RSS Feed

Akhir Kesendirian Sementara

Posted on

Dua belas jam di bus tingkat tak terasa melelahkan karena pulas tertidur sepanjang malam. Memasuki wilayah Bangkok, situasi jalanan sama seperti Jakarta, padat merayap sedikit harapan. Kira-kira jam 7 pagi, sampai jugalah bus di sebuah terminal yang sangat luas dan ramai yang bernama Mo chit. Tempat pertama  yang saya tuju adalah pos keamananan di mana saya menanyakan lokasi wartel atau telepon umum. Oleh bapak petugasnya, saya malah secara mengagetkan disuguhi pesawat telepon dan dipersilakan memencet nomor yang saya tuju secara gratis. Wow, baik sekali! Setelah berterimakasih, saya langsung tersambung dengan saudara angkat saya yang berencana menjemput saya di terminal. Sayang sunggung sayang, si anak itu sedang ujian di kelasnya—dia seorang mahasiswi—dan dia baru bisa ada di terminal jam 11—apaaaahh, jam sebelaasss…. Bayangan akan segera bertemu orang yang saya kenal segera memudar, masih harus menunggu, saya masih harus bengong-bengong dulu sendirian sampai beberapa jam ke depan. Fiuh!

Dengan pasrah saya menutup percakapan via telepon dan spontan berpikir bagaimana menghabiskan waktu dari jam 7 ke jam 11 di sebuah terminal. Saya putuskan untuk melihat-lihat seluruh terminal aja untuk membunuh waktu sambil mencari tau ada apa di situ. Ternyata, di dalam terminal ada mini market 7-11—jangan dibayangkan café-nya karena di Thailand 7-11 cuma berupa toko aja tanpa café—lumayan untuk mencari sarapan, lalu kalau kita mengikuti jalur setelah keluar dari 7-11 kita akan sampai di barisan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam produk, mulai dari makanan sampai sepatu, tas, dll. Mirip pasar di sekitar stasiun Jatinegara. Tanpa berniat membeli, saya hanya berjalan ke sana ke mari. Di sebuah sudut yang berseberangan dengan lokasi 7-11, saya mendapati banyak kendaraan umum untuk menjangkau luar kota Bangkok, lengkap rupanya. Saya mulai membayangkan ke tempat-tempat tujuan yang tertera di papan informasi, menggiurkan, tapi tidak untuk dicoba sekarang.

Terminal Mo chit disebut juga terminal utara, mungkin karena terletak di Bangkok belahan utara, gak jauh dari pasar bombastis dan fantastis Catuchak—pasar superrrrr luas dengan harga murah yang beroperasi hanya Sabtu-Minggu. Ngomongin pasar, Catuchak ini katanya merupakan pasar akhir pekan terbesar di seluruh dunia, apa aja bisa didapat di sini; baju, makanan, souvenir, peralatan rumah tangga, bahkan binatang peliharaan. Pasar ini juga dikenal sebagai J.J market. Menurut penduduk lokal, produk yang dijual di pasar ini tidak semuanya kelas murahan. Memang kita bisa mendapatkan barang-barang bekas di sini, tapi ada banyak produk yang berkualitas bagus yang dijual dengan harga lebih murah daripada di mall. Untuk ini saya belum pernah membuktikannya, ya, karena saya bukan orang yang gila belanja, hehe. Sebagai gambaran betapa murahnya produk di pasar ini, saya pernah membeli rok ala Thailand seharga 150 Baht—sekitar 50.000 Rupiah—yang kalau udah masuk mall di Jakarta harganya 200.000 Rupiah. Wajar sekali karena ongkos rok itu mahaaallll :-) Kalau mau beli oleh-oleh, pasar ini merupakan pilihan yang tidak mengecewakan untuk belanja buah tangan.

Balik lagi ke terminal, setelah lelah ngider-ngider terminal, saya masih mati gaya menunggu jam 11. Hari itu adalah hari Jum’at 9 November 2012, dan saya memutuskan untuk membunuh sisa waktu di warnet—gak ada hubungannya, hahaha. Sewa internet di lokasi terminal Mo chit per jamnya seingat saya 20 atau 25 Baht, deh, lupa pastinya. Setelah tiga jam bermain Facebook, Twitter, email, dll, akhirnya ketemu juga saya dengan keluarga angkat saya, si anak yang mahasiswi  dan papa angkat saya. Kamipun berpelukan sambil ketawa-tawa setelah persis lima tahun gak pernah bertemu. Bagi saya, pertemuan dengan mereka tentu saja akhir dari solo trip yang menyiksa, tanpa teman. Untuk sementara, saya akan selalu mempunyai kawan, hohoho.

Untuk melepas kangen, saya hanya berada di rumah seharian beserta seluruh keluarga angkat saya yang Bahasa Inggrisnya amat sangat terbatas; hanya si mahasiswi yang bagus bahasa Inggrisnya sehingga dia juga berperan sebagai penerjemah untuk membantu kami berkomunikasi. Mama angkat yang tinggal dan bekerja di luar kota Bangkok hari itu menyempatkan pulang ke Bangkok demi bertemu saya. Mengharukan sekali. Saya pun selalu sangat menyenangkan berada di tengah keluarga angkat Thailand ini. Mereka selalu gembira dan senang kalau saya udah mulai cerita—walaupun tetep si anak nanti akan bercerita dalam bahasa lokal, hehe—dan mereka selalu menanyakan saya mau makan apa dan mau pergi ke mana. Sungguh beruntung saya dipertemukan dengan keluarga ini, selalu membuat saya terharu dengan semua ketulusan mereka serta pujian-ujianya untuk saya :-)

Hari itu saya dijamu makanan kesukaan saya—mereka masih ingat banget makanan kedoyanan saya walaupun lima tahun telah berlalu—tom  yam dan papaya salad! Nah, sekarang tibalah saatnya ngomongin makanan, nyam, nyam. Menurut Wikipedia, Tom yam berasal dari kata “tom” yang artinya proses rebusan dan “yam” yang artinya sayuran pedas dan asam. Jadi, tom yam ini merupakan sayuran berkuah kental dengan campuran udang atau kepiting yang rasanya asam, pedas, manis, enak banget deh, hehehe. Makanan ini merupakan masakan khas Thailand dan Laos, sangat lezat di lidah saya. Nah, kalau papaya salad, itu menurut saya sih semacam rujak pepaya muda yang masih mentah. Jadi, pepaya mudanya diiris tipis lalu dicampur kacang panjang, terung Thailand , tomat muda mentah lalu dikasih cabe, limau, gula dan seafood—biasanya kepiting dan udang. Awalnya agak aneh juga sih makanan itu, rasanya gak nyambung, buah sayur mentah dan bumbu-bumbu plus seafood pula, gak wajar di lidah saya. Ternyata saya ketagihan campuran rasa pedes, asem, dan manis itu. Karena keterbatasan—sebagai muslimah—kulineran, kedua makanan itu sudah merupakan yang terbaik.

