RSS Feed

Perjuangan Menemui Sang Legenda dari Italia Yang Murah Senyum :-)

Posted on

Indonesia merupakan negara dengan penggemar Moto GP yang amat sangat banyak. Saking banyaknya, pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa, sampai heran karena Indonesia enggak menyelenggarakan Moto GP, enggak pula punya pembalap yang membalap di Moto GP, tapi penggemar Moto GP luar biasa gila di sini. Saya juga heran karena saya adalah penggemar yang segitunya…

Dari semua rider Moto GP yang ada, saya bisa bilang bahwa Valentino Rossi—atau dikenal dengan VR46 dengan warna kuning sebagai simbolnya—adalah pembalap yang mempunyai penggemar paling banyak jumlahnya. Kenapa saya bilang paling banyak? Karena setiap pemandangan di sirkuit, yang tampak mencolok adalah warna kuning di mana-mana. Belum lagi adanya tribun khusus VR46 walaupun si pembalap tidak sedang membalap di “rumahnya”. Si pembalap legendaris itu bisa punya tribun khusus tidak hanya di Italia, tapi bahkan di Sepang Malaysia. Sadisnya, tiket tribun beliau terjual ludes alias sold out!

Dua tahun berturut-turut mengunjungi Sepang, saya selalu takjub dengan penggemar VR46, jumlahnya unlimited dan enggak pernah berkurang, justru malah bertambah. Ketika saya berjalan di area booth, booth yang gak pernah sepi adalah booth yang menjual VR46 racing apparel. Padahal, racing apparel itu tergolong mahal. Kalau iseng pengen beli gantungan kunci VR46, kita mesti rela membayar sekitar Rp 120.000,- Kalau mau kaos oblong, sekitar Rp. 700-900.000,- tergantung model dan ukuran. Belum kalau mau beli helem, mahal bingits pasti. Hebatnya, asal produk VR46, pasti ludes-ludes aja. Ketika mengunjungi sirkuit saat gelaran Moto GP, seberapapun uang yang kita punya, seolah enggak berarti banyak.

Kembali ke Valentino Rossi. Berdasarkan berita yang saya baca, dia digambarkan sebagai sosok yang sangat ramah dan mencintai penggemarnya. Saya pun pengen membuktikannya sendiri sekaligus ingin menikmati euphoria bergerombol dengan pasukan kuning lainnya dari seluruh penjuru dunia.

Tahun 2013 di GP Sepang, saya cukup beruntung karena secara kebetulan saya bisa ikut Pit Lane Walk sesaat sebelum saya ingin meninggalkan sirkuit. Sebagai amatir waktu itu, saya tidak tahu acara GP apa saja, jadi begitu free practice selesai saya bersiap pulang. Tiba-tiba, mata saya melihat barisan manusia yang antri mengular. Setelah bertanya, ternyata itu barisan menuju garasi rider. Spontan saya ikut berpanas-panas mengantri. Setelah berjuang dalam antrian sekitar satu jam lebih, kami diperbolehkan masuk melalui jalur tertentu menuju garasi rider. Wooooow, keren! Rasanya mau teriak kenceng karena untuk pertama kalinya bisa lihat langsung dari dekat motor-motor yang dipakai balap itu. Asli loh, bukan replika! J

Karena fokus utama saya adalah Valentino Rossi, saya melihat garasi Honda, Ducati dll secara kilat. Kaki langsung melangkah menuju garasi Yamaha di mana sudah berkumpul banyaknya manusia berkaos kuning dan berteriak memanggil Valentino. Dikarenakan badan saya kecil, saya akhirnya berhasil merangsek ke bagian paling depan setelah berdesak-desakan sehingga dengan jelas bisa memandang isi garasi. Tampaklah di depan saya motor bernomor 46 dan 99, motor-motor yang selama ini hanya bisa saya lihat di TV, itupun jaraknya jauh. Motor-motor itu sedang diutak atik oleh mekanik yang ganteng-ganteng, entahlah sedang diapain itu.

Kerumunan di depan garasi Yamaha mulai “gerah” karena sang idola bernomor 46 tak kunjung menandakan akan keluar. Beberapa orang mulai berteriak histeris memanggil. Saat beberapa orang gaduh meminta Vale keluar garasi, tiba-tiba sebuah sekat di dalam garasi dibuka dan tampaklah dari dalam sosok berkaos oblong putih berkaca mata hitam tersenyum ke arah kami sambil melambaikan tangan. Subhanallah, pria itu sungguh berkharismatik sekali. Ganteng banget sebenernya enggak, tapi auranya itu bikin badan kaku dan lebih rela menatapnya saja daripada ngeluarin kamera/hape, hahaha. Sayangnya, mata ini hanya bisa menatapnya selama beberapa detik karena ia lalu masuk ke dalam garasi lagi setelah membuat gerombolan kuning histeris gak karuan. Permainan yang cantik dari sang legenda.

Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, saya dan seorang partner GP merencanakan banyak hal untuk menyempurnakan petualangan kami di sirkuit di Sepang 2014. Kami merasa inilah petualangan terkahir di sirkuit terdekat yang menyelenggarakan Moto GP, tahun berikutnya kami bertekad pindah sirkuit, jadi kami harus melengkapi mimpi di tempat ini.

Mengetahui ada Pit Lane Walk dan sesi minta tanda tangan para pembalap, kami harus ikut semuanya dan mencari posisi terbaik demi bertatap muka dengan sang idola. Nasib baik memang selalu bersama mereka yang mempercayainya. Tralaaa, saya pun berhasil (lagi) mendapatkan posisi terdepan ketika nongkrong di depan pit no 10 alias pit Yamaha setelah mengantri dari jarak 300 meter dari yang terdepan sebelumnya. And guess what?? Pintu garasi Yamaha sengaja dibuka ketika gerombolan kuning datang dan sungguh rejeki luar biasa kalau di dalam garasi itu ada laki-laki berkharisma tinggi memakai topi kuning nomor 46 dikelilingi 2 kru mekaniknya sedang membicarakan sesuatu. Wooww, itulah dia tujuan saya datang ke Sepang! Valentino Rossi…

Setelah mendapat teriakan dari kami, sang pembalap berlogo matahari dan bulan itu melambaikan tangan sambil tersenyum menatap kerumunan orang yang menggilainya. Wau wau wau, the crowd went wild! Setelah berdadah-dadah kepada kami, beliau kembali sibuk berbincang dengan kru mekaniknya di sebuah meja bundar kecil tepat di hadapan kami. Buat saya, hal itu lebiiiiih dari cukup. Menatap dari jarak sangat dekat walaupun yang ditatap sudah pasti gak menatap balik, hehehe. Orang-orang yang di belakang saya masih terus memanggil sang idola, tapi tampaknya beliau sedang sibuk meeting, jadi kurang begitu menggubris.

Sekitar 15-20 menit kemudian, tiba-tiba petugas keamanan mengganti pagar yang tadinya berupa tali biasa menjadi pagar besi. Wah, nampaknya sang idola akan keluar nih kalau pengamanan sudah ditingkatkan begini, hehehe. Bakal kayak apa yah orang-orang gila di sekitar saya ini nanti….

Pelan tapi pasti, Valentino Rossi bangkit dari duduknya sambil senyam senyum dan spontan gerombolan di sekeliling saya menjadi gila, sangat-sangat gila. Tiba-tiba badan saya terjepit dahsyat, itu padahal Vale baru berdiri doang lho. Bisa dibayangkan ketika pemilik nomor paten 46 itu berjalan ke arah kami sambil menebar senyum. Alamaaakk, badan saya rasanya seperti terjepit parah. Saya pikir saya akan pingsan dan terinjak-injak lalu meninggal, sayapun beristighfar sambil menatap pergerakan sang idola sambil berdoa jangan mati di sini, konyol banget dan enggak khusnul khotimah.

Beruntung tangan saya bergerak cepat untuk memotret idola sejati dari dekat (sambil tetep berdoa biar saya selamat dari kerumunan orang gila ini heheh). Saya rasa satu foto sangat sangat cukup dan saya enggak berniat untuk teriak-teriak minta tanda tangan. Setelah berhasil mendapat fotonya, saya pasrah aja terjepit-jepit gak keruan, toh niat untuk melihat idola tanpa jarak sudah terkabul, hehehe. Sementara itu mas-mas petugas keamanan teriak-teriak minta Vale disuruh mundur dulu karena fans makin gila dorong-dorongan merangsek ke pagar besi. Bener-bener gila. Untungnya saya ga segila itu sih, hehhee.

Pelan tapi pasti, Vale hilang dari pandangan. Kami mulai diusir-usir untuk meninggalkan area pit. Lalu bertemulah saya dengan partner GP saya. Dia ternyata dari tadi nongkrong di pit Ducati yang berada di sebelah Yamaha (partner saya gak menyukai pembalap manapu, cuma suka Ducati) dan ketika Vale berjalan meninggalkan Yamaha, dia sempet juga mengabadikan foto sang idola yang jalannya kayak robot itu, hehehe. Tapi bukan itu sih yang bikin saya terharu. Menurut cerita temen saya itu, si Vale udah berjalan menjauh dari keramaian, tapi mendadak ada ibu-ibu berjilbab lebar (jilbab ya, bukan kerudung) dan berbaju gamis bersama anak kecil berkostum balap yang meneriakinya untuk minta foto bareng. Bisa ketebak dong apa yang terjadi? Exactly, si pembalap Italia itu mendekati si ibu dan anak kecil itu untuk berfoto-foto bersama sebentar lalu kembali berjalan menjauh.

