit di Peniti, Dollarindo, Indovalas, dll.

Mau nuker berapa? Itu tergantung kebutuhan kita. Sebagai gambaran, kebutuhan pokok adalah sebagai berikut.

  • Tiket bis dari bandara ke KL Sentral 10 RM dan dari KL Sentral balik bandara lagi 11 RM
  • Tiket bis dari KL Sentral ke SIC tiap hari selama tiga hari 90 RM (@30 RM)
  • Biaya makan di kota 10 RM sekali makan (kecuali makan di restoran/mall, bisa jadi 30 RM). Biaya makan dan minum di sirkuit beda-beda. Makanan dijual sekitar 10-15 RM (tergantung jenis), minuman 3-5 RM (tergantung jenis)
  • Biaya beli kartu untuk internetan sekitar 60 RM, tergantung kuota yang dibeli. Saya sih gak pernah beli, enggak butuh soalnya.
  • Biaya oleh-oleh, biaya beli souvenir di sirkuit, silakan disesuaikan sendiri.

Bagaimana sekarang? Sudah jelas, kan? Semoga ya. Kalau ada yang kurang jelas silakan ajukan pertanyaan di kolom komentar. Terakhir, selamat merencakan nonton Moto GP Sepang dan bersiaplah ketagihan!

P.S

Tulisan ini dibuat berdasar pengalaman pribadi selama 3 tahun berturut ke Sepang. Pengalaman saya pasti berbeda dengan pengalaman orang lain, jadi kemungkinan ada perbedaan detail dalam beberapa info di sini.

Suddenly 26: Un momento histórico con Daniel “Dani” Pedrosa Ramal

Posted on
Suddenly 26: Un momento histórico con Daniel “Dani” Pedrosa Ramal

Long time no write. I hope I don’t lose the ability to tell stories interestingly. I’ve got something exciting to tell this time, about a dream that comes true. But I am not sure if I can write here as exciting as it is:-)

Umm, where to start? *thinking*

Oh, have you ever dreamt about something silly, a dream that you don’t really expect to come true? A dream that you know would be unreachable though you practice it daily as if it will really happen to you? Well, I have. What I am talking about here is my new hobby, watching the Moto GP with all the riders and stuffs. I’ve been into this high-speed motor race since nearly the end of 2013 season. As some of you already know, I am a fan of yellow number 46, the only Italian Legend and King on two wheels, The Doctor Valentino Rossi. As a new fan (not the die-hard one though) of the Italian rider, I came up with learning Spanish; a language spoken by three rivals of his! Feel odd? So, do I. I have no idea about the reasons of learning it. Maybe three years ago I just thought that Spanish is one of the languages with most speakers in the world. I had no thoughts that someday I would stand side by side with a Spanish rider and got chance to practice the language with the native speaker.😀

The story began when my friends and I flew to Sepang for watching the race live. My reason for coming was only one, wanting to be part of a history in Moto GP as it would be the year for Valentino Rossi to be crowned as the champion in the age of 36 years old. Of course I knew there was also the opposite as I knew Valentino Rossi could crash and lose his golden opportunity to be a champion. Anything can happen. A successful-and-hard work during the season can turn into tears in a blink of crash. Something that most of fans (including riders n their teams) is afraid of.

Along with four other friends, I took part in the Pit Lane Walk on the first day of Malaysian GP. That is the only chance for fans to get closer to the garage of every team. In my previous two Malaysian GP experiences, I always saw Valentino Rossi in the garage, I only saw since I didn’t have the ability to get close. This year, I somehow felt that Rossi would be busy with the championship and would not spend time coming to us, the fans, so I didn’t queue in front of Yamaha garage. I just took picture around the crowd and wandered aimlessly around the restricted area when the Italian guards away, hahaha.

The next day, I intended to come to Honda booth for riders meet and greet. A friend of mine already confirmed to be my companion (million thanks, yeay!). From the news I knew there would be the World Champion Marc Marquez and Dani Pedrosa coming and signing some posters for 20 lucky fans in Honda Booth. Sadly, my companion got up late (ehem!), giving me no chance to be one of the twenties. When we arrived, the booth was already occupied by hundred fans. I noticed that both riders hadn’t arrived yet, I still got a chance to meet them! That’s what I quickly thought. My eyes looked around, checking the situation while thinking a way to waylay one or both riders. Then I found the so called brilliant idea. I told my companion be in a corner which I expected them to pass. I wasn’t sure if they would pass that way, but if yes, we would get the chance to stop them. Then, we were there, waiting for them to walk that path.