Setelah melewatkan makan siang dan makan malam, saya dan saudara angkat mulai membicarakan rencana liburan bersama ke sebuah pulau di sebrang Pattaya. Awalnya saya yang mengajak ke Pattaya, tapi menurut saudara angkat, sebaiknya kami nyebrang dari Pattaya ke sebuah pulau yang indah dan keren, Kah Larn. Waah, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, dan tentu saja saya tidak keberatan datang ke sana karena obsesi saya adalah mendatangi tempat-tempat yang tidak begitu dikenal dunia tapi indah, kapan lagi, kan? Segeralah kami menyusun acara liburan singkat itu dengan memesan kamar penginapan di pulau tersebut, memilih-milih pantai mana saja yang akan kami kunjungi dan transportasi apa yang akan kami gunakan selama di pulau, sewa motor atau ojek. Semua tampak sangat menyenangkan dalam imajinasi saya; kami akan berangkat Sabtu pagi dan pulang kembali ke Bangkok Minggu sore. Begitulah rencana yang saya bayangkan akan menyenangkan luar biasa. Sayangnya, kenyataan tak pernah selalu seindahrencana, tapi saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati apapun, hehehe……

Unfortunately, I forget the name of this area...

Unfortunately, I forget the name of this area… Ini berada di kota Bangkok.

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

 

 

 

 

 

 

 

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!

Betapa Berharganya Uang (Recehan)!

Posted on

Seharian berada di Phi-Phi Island membuat saya sadar bahwa pulau itu bukan tipe pulau saya. Kenapa? Karena tempat itu ramainya sungguh luar biasa sehingga saya kurang bisa menikmati alamnya. Bener bahwa airnya jernih dan tebing-tebing yang kita liat di film The Beach itu memang ada (ya iyalaaa), tapi banyaknya wisatawan di situ membuat semua terdengar gaduh. Tapi serunya, saat itu saya merasa seperti sedang tidak di Asia karena melimpah ruahnya bule yang berada di area itu. Kalau aja para pedagang asongan juga bule, pasti saya beneran sedang tidak di Asia. Salut pada pemerintah lokal yang mampu “mengundang” orang-orang seluruh dunia untuk datang ke lokasi syuting film Hollywood itu.

Sorenya kami kembali nyebrang meninggalkan Phi-Phi Island menuju ke lokasi awal penjemputan, para peserta tur akan dikembalikan ke tempat tadi dijemput. Karena di awal perjanjian saya diberitahu akan diantar ke terminal bus menuju Bangkok, saya pun diangkut dengan mobil yang berbeda dengan rombongan paginya. Sekali lagi saya terkesan dengan kerapihan pengorganisasian wisatawan yang ikut agen tur lokal, tersistem baik. 

Setelah kira-kira sejam bermobil dari dermaga, dengan menurunkan beberapa penumpang di tempat berbeda-beda, sampailah saya di terminal bus yang dimaksud. Tampilan terminal bus yang ini lebih keren dibanding bus dalam kota yang saya singgahi pertama kali saat saya tiba di kota bahari ini. Terminal ini luas, rapi, bersih, dan tampak baru. Dari jalan raya, saya harus berjalan kaki kira-kira 150-200 meter ke arah lobby, cukup jauh dan agak nanjak dikit. Namun sekali lagi saya merasa kagum dengan adanya lobby di sebuah terminal bus, semacam dropp-off penumpang yang diantar (mirip bandara yah?). Membayangkan Jakarta punya terminal bus semacam ini…

Sambil terkagum-kagum, saya melangkah mencari tempat penjualan tiket. Teraturnya tata letak di dalam terminal mempermudah saya mencari apa dan di mana. Mengapa saya masih mencari loket tiket? Karena eh karena si pegawai agen tur Phi-Phi itu hanya menginfokan jadwal bus dan harganya kepada saya. Kata dia, saya sudah dipesankan satu kursi, tapi saya tidak harus bayar dulu, bisa bayar pas di terminal aja. Bagus juga sih karena saya gak perlu repot mencari satu merk bus tertentu di terminal yang semua hurufnya asing buat saya—betapa menderitanya seorang buta huruf, fiuh!

Tapiii, kebutahurufan membuat telinga saya sensitif dan berfungsi maksimal. Begitu mendengar teriakan “Bangkok, Bangkok” dengan logat khas lokal, saya langsung mencari sumber suara. Ternyata lokasi tiket penjualan luar kota Phuket ada di sebuah sudut sebelah kanan. Kalau dari arah luar, saya harus berjalan kaki masuk sebentar lalu berbelok ke kanan. Di situ ada banyak loket yang dijaga ibu-ibu atau embak-embak berteriak-teriak menawarkan bus-nya kepada para penumpang. Saya yang masih kaget—tapi menikmati perbedaan cara penjualan tiket itu—sempet bengong sebelum akhirnya sadar bahwa saya harus segera beli tiket kalau gak mau kehabisan. 