Gila yah? Dia segitunya sama ibu dan anak itu. Salut! Kalau sama penggemar muda, dia gak terlalu peduli, tapi kalau ibu-ibu or anak-anak, dia tampaknya lebih memperhatikan. Ah, Vale, makin bangga deh mengagumimu! Semoga takdir kembali mempertemukan kita di Philip Island tahun 2015. Hahahaha…

photo

Ke Sirkuit? Why Not!

Posted on

Penggemar balap motor tentu punya mimpi untuk nonton balapan langsung di sirkuit. Beruntung, saya cukup nekad untuk mewujudkan mimpi kecil itu.

Awal tahun 2013, sahabat sejati saya, penggemar berat Valentino Rossi yang bernomor motor 46, menjejali saya dengan pembalap Italia yang udah veteran itu. Setiap chat, email, WA, apapun medianya selalu ngomongin Rossi dan kehebatannya di dunia balap motor MOTO GP. Lama-lama, saya penasaran dengan sosok Valentino. Mendengar cerita dan membaca link yang diberikan sahabat saya, Vale adalah manusia hebat yang membuat saya penasaran. Saya mulai mencoba nonton Moto GP di stasiun TV swasta pertengahan tahun 2013. Rasanya membosankan. Balap motor cuma muter-muter gak jelas dan kalau udah di depan pasti menang. Itulah yang ada di kepala saya saat itu. Sosok Valentino Rossi pun sangat jauh dari hebat. Sampai akhirnya balap Assen tahun 2013 dimenangkan Valentino dan entah mengapa sejak itu saya jadi suka nonton Moto GP. Saya mulai menemukan “excitement” balap motor yang tadinya saya anggap muter-muter gak jelas.

Sejak Assen 2013, saya mulai berpikir untuk nonton langsung di sirkuit. Alasan saya sederhana, pengen lihat aja Valentino Rossi itu orangnya seperti apa dan pastinya pengen lihat langsung seberapa cepat motor super cepat itu. Saat itu boro-boro saya tahu balap motor, yang saya tahu cuma Valentino, Marc Marquez, Pedrosa, dan Lorenzo. Sisanya saya sama sekali enggak tahu. Bahkan saya juga enggak tahu qualifikasi itu apa, free practice itu apa, fungsinya apa dll. saya sama sekali enggak paham, tapi teteup, pengen ke sirkuit. Sayapun mencari info ke Sepang International Circuit dan mencari pasukan ke sana—yang ternyata gampang dicari!

Tahun pertama nonton Moto GP tahun 2013, saya bersama 6 teman lain, sayangnya satu teman mendadak sakit pas hari H, jadilah teman saya cuma 5, plus saya jadi 6. Enam orang dari Jakarta menuju Sepang ternyata sangat seru! Walaupun sebenernya sayang sih tiket temen yang sakit hangus semua…

Kami membeli tiket pesawat Air Asia dengan harga PP hanya Rp.800,000. Hebatnya, saat saya berniat memebeli tiket GP, kami masih bisa mendapatkan harga early bird langsung di sepangcircuit.com. Dengan posisi di tikungan pertama (yang berbentuk seperti huruf S) kami hanya membayar sekitar Rp. 350.000. Sangat-sangat murah! Untuk tiga hari pula, dari hari Jum’at sampai Minggu. Dan untuk penginapan, kami mendapat tempat yang amat sangat murah di wilayah KL Sentral. Dengan menyewa satu kamar berisi 4 orang, kami masing-masing hanya membayar Rp. 80.000,- per malam. Kamarnya AC pula. Okey banget kan?

Nah, karena lokasi sirkuit ada di Sepang, sangat jauh dari KL Sentral, kira-kira 1 jam 15 menit dengan bis, kami perlu public transport untuk mengangkut kami ke sana. Setelah menyusuri dunia maya, akhirnya saya menemukan sebuah bis yang memang dikhususkan untuk mengangkut penggemar Moto GP dari KL Sentral ke Sepang. Biayanya pun terjangkau, cuma sekitar Rp. 110.000,- PP. Kalau sekali jalan mahal, Rp 66.000,-. Selain dari KL Sentral, bis khusus Moto GP juga ada di KLCC dan KLIA 2 (Bandara Budget Airline). Biaya dari KLCC sama kek dari KL Sentral, kalau dari KLIA 2 ke sirkuit Sepang cuma Rp. 37.000,- dengan waktu tempuh cuma 15 menit. Sayang sih, mendingan naik dari jauh sekalian hehe.