Surprisingly, they were only both of us in the corner. Yeay!! We spent the time waiting by talking and joking on things that would/not happen to us. So, here was the plan. I would come to the riders and my companion would capture the moments. Perfect, eh? We also practiced using camera to get many pictures in a click (what’s the method?). Oh, have I mentioned that we put a mask on our face due to the haze from Sumateran forest fires?

When we were talking, suddenly a group of people approached us (oh, no, I mean passing the corner where we sat, on their way to the booth). My heart beat faster noticing who were coming. Yes, yes, yes they were Marc Marquez and Dani Pedrosa with some big and scary body guards. I was so shocked, nervous, and blank. I just let them pass without doing anything. When I stood in freeze, I heard a voice of my friend calling, “Marquez…”, which was soon responded with a hand-wave and a smile from last year’s champion. I quickly realized that I should have done something, so I called, “Dani…”. Aaaannd, that moment was just beau-ti-ful! One of the most beautiful moments in my life! He looked at me, right in my eyes (underline it, eye to eye), smiling. Oh, Gosh, give me strength to stand still!! Oh, did I miss something here? Yes. I just called and didn’t stop them! Gee….stupid! And you know what’s even more stupid? I didn’t put off my mask! So, Dani didn’t really see my face, aaarggghhh….. Can I repeat the moment and change everything???? Seemed like God said, yes.

After they went, I still had a chance to stop them and talk to (one of) them in Spanish on their way back. I already prepared some questions for any of them. The point is of course not getting the answer, but the moment of speaking Spanish with a Spanish rider, hahaha. Yea, you call it silly, stupid or whatever, I accept it as I was! Oh no, but the situation was completely different. After the Spanish rider walk, there were many male fans standing and waiting for them, too. Oh, no, I had new rivals! I should have thought some strategies. Again, my eyes looked around and I thought how to get close when they pass later. Most of my new rivals were exactly in front of the back-door of the booth, the door which both riders used to pass. So, I chose to stay the farthest.

Aaaannnddd, there they were! Both Marc and Dani appeared from the door and were welcomed by those aforementioned male fans asking for signs. Lucky me, Dani (walking in front of Marc) refused to stop, hahahaha. Poor them! Then, I rushed approaching Dani and say, “Hi, Dani, one sign, please…”. He slower his steps and took my pen and book, with a smile. We held the book together (oww, soo sweeeettt). Haaaahahaha. I really couldn’t stop smiling, even when I wrote this! I was just right beside him after I successfully slithered away the big guards. I knew I could do anything to him like hug him, kiss him, or just touch him and those are the things people kept asking me why I didn’t do while there’s a chance. I thought about that, too, when he signed my book, but yea, I will never do that. Those actions were just not me (though I want it laaa, in a way!) hahaha.

There was a perfectly-complete satisfaction after he finished signing, especially when he refused another man asking for a sign on his helmet after me. Pedrosa was just smiling indicating his disinterest. Hahaha. I felt I was special, I thought I was special……but I am a creep, I’m a weirdo….(Creep lyrics). Anyway, do you know my last word for Dani? It was just, “Thank you, Dani.” And can you guess what I realized after that moment? Yes, where did my Spanish go??? Why was I unable to say the easiest word in Spanish, “Gracias”,???? Sooo, the moral lesson of this story is to never look down on your dream, how impossible it is you think. Get prepared yourself to achieve it, coz if it’s your big dream, you’ll be nervous facing it. Trust me. Want to proof more? My friend was also unable to use the camera to get many pictures in a click–the one we previously practiced! He used the traditional way, one click for one picture. Hahahaha. Nervousness when living your dream exists. It’s then us who should know how to control it!  #GraciasDani #VamosDani

Marc waved hand answering my friend's call.