Secara asal, saya mendekati seorang ibu muda yang masih berteriak, “Bangkok, Bangkok.” Darinya saya diberitahu bahwa harga tiket adalah 529 Baht untuk jam keberangkatan yang saya maui dengan estimasi perjalanan 11-12 jam. Saya pikir tidak jauh beda dengan yang diberitahu mas agen tur saya tadi pagi, jadi saya putuskan beli. Malangnya, setelah ngecek dompet, uang saya cuma sisa 510 setelah ikut ke Phi-Phi paginya. Ditambah koin Baht simpanan saya dari jaman dulu, ada cuma 526 totalnya. Saya beritaukan hal itu ke ibu muda penjual tiket dengan harapan dia mau terima kekurangan 3 Baht itu, toh dikit doang kurangnya, hehe. Secara mengejutkan, ibu muda itu gak mau terima, kurang ya kurang, begitu katanya. Yaudah, terpaksa saya menanyakan lokasi mesin ATM agar saya bisa tarik tunai dulu. Sambil berjalan meninggalkan loket, dalam hati saya merutuk, “Kejem banget, ketimbang tiga Baht doang medit amit. Itukan cuma sekitar seribu tiga ratus rupiah. Tega….” Sisi hati malaikat saya angkat bicara, “Yang tiga Baht itu mungkin keuntungan dia, wajar dia pertahankan.” Dan sayapun terus berjalan.

Ternyata, mesin dewa ATM itu lokasinya nun jauh di luar terminal, kira-kira berjalan kaki 15 menit, PP ya setengah jam. Dan ya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, udah jauh gilak begitu lokasinya, mesin ATM cuma ada satu dan itu juga bukan yang berlogo VISA. Yaudah nasib, kembali ke terminal tanpa membawa Baht tambahan. Saat itulah saya tiba-tiba merasa kangen rumah dan pengen pulang! Ooops, badai pasti berlalu. Santaiiii…. *moral story, uang bisa membeli segalanya*

Kembali ke penjual tiket yang sama, saya ceritakan perihal ATM dengan muka memelas. Sambil ngomong dengan bahasa yang saya tak mengerti dia menyodorkan saya secarik tiket dan meminta uang saya. Whohoho, dia akhirnya gak masalah dengan kekurangan 3 Baht itu rupanya! Mungkin dia memberi tiket itu sambil merutuk-rutuk, “Kalau gak punya duit jangan jalan-jalan, di rumah aja!” Hahaha. Legaaaa, walaupun berbekal nol Baht beredar di negara orang, saya tetap percaya akan adanya mesin ATM di suatu tempat nanti, hohoho. Tapi emang ya, gak ada usaha yang sia-sia, semua pasti dihargai oleh Tuhan segala usaha kita. Usaha jalan kaki ke mesin ATM nun jauh di mato berbuah belas kasihan si ibu penjual tiket! :-)

Saya pun segera bertanya keberadaan bus yang akan saya tumpangi. Dengan menunjukkan tiket kepada orang yang saya tanyai, taulah saya harus menunggu di platform mana sebelum akhirnya saya menumpang bus double-decker itu.

Kursi duduk saya ada di lantai dua bus, pas dengan selera saya. Saat saya masuk, bus udah siap berangkat dengan kebanyakan penumpang adalah warga lokal. Seingat saya hanya ada 3 bule duduk di kursi paling depan lantai dua bus itu dan saya sendiri sebagai penumpang asing. Bahasa yang mereka gunakan membuat saya tau apakah penumpang orang lokal atau asing. Kelegaan saya terus berlanjut menyadari kalau bus itu nyaman, bersih dan tidak ugal-ugalan selama perjalanan. Penumpang difasilitasi toilet di lantai 1 bus, selimut, snack dan air mineral—demi kehalalan, saya enggak makan snack—serta kursi yang bisa untuk tiduran. Buat saya, harga yang saya bayarkan tergolong murah dengan fasilitas yang diberikan, sekali lagi salut dengan pemerintah lokal, lalu membayangkan kalau transportasi di semua wilayah negara saya seperti itu…….ngayal dulu…

Di tengah perjalanan kira-kira pukul 11 malam, bus berhenti di sebuah rest area untuk makan malam dan toilet break. Saya lalu turun untuk melihat makanan, siapa tau ada sayuran, kelaparan melanda. Sayangnya, butuh beberapa detik buat saya untuk menyadari bahwa kalau mau makan ternyata kita harus bayar karena itu bukan fasilitas dari bus untuk penumpang. Dari beberapa orang yang makan, saya tau kalau makanan di situ harganya murah. Tapiiiii, murah tidak sama dengan gratis!  Huh, lagi-lagi uang adalah masalah saya. Segera saya menyisir lokasi untuk mencari mesin ATM berlogo VISA. Begitu ketemu yang saya cari, semangat saya naik lagi ke puncak. Saya siap makan, hohoho… Berhubung Thailand bukan negara yang mayoritasnya penduduknya muslim, saya memilih menu sayur-sayuran aja biar aman. Weelll, itupun sebenernya jelas enggak aman kalau mau mikirin cara masaknya. Wallahu’alam, saya butuh asupan untuk petualangan di Bangkok esok hari.

 Image

Image

kado ultah ternekadku untuk aku

Posted on

Hari Kamis, 8 November 2012, akhirnya tiba juga. Hari itu adalah hari istimewa karena saya berulang tahun, dan lebih istimewa lagi karena saya benar-benar enggak ada rencana mau ke mana selama di Phuket. Setelah browsing internet dan menghubungi saudara angkat di Bangkok, saya akhirnya memutuskan untuk naik bus dari Phuket ke Bangkok malam harinya. Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran adalah, “Di manakah terminal bus yang akan mengangkut saya ke Bangkok?” “Sebelum malam tiba mau ke mana dan ngapain?” “Kalau nanti ke suatu tempat lalu (malah) ketinggalan bus ke Bangkok gimana?” dll. Sambil memikirkan jawabannya, saya mencari bus ke luar bandara, yang terjadi terjadilah, saya siap-siap aja menghadapinya berbekal 2000 Baht di kantong, hohoho.

Perjalanan dari bandara ke kota Phuket kira-kira 1.5 jam (saya lupa sih sebenernya, cukup jauhlah dan busnya cukup pelan-pelan) dengan biaya 90 Baht (semoga tak salah ingat). Pemandangan menuju kota terasa indah di mata saya, pohon dan hutan serta bukit-bukit bener-bener menyejukkan mata dan hati saya—untuk sementara saya lupa akan prahara hidup saya di negara orang. Memasuki area perkotaan, suasana masih sangat menyenangkan; sejuk, hidup, santai dan ramah. Dalam hati saya berkata, “Sebenernya, beginilah kota impian saya untuk tinggal.”