Saya cukup kagum dengan Malaysia karena Moto GP ini sangat mudah dijangkau berbagai kalangan. Saya pikir awalnya ribet dan membingungkan dan mahal, ternyata semua mudah dan menyenangkan. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika berada di dalam bis menuju sirkuit. Selama perjalanan 1 jam 15 menit itu, kuping kita dimanjakan dengan bahasa dari berbagai penjuru dunia. Ada Bahasa Inggris dengan berbagai aksen, lalu terdengar pula Bahasa Spanyol, Bahasa Belanda, Mandarin (ini mah di mana-mana kayaknya yah, hehe), Bahasa Portugis (ngasal sih, saya ga tau bahasa ini berbunyi gimana), Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dll yang saya gak kenal sama sekali bunyinya. Saat itu adalah saat saya merasa menaiki bis terkeren di seluruh dunia, saya merasa sedang di bis PBB, hehehehe.

Di sirkuit, pengunjung GP disuguhi berbagai acara yang memungkinkan mereka bertemu pembalap idola, dari sesi Pit Lane Walk (mengunjungi garasi pembalap), autograph session (sesi tanda tangan rider Moto GP), sampai kemunculan pembalap di booth pabrikan motor yang dibelanya. Karena baru pertama kali, saya enggak tahu ada acara semacam itu dan terlewatlah acara sesi tanda tangan. Beruntungnya, saya dan satu teman (teman yang lain jalan-jalan ke KL karena disangka di sirkuit begitu-begitu aja) bisa ikut Pit Lane Walk yang memungkinkan saya melihat Rossi secara langsung! Yaaa walaupun cuma semenit tapi paling tidak saya udah melihatnya langsung, hehehe. Dan di kesempatan lain, saya puasss mangkal di booth Ducati sambil memelototi pembalapnya Andrea Dovisioso (saya tahun lalu sama sekali gak tahu kalau dia pembalap Moto GP) yang bagi-bagi poster plus tanda tangannya. Karena saya enggak butuh posternya, saya hadiahkan ke sahabat saya yang memperkenalkan saya dengan Moto GP ini, hehehe.

Keseruan nonton di Sepang tahun 2013 membuat saya makin gila dengan Moto GP. Tahun 2014 ini saya dan teman yang sama niat nonton lagi. Kali ini cuma berdua karena teman-teman yang lain pada gak bisa nonton. Apesnya, kami berdua terlanjur kepedean setengah dewa bahwa harga early bird bisa kami dapatkan di bulan yang sama dengan tahun sebelumnya, yakni maksimal pembelian 31 Juli. Pas ngecek harga bulan April (atau Mei ya, lupa) ternyata hanya ada satu harga. Saya pun mengirim email ke admin untuk menanyakan harga early bird. Bagai dihantam badai di siang bolong, kami terhenyak karena early bird udah gak berlaku semenjak akhir Januari (untuk situs motogp.com) dan Maret (atau April yah, lupa lagi) untuk situs sepangcircuit.com. Aaahh, rasanya nyeseeelll banget. Tapi dasar udah gila, kami beli juga tiket harga normal itu setelah membanding-bandingkan harga di berbagai situs penjualan tiket. Saya sangat termotivasi karena ada tribun khusus penggemar Valentino Rossi di GP Sepang. Setiap pembelian tiket, kami akan mendapat bendera kuning berangka 46 dan topi kuning berangka sama. Okelah untuk harga sekitar Rp 800.000 di spot yang sama seperti tahun sebelumnya. Penginepan, airline yang digunakan, semuanya sama dengan tahun lalu. Bedanya tahun ini lebih terencana jadi kami gak gembel-gembel amat di Negara tetangga, hehehehe..

Ayoklah yang pada menggemari nonton Moto GP melipir ke sirkuit sebelah. Kalau punya rejeki lebih bisa menclat ke sirkuit terindah Philip Island…. *lalu menutup tulisan ini dengan do’a agar tahun depan bisa nonton Moto GP di PI*

Hola! Me llamo Pedro(sa)

Posted on

Bulunya putih bersih (kecuali ketika abis gulung-gulung di tempat kotor), matanya biru dan suaranya cempreng super manja. Kenalkan, namanya Pedro. Nama panjangnya Pedrosa.

Dua tahun lalu, ada seekor kucing kecil yang tiba-tiba nongkrong di teras rumah dan enggak mau pergi. Mungkin ketika itu umurnya baru sebulan atau 3 minggu karena ia tampak sangat sangat kecil imut tapi menyebalkan. Dia tampak sendiri tanpa induk ataupun teman. Dia hanya duduk diam di teras dan enggak macam-macam pada hari pertama. Karena kasihan, adek saya memberinya makan. Adek saya dari dulu memang udah sering ngasih makan kucing yang mampir ke rumah, gak seperti saya yang aslinya dulu benci sama kucing. Sejak itu, si kucing kecil sama sekali gak pernah meninggalkan rumah kami.