12065822_10208049065687619_6125472282101323703_n 12122587_10208049069047703_7225675304745292900_n11206943_10208049047367161_2267206801217765298_n
12046825_10208049064887599_6510993716307429473_n     12036762_10208049043607067_7414135139272178883_n

Perjuangan Menemui Sang Legenda dari Italia Yang Murah Senyum :-)

Posted on

Indonesia merupakan negara dengan penggemar Moto GP yang amat sangat banyak. Saking banyaknya, pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, sampai heran karena Indonesia enggak menyelenggarakan Moto GP, enggak pula punya pembalap yang membalap di Moto GP, tapi penggemar Moto GP luar biasa gila di sini. Saya juga heran karena saya adalah penggemar yang segitunya…

Dari semua rider Moto GP yang ada, saya bisa bilang bahwa Valentino Rossi—atau dikenal dengan VR46 dengan warna kuning sebagai simbolnya—adalah pembalap yang mempunyai penggemar paling banyak jumlahnya. Kenapa saya bilang paling banyak? Karena setiap pemandangan di sirkuit, yang tampak mencolok adalah warna kuning di mana-mana. Belum lagi adanya tribun khusus VR46 walaupun si pembalap tidak sedang membalap di “rumahnya”. Si pembalap legendaris itu bisa punya tribun khusus tidak hanya di Italia, tapi bahkan di Sepang Malaysia. Sadisnya, tiket tribun beliau terjual ludes alias sold out!

Dua tahun berturut-turut mengunjungi Sepang, saya selalu takjub dengan penggemar VR46, jumlahnya unlimited dan enggak pernah berkurang, justru malah bertambah. Ketika saya berjalan di area booth, booth yang gak pernah sepi adalah booth yang menjual VR46 racing apparel. Padahal, racing apparel itu tergolong mahal. Kalau iseng pengen beli gantungan kunci VR46, kita mesti rela membayar sekitar Rp 120.000,- Kalau mau kaos oblong, sekitar Rp. 700-900.000,- tergantung model dan ukuran. Belum kalau mau beli helem, mahal bingits pasti. Hebatnya, asal produk VR46, pasti ludes-ludes aja. Ketika mengunjungi sirkuit saat gelaran Moto GP, seberapapun uang yang kita punya, seolah enggak berarti banyak.

Kembali ke Valentino Rossi. Berdasarkan berita yang saya baca, dia digambarkan sebagai sosok yang sangat ramah dan mencintai penggemarnya. Saya pun pengen membuktikannya sendiri sekaligus ingin menikmati euphoria bergerombol dengan pasukan kuning lainnya dari seluruh penjuru dunia.

Tahun 2013 di GP Sepang, saya cukup beruntung karena secara kebetulan saya bisa ikut Pit Lane Walk sesaat sebelum saya ingin meninggalkan sirkuit. Sebagai amatir waktu itu, saya tidak tahu acara GP apa saja, jadi begitu free practice selesai saya bersiap pulang. Tiba-tiba, mata saya melihat barisan manusia yang antri mengular. Setelah bertanya, ternyata itu barisan menuju garasi rider. Spontan saya ikut berpanas-panas mengantri. Setelah berjuang dalam antrian sekitar satu jam lebih, kami diperbolehkan masuk melalui jalur tertentu menuju garasi rider. Wooooow, keren! Rasanya mau teriak kenceng karena untuk pertama kalinya bisa lihat langsung dari dekat motor-motor yang dipakai balap itu. Asli loh, bukan replika! J

Karena fokus utama saya adalah Valentino Rossi, saya melihat garasi Honda, Ducati dll secara kilat. Kaki langsung melangkah menuju garasi Yamaha di mana sudah berkumpul banyaknya manusia berkaos kuning dan berteriak memanggil Valentino. Dikarenakan badan saya kecil, saya akhirnya berhasil merangsek ke bagian paling depan setelah berdesak-desakan sehingga dengan jelas bisa memandang isi garasi. Tampaklah di depan saya motor bernomor 46 dan 99, motor-motor yang selama ini hanya bisa saya lihat di TV, itupun jaraknya jauh. Motor-motor itu sedang diutak atik oleh mekanik yang ganteng-ganteng, entahlah sedang diapain itu.