Bus dari bandara tersebut akhirnya memasuki area terminal bus kota yang ternyata merupakan tujuan akhir. Untuk ukuran terminal bus kota, terminal tersebut sangat sepi. Pada saat saya datang, hanya ada beberapa bus bandara, beberapa kendaraan yang kalau di Jakarta disebut opelet, dan beberapa supir taxi. Ternyata, kalau dari terminal tersebut memang taxi adalah moda transportasi andalan. Ke manapun tujuan kita pasti akan diantar asal kita sanggup bayar. Ngomong-ngomong soal bus, otak saya langsung berpikir cepat bahwa bus yang akan mengangkut saya ke Bangkok tidak berasal dari tempat itu. Saya pun memutar otak gimana caranya untuk mendapatkan tiket bus ke Bangkok dulu sebelum jalan-jalan di Phuket. Setelah disarankan untuk menggunakan jasa taxi, saya memutuskan untuk angkat kaki dari terminal dalam kota tersebut (saya lupa euy nama terminalnya).

Tanpa tau arah dan tujuan, saya melangkah keluar. Di sebuah warung makan saya bertanya tentang transportasi umum. Jawabannya sungguh diluar dugaan. Saya hanya mendapatkan bahasa isyarat dan senyum manis yang saya gak mengerti artinya. Selang beberapa menit dia berteriak ke arah bangunan ruko di samping warung itu pada orang sebelah dengan bahasa lokal. Barulah saya mengerti kalau orang yang saya tanyai tersebut tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun meninggalkannya sambil mengucap “Thank you” dengan senyum tak kalah manis menuju orang yang bisa berbahasa Inggris dimaksud.

Ternyata orang yang bisa berbahasa Inggris tersebut adalah pegawai agen tour & travel. Bangunan ruko itu merupakan kantornya. Saya pun segera menanyakan transportasi umum ke terminal yang ada bus jurusan Phuket-Bangkok. Apakah anda bisa menduga jawaban yang diberikan kepada saya? Yup, saya malah ditawari paket tur yang dia punya dan pulangnya akan langsung diantar ke terminal yang saya mau atau di manapun tempat saya menginap. Dia juga mengatakan bahwa dia bisa memesankan tiket bus ke Bangkok kalau saya mau. Waaahh, orang ini sakti sekali, saya bersyukur dalam hati dipertemukan dengan orang sesakti ini—kekaguman yang akhirnya pudar seiring berkahirnya tur. Dia lalu menjelaskan paket-paket wisata yang dia miliki beserta dengan harga-harganya yang saya dengarkan sambil mikirin uang saya yang cuma 2000 Baht minus ongkos dari bandara, tinggal 1910. Setelah dipotong biaya bus ke Bangkok sekitar 500an Baht, uang saya tinggal 1510 yang artinya saya ga bisa sembarangan milih paket wisata. Saya pun spontan memeras otak mencari cara agar bisa ke pulau idaman, gak tau caranya gimana…

Buat saya, uang bukanlah segalanya, kepuasan hati adalah yang utama. Hati saya sungguh tergoda pas dia menyebut paket tur Phi-Phi Island. Sebagai penggemar berat Leonardo Dicaprio, rasanya wajar menjadikan kunjungan ke Phi-Phi Island sebagai cita-cita. Sebelum mengiyakan tawaran ke Phi-Phi Island, saya meminta dia memastikan bahwa saya mendapat tiket ke Bangkok. Setelah tiket oke, saya mulai serius tentang Phi-Phi Island. Harga yang tertera di brosur sungguh fantastis, 1600 Baht untuk paket satu hari. Abang agen bisa memberi diskon jadi 1500 saja untuk saya karena katanya tinggal 10 menit lagi rombongan tur akan tiba di lokasi saya, jadi saya harus membuat keputusan cepat untuk pergi bersama rombongan ke pulau impian. Dengan muka pasrah tanpa harapan saya bilang kalau uang saya tinggal 1510, saya hanya mau bayar jika harganya 1300—yang mana itu merupakan harga anak-anak yang tertera di brosur. Setelah tawar menawar seru, akhirnya harga paket dilepas di angka 1400. Well, not bad lah ya. Yang penting masih ada sisa 110, yuhuuuyy…. Phi-Phi Islaaaand, I’m coming to you… Right on my birthday! Very Happy Birthday to me… :-)

Satu masalah tentang kemana-saya-sebelum-ngebus-ke-Bangkok terselesaikan. Sayapun siap menunggu masalah berikutnya, hehehe….

Image

The gate

Image

It’s so The Beach

Image

Image

A nice proof

 

Lunch coupon in Phi Phi Island

Lunch coupon in Phi Phi Island

Kamu nginep di hotel apa? Kalau aku siiiihh…

Posted on

Menjalani traveling seorang diri pada mulanya bukan merupakan impian saya, tapi ketika saya terpaksa harus menjalaninya, saya memaksa otak dan hati saya untuk menerima ini sebagai hal yang menyenangkan dan keren. Cerita bermula ketika saya dan seorang teman memesan tiket ke Phuket untuk 7 hari di bulan November 2012, tepatnya 7-14 November 2012. Rencananya kami akan ke Phuket dan ke Bangkok. Tidak disangka, menjelang hari H, temen saya itu gak bisa meninggalkan pekerjaanya, dan itu artinya saya harus berangkat sendirian atau menggagalkan kepergian ke Phuket (dan Bangkok). Saya akhirnya memilih berangkat dengan konsekuensi cengok sendirian selama seminggu karena ga ada temen ngobrol plus gak pernah ke Phuket sebelumnya.