Setelah beberapa hari, si kucing kecil makin rese. Dia mulai ngaing-ngaing kalau minta makan. Yang paling menyebalkan adalah ketika dia selalu mengikuti kaki ke manapun melangkah kalau dia belum diberi makan sehingga kaki sering keserimpet si kucing. Saya adalah orang yang paling sebel dengan kedatangan si kucing di rumah saya pada awalnya. Saya beberapa kali menendang si kucing ketika kaki saya keserimpet badannya yang menempel kaki saya. Tentu nendangnya enggak serius dan enggak pakai tenaga, hanya sekedar menyemplakkan kaki saya ke badannya biar dia sadar kalau saya enggak suka dengan dia. Tapi percuma sih, tetep aja dia nggelendotin kaki saya dan kaki siapapun yang ada di rumah. Bener-bener kucing yang punya karakter, ndablek kalau kata orang jawa.

Entah bagaimana ceritanya, saya tiba-tiba suka sama si kucing. Kira-kira setelah 6-7 bulan sejak kedatangannya ke rumah, hati saya luluh juga sama keimutannya. Hal pertama yang membuat saya suka padanya adalah matanya yang biru. Saya kan penyuka manusia-manusia bermata biru, jadi saya juga harus suka kucing bermata biru, begitulah alasan yang saya ciptakan kalau ditanya kenapa suka sama si kucing. Karena alasan warna matanya itu pulalah saya mantap menamainya Pedrosa; nama orang bule yang saya pinjam untuk kucing bule saya. Mungkin penggemar balap Moto GP tanya, kok enggak Marquez atau Rossi, kenapa Pedrosa, kan saya pengagum Rossi? Entahlah, saya enggak bisa jawab.

Banyak orang (termasuk saya dulu) bilang bahwa kucing itu mempunyai sifat negatif, seperti suka nyolong, enggak setia dengan pemiliknya dan enggak bisa diajarin ini itu. Well, yea, ada benernya tapi hampir semua sifat-sifat itu enggak dimiliki Pedro.

Pedro setia. Untuk ukuran kucing dia amat sangat setia dengan kami sekeluarga selaku juragan dia. Kalau ibu saya belanja pagi ke tukang sayur, si Pedro akan menguntit di belakang sampai di suatu ujung jalan. Dia memang enggak akan “nganter” ibu saya sampai ke penjual sayur karena mungkin terlalu jauh (dia enggak suka pergi jauh dari rumah, sejauh-jauhnya cuma jarak 5 rumah aja). Di suatu ujung jalan itu dia berhenti lalu menghilang, mungkin masuk ke dalam rumah tetangga. Kerennya, si Pedro muncul ketika ibu saya balik dari warung menuju rumah. Begitulah yang diceritakan ibu saya ke saya hampir setiap hari.

Pedro emang paling suka menempel dan mengendus kaki siapapun di keluarga kami. Tempat favoritnya adalah dapur. Kalau ibu lagi masak, Pedro pasti duduk manis di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dia enggak ngapa-ngapain, cuma semacam nemenin ibu masak. Ya mending dia bisa bantuin nyuci piring atau ngambilin cabe, dia kadang malah tidur. Pokoknya dia hanya ingin dekat dengan juragannya.

Kadang saya mendapati Pedro tidur pulas di dapur di bawah kursi makan atau di atas keset di belakang pintu dapur. Dan sering pula ketika saya lewat dapur mau ke kamar mandi saya ngeliat posisi tidurnya yang meliuk persis kek kucing lagi yoga. Biar gak mengganggu tidurnya, saya melangkah pelan ke arah kamar mandi. Dan sungguh luar biasa ketika saya keluar kamar mandi, saya mendapati si Pedro sedang duduk manis di keset depan pintu kamar mandi sambil memandangi saya keluar kamar mandi. Pertama kali mengetahui itu saya heboh cerita ke seluruh orang, sekarang udah biasa karena Pedro selalu menunggui saya kalau saya lagi di depan kamar mandi. Dan ini dilakukan ke seluruh keluarga saya, ke adek, ibu, dan bapak. Semua ditungguin sama Pedro kalau lagi di dalam kamar mandi.

Pedro gak suka mencuri. Pedro memang gak pernah nyolong makanan, tapi dia sering naik ke meja makan yang kosong kalau saya lagi ngeracik makannya. Ceritanya dia suka gak sabar pengen segera makan jadi sampe naik-naik meja. Saya gak perlu nurunin dia dengan tangan saya, saya cukup berteriak dengan nada agak tinggi untuk membuatnya turun dari meja. Setelah itu, dia akan duduk dengan dua kakinya sambil tetep cerewet ngeong-ngeong tanpa berani lagi naik ke atas meja. Keren yah?