Kerumunan di depan garasi Yamaha mulai “gerah” karena sang idola bernomor 46 tak kunjung menandakan akan keluar. Beberapa orang mulai berteriak histeris memanggil. Saat beberapa orang gaduh meminta Vale keluar garasi, tiba-tiba sebuah sekat di dalam garasi dibuka dan tampaklah dari dalam sosok berkaos oblong putih berkaca mata hitam tersenyum ke arah kami sambil melambaikan tangan. Subhanallah, pria itu sungguh berkharismatik sekali. Ganteng banget sebenernya enggak, tapi auranya itu bikin badan kaku dan lebih rela menatapnya saja daripada ngeluarin kamera/hape, hahaha. Sayangnya, mata ini hanya bisa menatapnya selama beberapa detik karena ia lalu masuk ke dalam garasi lagi setelah membuat gerombolan kuning histeris gak karuan. Permainan yang cantik dari sang legenda.

Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, saya dan seorang partner GP merencanakan banyak hal untuk menyempurnakan petualangan kami di sirkuit di Sepang 2014. Kami merasa inilah petualangan terkahir di sirkuit terdekat yang menyelenggarakan Moto GP, tahun berikutnya kami bertekad pindah sirkuit, jadi kami harus melengkapi mimpi di tempat ini.

Mengetahui ada Pit Lane Walk dan sesi minta tanda tangan para pembalap, kami harus ikut semuanya dan mencari posisi terbaik demi bertatap muka dengan sang idola. Nasib baik memang selalu bersama mereka yang mempercayainya. Tralaaa, saya pun berhasil (lagi) mendapatkan posisi terdepan ketika nongkrong di depan pit no 10 alias pit Yamaha setelah mengantri dari jarak 300 meter dari yang terdepan sebelumnya. And guess what?? Pintu garasi Yamaha sengaja dibuka ketika gerombolan kuning datang dan sungguh rejeki luar biasa kalau di dalam garasi itu ada laki-laki berkharisma tinggi memakai topi kuning nomor 46 dikelilingi 2 kru mekaniknya sedang membicarakan sesuatu. Wooww, itulah dia tujuan saya datang ke Sepang! Valentino Rossi…

Setelah mendapat teriakan dari kami, sang pembalap berlogo matahari dan bulan itu melambaikan tangan sambil tersenyum menatap kerumunan orang yang menggilainya. Wau wau wau, the crowd went wild! Setelah berdadah-dadah kepada kami, beliau kembali sibuk berbincang dengan kru mekaniknya di sebuah meja bundar kecil tepat di hadapan kami. Buat saya, hal itu lebiiiiih dari cukup. Menatap dari jarak sangat dekat walaupun yang ditatap sudah pasti gak menatap balik, hehehe. Orang-orang yang di belakang saya masih terus memanggil sang idola, tapi tampaknya beliau sedang sibuk meeting, jadi kurang begitu menggubris.

Sekitar 15-20 menit kemudian, tiba-tiba petugas keamanan mengganti pagar yang tadinya berupa tali biasa menjadi pagar besi. Wah, nampaknya sang idola akan keluar nih kalau pengamanan sudah ditingkatkan begini, hehehe. Bakal kayak apa yah orang-orang gila di sekitar saya ini nanti….

Pelan tapi pasti, Valentino Rossi bangkit dari duduknya sambil senyam senyum dan spontan gerombolan di sekeliling saya menjadi gila, sangat-sangat gila. Tiba-tiba badan saya terjepit dahsyat, itu padahal Vale baru berdiri doang lho. Bisa dibayangkan ketika pemilik nomor paten 46 itu berjalan ke arah kami sambil menebar senyum. Alamaaakk, badan saya rasanya seperti terjepit parah. Saya pikir saya akan pingsan dan terinjak-injak lalu meninggal, sayapun beristighfar sambil menatap pergerakan sang idola sambil berdoa jangan mati di sini, konyol banget dan enggak khusnul khotimah.

Beruntung tangan saya bergerak cepat untuk memotret idola sejati dari dekat (sambil tetep berdoa biar saya selamat dari kerumunan orang gila ini heheh). Saya rasa satu foto sangat sangat cukup dan saya enggak berniat untuk teriak-teriak minta tanda tangan. Setelah berhasil mendapat fotonya, saya pasrah aja terjepit-jepit gak keruan, toh niat untuk melihat idola tanpa jarak sudah terkabul, hehehe. Sementara itu mas-mas petugas keamanan teriak-teriak minta Vale disuruh mundur dulu karena fans makin gila dorong-dorongan merangsek ke pagar besi. Bener-bener gila. Untungnya saya ga segila itu sih, hehhee.