Singkat kata, saya mulailah perjalanan saya seorang diri pertama kalinya seumur hidup. Biasanya saya memang sendiri kalau traveling, tapi selalu ada orang di tempat yang saya tuju. Lha ini, gak ada tempat tujuan pasti plus tiada teman, suramlah pokoknya mah, tapi saya nekad aja modal Bismillah dan pikiran bersih menuju bandara Soetta. Lalu naiklah saya ke pesawat yang akan ngangkut saya ke bandara int’l Phuket. Entah mengapa, saya tiba-tiba sebeeeell banget liat serombongan ibu-ibu di pesawat yang ngobrolin tentang rencana mereka di Phuket. Saya juga sedih setengah mati liat anak-anak muda pada ketawa-ketawa becanda dengan temennya. Ya ya ya, saya akhirnya menyadari bahwa kesebelan dan kesedihan saat itu disebabkan saya tidak punya siapa-siapa untuk becanda, dan parahnya saya juga tidak punya rencana mau ngapain kalau udah sampai di Phuket, dan lebih ngenes lagi saya gak tau mau ke mana setelah turun dari pesawat…. Iya sih, saya udah booking kamar penginapan di kota, tapi kedatangan pesawat sudah sangat larut sehingga bis dari bandara ke kota udah ga ada, gak mungkin banget orang kayak saya naik taxi pas traveling, apalagi di negara orang, bisa jadi TKW ujungnya.

Saat yang mendebarkan itu tiba, saya akhirnya menginjakkan kaki di Phuket, sekitar jam 11 malam, saya lupa persisnya. Kenapa mendebarkan? Karena saya gak tau mau ke mana dan ngapain. Gleg! Sayapun untuk pertama kalinya bener-bener melangkah kemana kaki ini ingin melangkah. Lalu kepada seorang bapak satpamlah kaki ini menuju. Di sana saya mencoba bertanya transportasi menuju penginapan saya. Well, saya sih sebenernya tau saya gak akan mungkin bisa ke sana karena udah gak ada bis umum, tapi biar terkesan saya “bermodal” saya tanya itu dululah sebelum akhirnya bertanya tentang menginap di bandara Phuket.

Bapak satpam itu baiiiik banget. Beliau seorang Melayu berkebangsaan Malaysia yang bekerja di bandara Phuket. Dia sudah bekerja di situ sekitar dua tahun, sebelumnya dia bekerja di tempat lain, tapi tetep di luar negaranya. Dia menanyakan asal saya, tujuan saya dll. lah yang  saya jawab dengan sejujurnya. Saat ngobrol-ngobrol, beliau bilang mendingan saya nginap di bandara aja karena gak mungkin ke kota kecuali dengan taxi yang tarifnya mahal—ukuran budget saya, apalagi seorang diri, mahallll. Menurut beliau, menginap di bandara Phuket aman dan banyak para backpacker yang nginap di situ. Lalu beliau menunjukkan arah “area penginapan” itu yang ternyata dekat dengan lokasi kami berbincang. Setelah mengucapkan terima kasih, saya meninggalkannya dan bergerak menuju “penginapan”. Di tempat asing itu saya benar-benar tidak merasa asing loh, walaupun saya sendirian, saya tak pernah merasa takut karena menurut saya, suasanya menenangkan—ini sepertinya karena saya yang membuatnya tenang.

Setelah berjalan kaki selama 5-7 menit, sampailah saya di lokasi yang disebut sebagai area penginapan itu sekitar pukul 11.30 malam. Ternyata benar, tempat itu sempurna sekali untuk tidur, hehe. Ada dua deret sofa yang empuk dan nyaman untuk tidur. Sekedar berbasa basi sambil menunggu suasana sepi, saya duduk di salah satu sofa lalu membaca buku. Tiba-tiba ada suara di samping saya mengucap salam, “Assalamualaikum.” Saya kaget campur senang karena akhirnya ada yang menyapa saya. Ternyata dia adalah seorang wanita berkerudung, petugas kebersihan bandara yang sedang jaga malam. Dia muslim asli Thailand. Dengan Bahasa Inggris yang cukup bisa saya pahami, dia bertanya negara asal saya dan tujuan saya. Rasanya seneng banget ditanya begitu karena dia juga tampak senang ngobrol dengan saya yang mau secara sukarela  mengunjungi negaranya—masa sih dia gak tau kalau buanyaak banget orang dari seluruh dunia yang jumpalitan berusaha banget mengunjungi Phuket?

Hasil dari perbincangan itu adalah bahwa saya tau bandara Phuket punya mushola, bahwa orang Phuket ramah-ramah dan baik, bahwa saya harus ke pantai ini dan itu untuk melihat keindahan Phuket dari dekat, dan yang terpenting adalah bahwa mnginap di bandara itu amat sangat aman dan biasa sekali. Legaaa, setelah dia pamit untuk bekerja, saya mulai mengeluarkan perlengkapan tidur, syal panjang. Sebelum saya merebahkan badan saya ke deretan sofa, saya melihat dua bule cewek menuju arah saya daaaannn tanpa ba-bi-bu langsung tidur di deretan sofa sebelah saya, sementara temen satunya tidur di lantai. Dari percakapan mereka saya menebak mereka dari Australia, tapi entah yah, kami gak pernah ngobrol langsung. Fiyuh, masalah pertama terselesaikan, tinggal mikirin hari esok yang entah mau ke mana dan ngapain; hari esok yang ternyata juga hari ulang tahun saya saat ituh. :-D

 

Image

Kapok! Gak lagi-lagi deh….