Dulu saat bulunya rontok parah, ibu saya melarang Pedro masuk rumah biar bulunya gak nempel ke makanan dan pakaian di dalam rumah. Dia hanya boleh berada di teras dan gak boleh masuk. Namanya juga kucing, kadang nyolong-nyolong masuk kalau pintu lagi terbuka. Lucunya, walaupun sedang berlari-lari kecil menuju dapur dari arah teras, si Pedro akan mendadak menghentikan langkah lalu berbalik arah menuju teras lagi kalau sudah denger teriakan ibu, “E…e…e” dengan nada tinggi. Keren kan? Saking senengnya ibu sama adegan ini sering dengan sengaja buka pintu biar si Pedro masuk lalu si Pedro akan diteriakin biar dia berhenti berlari dan berbalik arah kembali menuju teras.

Saking cintanya saya sama si Pedro, kalau Pedro sakit dikit saya pasti panik parah dan bahkan pernah nangis waktu sholat mendoakan kesembuhan untuk kucing tersayang. Waktu itu si Pedro sakit parah dan saya berkali-kali gagal bawa dia ke dokter. Ya begitulah, cinta itu sangat universal dan enggak beralasan khusus. Pedro adalah bagian dari keluarga saa sekarang.  Te amooo, Pedro….

My boss' bags are comfortable!

My boss’ bags are comfortable!

la foto (3)

I am sleepy

Am I cute?

Am I cute?

Akhir Kesendirian Sementara

Posted on

Dua belas jam di bus tingkat tak terasa melelahkan karena pulas tertidur sepanjang malam. Memasuki wilayah Bangkok, situasi jalanan sama seperti Jakarta, padat merayap sedikit harapan. Kira-kira jam 7 pagi, sampai jugalah bus di sebuah terminal yang sangat luas dan ramai yang bernama Mo chit. Tempat pertama  yang saya tuju adalah pos keamananan di mana saya menanyakan lokasi wartel atau telepon umum. Oleh bapak petugasnya, saya malah secara mengagetkan disuguhi pesawat telepon dan dipersilakan memencet nomor yang saya tuju secara gratis. Wow, baik sekali! Setelah berterimakasih, saya langsung tersambung dengan saudara angkat saya yang berencana menjemput saya di terminal. Sayang sunggung sayang, si anak itu sedang ujian di kelasnya—dia seorang mahasiswi—dan dia baru bisa ada di terminal jam 11—apaaaahh, jam sebelaasss…. Bayangan akan segera bertemu orang yang saya kenal segera memudar, masih harus menunggu, saya masih harus bengong-bengong dulu sendirian sampai beberapa jam ke depan. Fiuh!

Dengan pasrah saya menutup percakapan via telepon dan spontan berpikir bagaimana menghabiskan waktu dari jam 7 ke jam 11 di sebuah terminal. Saya putuskan untuk melihat-lihat seluruh terminal aja untuk membunuh waktu sambil mencari tau ada apa di situ. Ternyata, di dalam terminal ada mini market 7-11—jangan dibayangkan café-nya karena di Thailand 7-11 cuma berupa toko aja tanpa café—lumayan untuk mencari sarapan, lalu kalau kita mengikuti jalur setelah keluar dari 7-11 kita akan sampai di barisan pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam produk, mulai dari makanan sampai sepatu, tas, dll. Mirip pasar di sekitar stasiun Jatinegara. Tanpa berniat membeli, saya hanya berjalan ke sana ke mari. Di sebuah sudut yang berseberangan dengan lokasi 7-11, saya mendapati banyak kendaraan umum untuk menjangkau luar kota Bangkok, lengkap rupanya. Saya mulai membayangkan ke tempat-tempat tujuan yang tertera di papan informasi, menggiurkan, tapi tidak untuk dicoba sekarang.

Terminal Mo chit disebut juga terminal utara, mungkin karena terletak di Bangkok belahan utara, gak jauh dari pasar bombastis dan fantastis Catuchak—pasar superrrrr luas dengan harga murah yang beroperasi hanya Sabtu-Minggu. Ngomongin pasar, Catuchak ini katanya merupakan pasar akhir pekan terbesar di seluruh dunia, apa aja bisa didapat di sini; baju, makanan, souvenir, peralatan rumah tangga, bahkan binatang peliharaan. Pasar ini juga dikenal sebagai J.J market. Menurut penduduk lokal, produk yang dijual di pasar ini tidak semuanya kelas murahan. Memang kita bisa mendapatkan barang-barang bekas di sini, tapi ada banyak produk yang berkualitas bagus yang dijual dengan harga lebih murah daripada di mall. Untuk ini saya belum pernah membuktikannya, ya, karena saya bukan orang yang gila belanja, hehe. Sebagai gambaran betapa murahnya produk di pasar ini, saya pernah membeli rok ala Thailand seharga 150 Baht—sekitar 50.000 Rupiah—yang kalau udah masuk mall di Jakarta harganya 200.000 Rupiah. Wajar sekali karena ongkos rok itu mahaaallll :-) Kalau mau beli oleh-oleh, pasar ini merupakan pilihan yang tidak mengecewakan untuk belanja buah tangan.