Pelan tapi pasti, Vale hilang dari pandangan. Kami mulai diusir-usir untuk meninggalkan area pit. Lalu bertemulah saya dengan partner GP saya. Dia ternyata dari tadi nongkrong di pit Ducati yang berada di sebelah Yamaha (partner saya gak menyukai pembalap manapu, cuma suka Ducati) dan ketika Vale berjalan meninggalkan Yamaha, dia sempet juga mengabadikan foto sang idola yang jalannya kayak robot itu, hehehe. Tapi bukan itu sih yang bikin saya terharu. Menurut cerita temen saya itu, si Vale udah berjalan menjauh dari keramaian, tapi mendadak ada ibu-ibu berjilbab lebar (jilbab ya, bukan kerudung) dan berbaju gamis bersama anak kecil berkostum balap yang meneriakinya untuk minta foto bareng. Bisa ketebak dong apa yang terjadi? Exactly, si pembalap Italia itu mendekati si ibu dan anak kecil itu untuk berfoto-foto bersama sebentar lalu kembali berjalan menjauh.

Gila yah? Dia segitunya sama ibu dan anak itu. Salut! Kalau sama penggemar muda, dia gak terlalu peduli, tapi kalau ibu-ibu or anak-anak, dia tampaknya lebih memperhatikan. Ah, Vale, makin bangga deh mengagumimu! Semoga takdir kembali mempertemukan kita di Philip Island tahun 2015. Hahahaha…

photo

Ke Sirkuit? Why Not!

Posted on

Penggemar balap motor tentu punya mimpi untuk nonton balapan langsung di sirkuit. Beruntung, saya cukup nekad untuk mewujudkan mimpi kecil itu.

Awal tahun 2013, sahabat sejati saya, penggemar berat Valentino Rossi yang bernomor motor 46, menjejali saya dengan pembalap Italia yang udah veteran itu. Setiap chat, email, WA, apapun medianya selalu ngomongin Rossi dan kehebatannya di dunia balap motor MOTO GP. Lama-lama, saya penasaran dengan sosok Valentino. Mendengar cerita dan membaca link yang diberikan sahabat saya, Vale adalah manusia hebat yang membuat saya penasaran. Saya mulai mencoba nonton Moto GP di stasiun TV swasta pertengahan tahun 2013. Rasanya membosankan. Balap motor cuma muter-muter gak jelas dan kalau udah di depan pasti menang. Itulah yang ada di kepala saya saat itu. Sosok Valentino Rossi pun sangat jauh dari hebat. Sampai akhirnya balap Assen tahun 2013 dimenangkan Valentino dan entah mengapa sejak itu saya jadi suka nonton Moto GP. Saya mulai menemukan “excitement” balap motor yang tadinya saya anggap muter-muter gak jelas.

Sejak Assen 2013, saya mulai berpikir untuk nonton langsung di sirkuit. Alasan saya sederhana, pengen lihat aja Valentino Rossi itu orangnya seperti apa dan pastinya pengen lihat langsung seberapa cepat motor super cepat itu. Saat itu boro-boro saya tahu balap motor, yang saya tahu cuma Valentino, Marc Marquez, Pedrosa, dan Lorenzo. Sisanya saya sama sekali enggak tahu. Bahkan saya juga enggak tahu qualifikasi itu apa, free practice itu apa, fungsinya apa dll. saya sama sekali enggak paham, tapi teteup, pengen ke sirkuit. Sayapun mencari info ke Sepang International Circuit dan mencari pasukan ke sana—yang ternyata gampang dicari!