Posted on

Fiuh, lama aja gak menjamah blog. Harusnya tulisan ini beredar bareng dengan Sempu dkk itu, tapi yasudahlah, baru sempet. Mencoba mengingat-ingat peristiwa bodoh yang saya harap jangan ada yang mengulanginya :-)
Perjalanan kami dimulai di hari kedua lebaran versi pemerintah. Tiket sudah dibeli jauh-jauh hari di bulan puasa. Berdasarkan kalender, keberangkatan kami adalah di hari lebaran ketiga. Mayan lah ya, hari lebaran masih bisa sama keluarga, hari kedua cabut. Tapi nasib membawa kami harus bepergian di hari lebaran sodara-sodara, karena pemerintah punya keputusan lain untuk Hari Raya Idul Fitri tahun 2011. Jadilah kami berempat berlebaran di kereta beserta penumpang lainnya yang rata-rata mudik. Selepas solat Ied, saat orang-orang masih berlebaran bersama sodara, kami “terpaksa” buru-buru ke Stasiun Kereta mengejar kereta kami.
Kami menikmati perjalanan karena memang kereta tak terlalu penuh, masih wajar. Saya sendiri tak pernah berfikir akan seperti apa nanti ketika balik Jakarta, sama sekali tak berfikir sedikitpun. Nah, inilah pelajaran mahalnya sodara-sodara. Jangan jalan-jalan saat lebaran deh, susah dan mahal bangeeett.
Jadi kami terdampar di Terminal bis Malang dan bingung mau ke Jakarta naik apa. Berdasar jadwal, kami masih akan mampir ke Jogja dan Borobudur dulu setelah dari Malang, dari Borobudur kami baru akan ke Jakarta. Itu rencana awal ya, nasib berkata lain rupanya. Sungguh-sungguh jauh dari impian awal :-(
Di Terminal Malang, kami sudah kehabisan tiket bis ke Jogja, ada bis yang super duper mahal, itu juga sampai Jogja lewat dari tengah malam. Kami berempat berdebat serius, telpon sana-sini bagaimana cara keluar dari Malang dan gak macet. Mentog. Akhirnya diputuskan untuk langsung ke Jakarta dari Malang. Rupanya tiket bis ke Jakarta juga abiss, yaelaaah, tambah panaslah jiwa-jiwa kami inih.
Lalu, tiket ke Jogja yang (super) mahal untuk ukuran tukang jalan kelas teri seperti saya harus dibeli, dan tepat pukul 3 dini hari kami sampai di Jogja. Kami lalu menuju masjid terminal untuk menunggu Subuh. Selesai Subuh, kami berpisah ke dua stasiun untuk nguber tiket kereta ke Jakarta hari itu. Harus dapet karena yang saya inget, lusa adalah hari Senin, hari kerja pertama. Seorang teman ke Stasiun Tugu, sedang saya dan seorang teman ke Stasiun Lempuyangan. Seorang lagi meneruskan liburan di Jogja karena liburnya masih puanjaaang.
Di Lempuyangan, kami ngantri kek orang miskin antri beras, memelas dan penuh harapan. Tapi setelah lama berdiri, ternyata tiket sudah abis aja gitu. Gak kebagian blas. Esmosi semakin memuncak setelah dapet telpon dari kawan yang di Tugu bahwa dia juga gak dapet tiket. Lebih nyesek lagi karena tiket pas abis pas dia di depan loket! Yodah, nasib! Mau protes sama siapa? Salah sendiri jalan-jalan pas orang-orang lagi sibuk juga balik Jakarta :-( Bingung dan sempet pengen naik bis dengan resiko super duper macet dan gak dijamin kapan sampai Jakarta, tapi rupanya setelah telpon sana-sini, bis juga habis yang hari itu. Bener-bener menguras emosi dan pulsa deh. Tapi kami tetep berusaha karena putus asa itu dosa (hehehe).

Akhir dari usaha yang tanpa henti, kami dapet tiket kereta Lodaya ke Bandung. Fiuh, Walaupun Bandung bukan Jakarta, tapi at least udah sampai Bandung, lega deh! Untuk merayakan kedapatan tiket (duh, bahasanya apa yak, kok aneh gini?), kami makan siang sambil ketawa-ketawa mengingat yang udah-udah. Konyol banget menertawakan kejadian semalam di Malang sampai di Stasiun-stasiun Jogja. Bener-bener super konyol. Kami makan minum dengan santainya sampai si penjual Tanya “Mba, berangkat pakai kereta apa?”. Dan saya jawab dengan ceria, “Lodaya, bu”. Daaann, jeng jeng jeng, kenkonyolan sebenarnya baru dimulai saat kami tiba-tiba kaget dengan jawaban si ibu penjual itu. “Lho, itu keretanya udah mau berangkat kok kalian masih di sini, cepetan lari mba, mas!”
Duarrr! Bagai disambar petir kami langsung ngibrit beresin barang-barang yang betebaran diatas meja makan. Jantung berdegup keras berpacu dengan detik. Gile aje kalo ampe ketinggalan kereta, bisa menyesal seumur hidup. Susah dapet, mahal pulak. Bah, harus naik ke kereta, gak boleh ketinggalan.
Dalam hitungan detik, barang-barang sudah pindah ke tas masing-masing dan kami lari ke gerbong kereta. Langkah saya tiba-tiba terhenti ketika si ibu penjual kembali berteriak “Mba, bayar dulu. Ngecaz hape bayar mba!” Duerrr, bukan gak mau bayar tapi gak ada uang pas dan lagi mikir sambil lari (loh?). Uang tinggal seratus ribu, the one and only, bayar ngecaz cuma 8 ribu. Trus akhirnya saya cabut sambil saya bilang saya mintain uang dari temen yang udah masuk gerbong. Hmm, mukanya menunjukkan mosi tidak percaya, semacam saya ini penipu. Yodah, hak dia wong dia gak kenal saya kok. Tapi saya juga haram makan rejeki orang kali. Mikir lagi sambil lari….
Sampe jalur kereta, peluit sudah tertiup, saya teriak-teriak ke bapak-bapak dan ibu-ibu yang mempersilakan penumpang masuk gerbong minta ditunggu. Akhirnya saya bisa masuk gerbong dan berhasil dapat uang 5 ribu rupiah dari kawan. Beruntung kereta belum jalan. Langsung saat itu saya bilang ke bapak-bapak petugas kalau saya mau bayar utang dulu dan mohon ditunggu sebentar lagi, tapi beliau bilang gak bisa menunda kereta dan menawarkan jasa untuk menyampaikan hutang saya ke si ibu. Akhirnyaaa, saya nitip juga ke si bapak uang biaya ngecaz saya yang cuma sempet terisi 10 menit saja. Uang yang saya kasih cuma 5 ribu, sementara biaya ngecaz sejam 8 ribu. Saya bilang ke si bapak kalau itu uang yang kami bisa keluarkan saat kereta jalan pelan-pelan. Gak sempet bongkar-bongkar tas dan nyari dompet lagi, hiks. Dan bapak itu dengan tulusnya bilang “Gapapa, mba, nanti saya tambahin”. Whuaaaaa, makasih, paaaaakk.
Kereta secara perlahan melaju meninggalkan Stasiun tugu, tapi masih bisa saya dengar ucapan bapak itu. “Waah, mbak ini jujur ya, baik mba, nanti saya pasti sampaikan ke ibu penjual itu, saya kenal kok”. Pelajaran berharga, jangan berlibur ke wilayah-wilayah padat pemudik saat lebaran deh.