Balik lagi ke terminal, setelah lelah ngider-ngider terminal, saya masih mati gaya menunggu jam 11. Hari itu adalah hari Jum’at 9 November 2012, dan saya memutuskan untuk membunuh sisa waktu di warnet—gak ada hubungannya, hahaha. Sewa internet di lokasi terminal Mo chit per jamnya seingat saya 20 atau 25 Baht, deh, lupa pastinya. Setelah tiga jam bermain Facebook, Twitter, email, dll, akhirnya ketemu juga saya dengan keluarga angkat saya, si anak yang mahasiswi  dan papa angkat saya. Kamipun berpelukan sambil ketawa-tawa setelah persis lima tahun gak pernah bertemu. Bagi saya, pertemuan dengan mereka tentu saja akhir dari solo trip yang menyiksa, tanpa teman. Untuk sementara, saya akan selalu mempunyai kawan, hohoho.

Untuk melepas kangen, saya hanya berada di rumah seharian beserta seluruh keluarga angkat saya yang Bahasa Inggrisnya amat sangat terbatas; hanya si mahasiswi yang bagus bahasa Inggrisnya sehingga dia juga berperan sebagai penerjemah untuk membantu kami berkomunikasi. Mama angkat yang tinggal dan bekerja di luar kota Bangkok hari itu menyempatkan pulang ke Bangkok demi bertemu saya. Mengharukan sekali. Saya pun selalu sangat menyenangkan berada di tengah keluarga angkat Thailand ini. Mereka selalu gembira dan senang kalau saya udah mulai cerita—walaupun tetep si anak nanti akan bercerita dalam bahasa lokal, hehe—dan mereka selalu menanyakan saya mau makan apa dan mau pergi ke mana. Sungguh beruntung saya dipertemukan dengan keluarga ini, selalu membuat saya terharu dengan semua ketulusan mereka serta pujian-ujianya untuk saya :-)

Hari itu saya dijamu makanan kesukaan saya—mereka masih ingat banget makanan kedoyanan saya walaupun lima tahun telah berlalu—tom  yam dan papaya salad! Nah, sekarang tibalah saatnya ngomongin makanan, nyam, nyam. Menurut Wikipedia, Tom yam berasal dari kata “tom” yang artinya proses rebusan dan “yam” yang artinya sayuran pedas dan asam. Jadi, tom yam ini merupakan sayuran berkuah kental dengan campuran udang atau kepiting yang rasanya asam, pedas, manis, enak banget deh, hehehe. Makanan ini merupakan masakan khas Thailand dan Laos, sangat lezat di lidah saya. Nah, kalau papaya salad, itu menurut saya sih semacam rujak pepaya muda yang masih mentah. Jadi, pepaya mudanya diiris tipis lalu dicampur kacang panjang, terung Thailand , tomat muda mentah lalu dikasih cabe, limau, gula dan seafood—biasanya kepiting dan udang. Awalnya agak aneh juga sih makanan itu, rasanya gak nyambung, buah sayur mentah dan bumbu-bumbu plus seafood pula, gak wajar di lidah saya. Ternyata saya ketagihan campuran rasa pedes, asem, dan manis itu. Karena keterbatasan—sebagai muslimah—kulineran, kedua makanan itu sudah merupakan yang terbaik.

Setelah melewatkan makan siang dan makan malam, saya dan saudara angkat mulai membicarakan rencana liburan bersama ke sebuah pulau di sebrang Pattaya. Awalnya saya yang mengajak ke Pattaya, tapi menurut saudara angkat, sebaiknya kami nyebrang dari Pattaya ke sebuah pulau yang indah dan keren, Kah Larn. Waah, saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, dan tentu saja saya tidak keberatan datang ke sana karena obsesi saya adalah mendatangi tempat-tempat yang tidak begitu dikenal dunia tapi indah, kapan lagi, kan? Segeralah kami menyusun acara liburan singkat itu dengan memesan kamar penginapan di pulau tersebut, memilih-milih pantai mana saja yang akan kami kunjungi dan transportasi apa yang akan kami gunakan selama di pulau, sewa motor atau ojek. Semua tampak sangat menyenangkan dalam imajinasi saya; kami akan berangkat Sabtu pagi dan pulang kembali ke Bangkok Minggu sore. Begitulah rencana yang saya bayangkan akan menyenangkan luar biasa. Sayangnya, kenyataan tak pernah selalu seindahrencana, tapi saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati apapun, hehehe……

Unfortunately, I forget the name of this area...

Unfortunately, I forget the name of this area… Ini berada di kota Bangkok.

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

Papaya salad yang saya ambil dari internet, hehe

 

 

 

 

 

 

 

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!