Tahun pertama nonton Moto GP tahun 2013, saya bersama 6 teman lain, sayangnya satu teman mendadak sakit pas hari H, jadilah teman saya cuma 5, plus saya jadi 6. Enam orang dari Jakarta menuju Sepang ternyata sangat seru! Walaupun sebenernya sayang sih tiket temen yang sakit hangus semua…

Kami membeli tiket pesawat Air Asia dengan harga PP hanya Rp.800,000. Hebatnya, saat saya berniat memebeli tiket GP, kami masih bisa mendapatkan harga early bird langsung di sepangcircuit.com. Dengan posisi di tikungan pertama (yang berbentuk seperti huruf S) kami hanya membayar sekitar Rp. 350.000. Sangat-sangat murah! Untuk tiga hari pula, dari hari Jum’at sampai Minggu. Dan untuk penginapan, kami mendapat tempat yang amat sangat murah di wilayah KL Sentral. Dengan menyewa satu kamar berisi 4 orang, kami masing-masing hanya membayar Rp. 80.000,- per malam. Kamarnya AC pula. Okey banget kan?

Nah, karena lokasi sirkuit ada di Sepang, sangat jauh dari KL Sentral, kira-kira 1 jam 15 menit dengan bis, kami perlu public transport untuk mengangkut kami ke sana. Setelah menyusuri dunia maya, akhirnya saya menemukan sebuah bis yang memang dikhususkan untuk mengangkut penggemar Moto GP dari KL Sentral ke Sepang. Biayanya pun terjangkau, cuma sekitar Rp. 110.000,- PP. Kalau sekali jalan mahal, Rp 66.000,-. Selain dari KL Sentral, bis khusus Moto GP juga ada di KLCC dan KLIA 2 (Bandara Budget Airline). Biaya dari KLCC sama kek dari KL Sentral, kalau dari KLIA 2 ke sirkuit Sepang cuma Rp. 37.000,- dengan waktu tempuh cuma 15 menit. Sayang sih, mendingan naik dari jauh sekalian hehe.

Saya cukup kagum dengan Malaysia karena Moto GP ini sangat mudah dijangkau berbagai kalangan. Saya pikir awalnya ribet dan membingungkan dan mahal, ternyata semua mudah dan menyenangkan. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika berada di dalam bis menuju sirkuit. Selama perjalanan 1 jam 15 menit itu, kuping kita dimanjakan dengan bahasa dari berbagai penjuru dunia. Ada Bahasa Inggris dengan berbagai aksen, lalu terdengar pula Bahasa Spanyol, Bahasa Belanda, Mandarin (ini mah di mana-mana kayaknya yah, hehe), Bahasa Portugis (ngasal sih, saya ga tau bahasa ini berbunyi gimana), Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dll yang saya gak kenal sama sekali bunyinya. Saat itu adalah saat saya merasa menaiki bis terkeren di seluruh dunia, saya merasa sedang di bis PBB, hehehehe.

Di sirkuit, pengunjung GP disuguhi berbagai acara yang memungkinkan mereka bertemu pembalap idola, dari sesi Pit Lane Walk (mengunjungi garasi pembalap), autograph session (sesi tanda tangan rider Moto GP), sampai kemunculan pembalap di booth pabrikan motor yang dibelanya. Karena baru pertama kali, saya enggak tahu ada acara semacam itu dan terlewatlah acara sesi tanda tangan. Beruntungnya, saya dan satu teman (teman yang lain jalan-jalan ke KL karena disangka di sirkuit begitu-begitu aja) bisa ikut Pit Lane Walk yang memungkinkan saya melihat Rossi secara langsung! Yaaa walaupun cuma semenit tapi paling tidak saya udah melihatnya langsung, hehehe. Dan di kesempatan lain, saya puasss mangkal di booth Ducati sambil memelototi pembalapnya Andrea Dovisioso (saya tahun lalu sama sekali gak tahu kalau dia pembalap Moto GP) yang bagi-bagi poster plus tanda tangannya. Karena saya enggak butuh posternya, saya hadiahkan ke sahabat saya yang memperkenalkan saya dengan Moto GP ini, hehehe.