Menjamah yang Tak terjamah (Sempu)

Posted on

Pemandangan Pantai Kembar

Di Sempu, tempat yang terkenal dan biasanya jadi base camp pendatang adalah Segara Anakan. Tempat ini berbentuk semacam telaga yang baru akan ada airnya ketika air laut pasang. Antara laut lepas dan Segara Anakan ini dipisahkan oleh batu karang yang super terjal dan tinggi yang terdapat juga lubang di tengah-tengahnya sehingga air laut masuk ke Segara Anakan melalui lubang itu (ada di foto-foto judul sebelumnya). Dan beberapa meter dari Segara Anakan ada lahan kosong berpasir yang dijadikan lokasi kemping. Menyenangkan sekali bisa kemping di sana karena halaman kita adalah Segara Anakan. Superb!

Bagi banyak pengunjung, mengunjungi Sempu adalah berarti mengunjungi Segara Anakan. TapI bagi kami, mengunjungi Sempu adalah juga mengunjungi 3 pantai eksotis lainnya, Panti Kembar (dua pantai di dua lokasi yang berbeda. Dinamai Pantai kembar karena mempunyai karakteristik yang mirip) dan Pantai Panjang (saya enggak tahu kenapa namanya Pantai Panjang karena menurut saya sih gak panjang-panjang amat pantainya, hehehe).

Seandainya saya dan teman-teman enggak bareng sama temen-temen dari Madura, tentu kami juga tak akan sampai ke Pantai Kembar dan Pantai Panjang. Tau apa kami soal Sempu. Jalanan aja berupa setapak dengan banyak batu dan semak yang gak mungkin akan kami taklukan tanpa bantuan orang yang mengerti lokasi itu. Alhamdulillah, beruntung sekali kami bertemu Mas Dekky, ketua rombongan Madura yang udah beberapa kali menjelajah Sempu sehingga selain dapat makan dan tenda gratis, kami juga bisa ke pantai-pantai dahsyat itu. Mari kita mulai dengan Pantai Kembar.

Dari Segara Anakan, kami berjalan naik turun bukit, melewati semak-semak, serta melompati batu karang yang tajam.  Saya tidak tau kami berjalan ke arah mana, yang pasti lokasinya sangat berat untuk mereka yang suka mengeluh. Kira-kira setelah 30 menit berjalan naik turun serta lompat-lompat, kami tiba di sebuah pantai yang ternyata adalah Pantai Kembar (1). Sangat menyenangkan berada di sana karena cuma ada kami (padahal ketika di Segara Anakan, jumlah pengunjung udah kayak Dufan di musim liburan, penuuuuhh). Eh tapi ada satu tenda ding yang berdiri di sana, ada sekitar 5 orang yang menginap di sana. Tapi benar, gak banyak yang tau bahwa selain Segara Anakan, ada juga pantai-pantai lain.

Pantai Kembar ini sangat indah, berpasir putih dan berombak besar (maklum, masih termasuk rangkaian Laut  Selatan). Ombaknya mengingatkan saya dengan laut di Kiluan lampung (lupa euy nama lautnya), dan laut-laut di Bali. Ada beberapa karang besar juga yang membentuk pulau sangat kuecil ketika memandang ke tengah. Gak tampak ada aktifitas laut sama sekali (ya iyalah), jadi bener-bener asliiiii banget keadaan alamnya, belum terjamah. Kami puas foto-foto, teriak-teriak, bengong-bengong, tanpa harus berebut tempat dengan pengunjung lain. Pantai itu milik kami saat itu!

Setelah puas, kami kembali menerobos hutan untuk menuju Pantai Kembar (2). Ternyata benar, pantai ini sama karakteristiknya dengan yang sebelumnya. Pantas saja dinamai Pantai Kembar, bener-bener mirip. Kalau saya gak harus berjalan melalui jalanan yang berbeda, pasti saya berpikir masih berada di pantai yang sama, hehehe. Bedanya, di pantai ini hanya ada kami, benar-benar kami ber-15 ini, tanpa ada siapapun. Sekali lagi, kamilah pemilik pantai saat itu, hohohohoho.

Lokasi pantai terakhir kami adalah Pantai Panjang. Pantai ini agak berbeda dari pantai-pantai sebelumnya karena garis pantainya yang beneran panjang (tapi ya gak panjang banget kek di Kuta gitu) dan banyak sekali batu-batu karang yang super terjal tapi juga indah untuk dilihat. Diantara batu-batu itu ada yang membentuk lubang sehingga akan seperti gua jika kita mau menerobosnya, tapi harus ekstra hati-hati karena karangnya super duper tajam, jangan sampai kita terpeleset, bisa tamat riwayat tar. Sandal tipis tidak direkomendasikan, pakailah sandal gunung yang kuat agar tidak tergelincir. Oia, teman saya yang wanita terpeleset di sini dan dia kesakitan, untungnya bukan di karang yang besar dan tajam, jadi celananya doang yang robek, whehehe. Di pantai ini juga tidak terdapat aktifitas laut, tidak ada nelayan, tidak ada perahu, tidak pula nampak surfer (mungkin kalau dikenal luas, akan jadi lokasi surfing favorit kali ya). Tempat ini sangat sepi, bersih, dan nyaman. Saking yahudnya lokasi ini, ada pasangan calon pengantin yang mengadakan foto pre-wed di sini. Mereka cuma bertiga dengan Fotografernya. Keren deh! (Yang keren pantainya bukan pasangan itu dan fotografernya :-D)

Kami menghabiskan waktu cukup lama di pantai ini karena tempat ini sangat luas dan banyak hot spot untuk berfoto sesi. Tapi karena matahari terus menurun di ufuk barat, kami harus segera meninggalkan tempat ini untuk kembali ke Segara Anakan, kembali ke “pasar” dan istirahat.

Ketika malam menjelang, kami masak nasi dan makan ala kadarnya sambil rebutan. Semua makan dengan nafsunya karena kami sudah kelelahan seharian ke sana ke mari tanpa makan. Setelah semua kenyang, tibalah saatnya bersenang-senang. Kami menghabiskan malam dengan main poker, yang kalah jongkok. Seru!