Keseruan nonton di Sepang tahun 2013 membuat saya makin gila dengan Moto GP. Tahun 2014 ini saya dan teman yang sama niat nonton lagi. Kali ini cuma berdua karena teman-teman yang lain pada gak bisa nonton. Apesnya, kami berdua terlanjur kepedean setengah dewa bahwa harga early bird bisa kami dapatkan di bulan yang sama dengan tahun sebelumnya, yakni maksimal pembelian 31 Juli. Pas ngecek harga bulan April (atau Mei ya, lupa) ternyata hanya ada satu harga. Saya pun mengirim email ke admin untuk menanyakan harga early bird. Bagai dihantam badai di siang bolong, kami terhenyak karena early bird udah gak berlaku semenjak akhir Januari (untuk situs motogp.com) dan Maret (atau April yah, lupa lagi) untuk situs sepangcircuit.com. Aaahh, rasanya nyeseeelll banget. Tapi dasar udah gila, kami beli juga tiket harga normal itu setelah membanding-bandingkan harga di berbagai situs penjualan tiket. Saya sangat termotivasi karena ada tribun khusus penggemar Valentino Rossi di GP Sepang. Setiap pembelian tiket, kami akan mendapat bendera kuning berangka 46 dan topi kuning berangka sama. Okelah untuk harga sekitar Rp 800.000 di spot yang sama seperti tahun sebelumnya. Penginepan, airline yang digunakan, semuanya sama dengan tahun lalu. Bedanya tahun ini lebih terencana jadi kami gak gembel-gembel amat di Negara tetangga, hehehehe..

Ayoklah yang pada menggemari nonton Moto GP melipir ke sirkuit sebelah. Kalau punya rejeki lebih bisa menclat ke sirkuit terindah Philip Island…. *lalu menutup tulisan ini dengan do’a agar tahun depan bisa nonton Moto GP di PI*

Hola! Me llamo Pedro(sa)

Posted on

Bulunya putih bersih (kecuali ketika abis gulung-gulung di tempat kotor), matanya biru dan suaranya cempreng super manja. Kenalkan, namanya Pedro. Nama panjangnya Pedrosa.

Dua tahun lalu, ada seekor kucing kecil yang tiba-tiba nongkrong di teras rumah dan enggak mau pergi. Mungkin ketika itu umurnya baru sebulan atau 3 minggu karena ia tampak sangat sangat kecil imut tapi menyebalkan. Dia tampak sendiri tanpa induk ataupun teman. Dia hanya duduk diam di teras dan enggak macam-macam pada hari pertama. Karena kasihan, adek saya memberinya makan. Adek saya dari dulu memang udah sering ngasih makan kucing yang mampir ke rumah, gak seperti saya yang aslinya dulu benci sama kucing. Sejak itu, si kucing kecil sama sekali gak pernah meninggalkan rumah kami.

Setelah beberapa hari, si kucing kecil makin rese. Dia mulai ngaing-ngaing kalau minta makan. Yang paling menyebalkan adalah ketika dia selalu mengikuti kaki ke manapun melangkah kalau dia belum diberi makan sehingga kaki sering keserimpet si kucing. Saya adalah orang yang paling sebel dengan kedatangan si kucing di rumah saya pada awalnya. Saya beberapa kali menendang si kucing ketika kaki saya keserimpet badannya yang menempel kaki saya. Tentu nendangnya enggak serius dan enggak pakai tenaga, hanya sekedar menyemplakkan kaki saya ke badannya biar dia sadar kalau saya enggak suka dengan dia. Tapi percuma sih, tetep aja dia nggelendotin kaki saya dan kaki siapapun yang ada di rumah. Bener-bener kucing yang punya karakter, ndablek kalau kata orang jawa.

Entah bagaimana ceritanya, saya tiba-tiba suka sama si kucing. Kira-kira setelah 6-7 bulan sejak kedatangannya ke rumah, hati saya luluh juga sama keimutannya. Hal pertama yang membuat saya suka padanya adalah matanya yang biru. Saya kan penyuka manusia-manusia bermata biru, jadi saya juga harus suka kucing bermata biru, begitulah alasan yang saya ciptakan kalau ditanya kenapa suka sama si kucing. Karena alasan warna matanya itu pulalah saya mantap menamainya Pedrosa; nama orang bule yang saya pinjam untuk kucing bule saya. Mungkin penggemar balap Moto GP tanya, kok enggak Marquez atau Rossi, kenapa Pedrosa, kan saya pengagum Rossi? Entahlah, saya enggak bisa jawab.

Banyak orang (termasuk saya dulu) bilang bahwa kucing itu mempunyai sifat negatif, seperti suka nyolong, enggak setia dengan pemiliknya dan enggak bisa diajarin ini itu. Well, yea, ada benernya tapi hampir semua sifat-sifat itu enggak dimiliki Pedro.

Pedro setia. Untuk ukuran kucing dia amat sangat setia dengan kami sekeluarga selaku juragan dia. Kalau ibu saya belanja pagi ke tukang sayur, si Pedro akan menguntit di belakang sampai di suatu ujung jalan. Dia memang enggak akan “nganter” ibu saya sampai ke penjual sayur karena mungkin terlalu jauh (dia enggak suka pergi jauh dari rumah, sejauh-jauhnya cuma jarak 5 rumah aja). Di suatu ujung jalan itu dia berhenti lalu menghilang, mungkin masuk ke dalam rumah tetangga. Kerennya, si Pedro muncul ketika ibu saya balik dari warung menuju rumah. Begitulah yang diceritakan ibu saya ke saya hampir setiap hari.

Pedro emang paling suka menempel dan mengendus kaki siapapun di keluarga kami. Tempat favoritnya adalah dapur. Kalau ibu lagi masak, Pedro pasti duduk manis di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dia enggak ngapa-ngapain, cuma semacam nemenin ibu masak. Ya mending dia bisa bantuin nyuci piring atau ngambilin cabe, dia kadang malah tidur. Pokoknya dia hanya ingin dekat dengan juragannya.

Kadang saya mendapati Pedro tidur pulas di dapur di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dan sering pula ketika saya lewat dapur mau ke kamar mandi saya ngeliat posisi tidurnya yang meliuk persis kek kucing lagi yoga. Biar gak mengganggu tidurnya, saya melangkah pelan ke arah kamar mandi. Dan sungguh luar biasa ketika saya keluar kamar mandi, saya mendapati si Pedro sedang duduk manis di keset depan pintu kamar mandi sambil memandangi saya keluar kamar mandi. Pertama kali mengetahui itu saya heboh cerita ke seluruh orang, sekarang udah biasa karena Pedro selalu menunggui saya kalau saya lagi di depan kamar mandi. Dan ini dilakukan ke seluruh keluarga saya, ke adek, ibu, dan bapak. Semua ditungguin sama Pedro kalau lagi di dalam kamar mandi.

Pedro gak suka mencuri. Pedro memang gak pernah nyolong makanan, tapi dia sering naik ke meja makan yang kosong kalau saya lagi ngeracik makannya. Ceritanya dia suka gak sabar pengen segera makan jadi sampe naik-naik meja. Saya gak perlu nurunin dia dengan tangan saya, saya cukup berteriak dengan nada agak tinggi untuk membuatnya turun dari meja. Setelah itu, dia akan duduk dengan dua kakinya sambil tetep cerewet ngeong-ngeong tanpa berani lagi naik ke atas meja. Keren yah?

Dulu saat bulunya rontok parah, ibu saya melarang Pedro masuk rumah biar bulunya gak nempel ke makanan dan pakaian di dalam rumah. Dia hanya boleh berada di teras dan gak boleh masuk. Namanya juga kucing, kadang nyolong-nyolong masuk kalau pintu lagi terbuka. Lucunya, walaupun sedang berlari-lari kecil menuju dapur dari arah teras, si Pedro akan mendadak menghentikan langkah lalu berbalik arah menuju teras lagi kalau sudah denger teriakan ibu, “E…e…e” dengan nada tinggi. Keren kan? Saking senengnya ibu sama adegan ini sering dengan sengaja buka pintu biar si Pedro masuk lalu si Pedro akan diteriakin biar dia berhenti berlari dan berbalik arah kembali menuju teras.

Saking cintanya saya sama si Pedro, kalau Pedro sakit dikit saya pasti panik parah dan bahkan pernah nangis waktu sholat mendoakan kesembuhan untuk kucing tersayang. Waktu itu si Pedro sakit parah dan saya berkali-kali gagal bawa dia ke dokter. Ya begitulah, cinta itu sangat universal dan enggak beralasan khusus. Pedro adalah bagian dari keluarga saa sekarang.  Te amooo, Pedro….

My boss' bags are comfortable!

My boss’ bags are comfortable!

la foto (3)

I am sleepy

Am I cute?

Am I cute?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.