Sangat puaslah kami menjelajah dan menimati Sempu pada liburan kali itu. Meskipun perjuangan ke sana sangat berat, tapi kami bahagia lahir dan batin. Terima kasih kepada teman-teman kami dari Madura yang sudah membantu kami selama di sana. Sangat menyenangkan! Terima kasih yang tak terhingga, kalian semua luaaaarrr biasa baik! Alhamdulillahhh.

Sempu. Hah? Di Mana Itu?

Posted on
Sempu. Hah? Di Mana Itu?

Pantai Kembar dari sisi lain.

Muntahan air laut ini akan jadi danau Segara Anakan.

Segara Anakan dari atas karang.

Proses pembentukan danau Segara Anakan.

Bagi para pencari ‘surga dunia’, pasti pernah mendengar nama tempat ini [bahkan ada yang mungkin menetapkannya sebagai daftar salah-satu-tempat-wajib-dikunjungi selanjutnya]. Namun bagi orang lain, nama lokasi wisata ini masih asing. Buktinya, banyak kok yang bertanya pada saya begini: “Sempu itu apa?” “Sempu itu di mana?”, “Di sana ada apa?”, “Di sana entar ngapain”, dll dll.  Yuk mari saya jawab melalui tulisan ini.

Sempu adalah nama sebuah pulau di selatan Pulau Jawa yang secara administratif berada di Kabupaten Malang, Jatim. Pulau Sempu hingga saat saya datang adalah pulau yang tidak berpenghuni dan katanya nyaris enggak ditemukan air payau didalamnya. Hanya ada laut, pantai-pantai, bukit-bukit, dan hutan. Jadi kalau mau ke sana, harap siapkan logistik yang diperlukan agar tidak merana di pulau itu, hehehe. Tapi jangan bawa secara berlebihan, ya, karena tentu akan menjadi beban saat menyusuri hutan yang agak naik-turun.

Nah, untuk menuju Sempu, kita harus ke Sendang Biru terlebih dahulu. Sendang Biru adalah sebuah desa pelabuhan. Dari sana, kita bisa menyewa perahu motor untuk menyeberang ke Sempu yang hanya butuh sekitar 10 menit waktu penyeberangan. Deket banget, yang kuat berenang mungkin bisa mencoba? :-D

Turun dari perahu motor, jangan berpikir bahwa kita sudah sampai tujuan. Beluuuum, masih jauuuuh, masih harus berjalan kaki menyeberang hutan sekitar 1 jam. Memang kita sudah sampai di Pulau Sempu ketika turun dari perahu motor, tapi sampai di hutannya, belum sampai di pantai-pantai indah yang dimaksudkan para pencari ‘surga dunia’ itu. Untuk menuju pantai-pantainya, siapkan energi yang cukup.

So, balik lagi ke pengalaman saya menuju Pulau Sempu itu, ya? Kami siang hari meninggalkan Bromo, dan malam hari sekitar pukul 19.00 wib kami tiba di Sendang Biru. Kami langsung menuju warung makan untuk makan sekaligus mencari info tempat menginap. Ternyata, oleh sang pemilik warung, kami diberi ruangan di balai desa [atau semacamnyalah] untuk bermalam berhubung semua penginapan sudah penuh. Well, seneng sih dapet penginapan gratis, tapi kok ya di balai desa, kotor pula gak pernah dipakai? Ya sudahlah, namanya juga gratis, Alhamdulillah ajalah. Akhirnya saya dtt. bergotong royong nyapu dan ngepel membersihkan ruangan. Saatnya memikirkan perjalanan nyebrang ke Sempu esok hari.

Dari gossip yang beredar kami tau bahwa kami harus menginformasikan kedatangan kami ke kantor administrasi setempat, tapi dari gossip yang lain kami juga dapet informasi bahwa kami gak perlu lapor, langsung aja sewa perahu dan nyebrang. Dan kami memilih meyakini gossip kedua. Kami memutuskan untuk nyebrang keesokan paginya, tanpa melapor :-D.

Subuh keesokan harinya, saya udah diuber-uber seorang teman by phone untuk segera ke pelabuhan karena mau nyebrang bareng rombongan lain dan mereka sudah di perahu. Saya yang enggak tau lokasi pelabuhan agak kesulitan menemukan jalan ke sana dan akhirnya menjadi orang terakhir yang naik perahu. Maafkan. Lalu diatas perahu kamipun saling berkenalan. Ternyata rombongan yang kami barengi adalah teman-teman dari Madura semua, bersebelas orang. Wow, ternyata ketua rombongan mereka udah 3 kali ke Sempu dan beliau hafal jalanan di hutan. Hihihihi, ngikuuuuuutt.

Dari awal saya dan dtt. tidak berencana menginap di Sempu, jadi kami sengaja tidak membawa perbekalan makanan sedikitpun. Kami hanya membawa beberapa liter air mineral saja. Tapiiii, setelah menaklukkan hutan Sempu dan menginjakkan kaki di Segara Anakan [tujuan utama sekaligus lokasi kemping di Sempu] , kami tiba-tiba secara spontan bersepakat untuk menginap. Tapi, pertanyaan kami selanjutnya adalah “Mau makan apa di sini?”, “Mau tidur di mana kita, gak bawa tenda juga?”. Daaan, semua pertanyaan itu dijawab oleh rombongan teman-teman dari Madura. Kami ikut menikmati perbekalan makanan mereka dan juga numpang tidur di tenda mereka, hehehe, terimakasiiiiiihh.

Jadilah perjalanan ke Sempu menjadi luar biasa lengkap dan sempurna buat saya. So, cerita tentang explorasi Sempu di judul selanjutnya, yaaaaa??? :-D

P.S:

Ini ada beberapa gambar pantai di dalam Pulau Sempu. Gak sabar upload foto euy. Cara ke pantai-pantai cantik ini nanti, yaaaa?

Menuju Sempu dari Terminal Malang.

Terminal Malang => Terminal Gadang => Turen (bukan terminal, tapi tempat ini sangat terkenal) => Sendang Biru => Sempu deh :-D

Danau Segara Anakan di pagi hari. Hijauuuuu banget!

Pagi hari danau masih kering belum dapet supply air laut.

Pantai Kembar dari satu sisi.

Inilah si cincin tempat lewatnya air laut sebelum akhirnya jadi danau Segara Anakan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.