Sup ini lezaaattttt banget, sumpah deh!

Betapa Berharganya Uang (Recehan)!

Posted on

Seharian berada di Phi-Phi Island membuat saya sadar bahwa pulau itu bukan tipe pulau saya. Kenapa? Karena tempat itu ramainya sungguh luar biasa sehingga saya kurang bisa menikmati alamnya. Bener bahwa airnya jernih dan tebing-tebing yang kita liat di film The Beach itu memang ada (ya iyalaaa), tapi banyaknya wisatawan di situ membuat semua terdengar gaduh. Tapi serunya, saat itu saya merasa seperti sedang tidak di Asia karena melimpah ruahnya bule yang berada di area itu. Kalau aja para pedagang asongan juga bule, pasti saya beneran sedang tidak di Asia. Salut pada pemerintah lokal yang mampu “mengundang” orang-orang seluruh dunia untuk datang ke lokasi syuting film Hollywood itu.

Sorenya kami kembali nyebrang meninggalkan Phi-Phi Island menuju ke lokasi awal penjemputan, para peserta tur akan dikembalikan ke tempat tadi dijemput. Karena di awal perjanjian saya diberitahu akan diantar ke terminal bus menuju Bangkok, saya pun diangkut dengan mobil yang berbeda dengan rombongan paginya. Sekali lagi saya terkesan dengan kerapihan pengorganisasian wisatawan yang ikut agen tur lokal, tersistem baik. 

Setelah kira-kira sejam bermobil dari dermaga, dengan menurunkan beberapa penumpang di tempat berbeda-beda, sampailah saya di terminal bus yang dimaksud. Tampilan terminal bus yang ini lebih keren dibanding bus dalam kota yang saya singgahi pertama kali saat saya tiba di kota bahari ini. Terminal ini luas, rapi, bersih, dan tampak baru. Dari jalan raya, saya harus berjalan kaki kira-kira 150-200 meter ke arah lobby, cukup jauh dan agak nanjak dikit. Namun sekali lagi saya merasa kagum dengan adanya lobby di sebuah terminal bus, semacam dropp-off penumpang yang diantar (mirip bandara yah?). Membayangkan Jakarta punya terminal bus semacam ini…

Sambil terkagum-kagum, saya melangkah mencari tempat penjualan tiket. Teraturnya tata letak di dalam terminal mempermudah saya mencari apa dan di mana. Mengapa saya masih mencari loket tiket? Karena eh karena si pegawai agen tur Phi-Phi itu hanya menginfokan jadwal bus dan harganya kepada saya. Kata dia, saya sudah dipesankan satu kursi, tapi saya tidak harus bayar dulu, bisa bayar pas di terminal aja. Bagus juga sih karena saya gak perlu repot mencari satu merk bus tertentu di terminal yang semua hurufnya asing buat saya—betapa menderitanya seorang buta huruf, fiuh!

Tapiii, kebutahurufan membuat telinga saya sensitif dan berfungsi maksimal. Begitu mendengar teriakan “Bangkok, Bangkok” dengan logat khas lokal, saya langsung mencari sumber suara. Ternyata lokasi tiket penjualan luar kota Phuket ada di sebuah sudut sebelah kanan. Kalau dari arah luar, saya harus berjalan kaki masuk sebentar lalu berbelok ke kanan. Di situ ada banyak loket yang dijaga ibu-ibu atau embak-embak berteriak-teriak menawarkan bus-nya kepada para penumpang. Saya yang masih kaget—tapi menikmati perbedaan cara penjualan tiket itu—sempet bengong sebelum akhirnya sadar bahwa saya harus segera beli tiket kalau gak mau kehabisan. 

Secara asal, saya mendekati seorang ibu muda yang masih berteriak, “Bangkok, Bangkok.” Darinya saya diberitahu bahwa harga tiket adalah 529 Baht untuk jam keberangkatan yang saya maui dengan estimasi perjalanan 11-12 jam. Saya pikir tidak jauh beda dengan yang diberitahu mas agen tur saya tadi pagi, jadi saya putuskan beli. Malangnya, setelah ngecek dompet, uang saya cuma sisa 510 setelah ikut ke Phi-Phi paginya. Ditambah koin Baht simpanan saya dari jaman dulu, ada cuma 526 totalnya. Saya beritaukan hal itu ke ibu muda penjual tiket dengan harapan dia mau terima kekurangan 3 Baht itu, toh dikit doang kurangnya, hehe. Secara mengejutkan, ibu muda itu gak mau terima, kurang ya kurang, begitu katanya. Yaudah, terpaksa saya menanyakan lokasi mesin ATM agar saya bisa tarik tunai dulu. Sambil berjalan meninggalkan loket, dalam hati saya merutuk, “Kejem banget, ketimbang tiga Baht doang medit amit. Itukan cuma sekitar seribu tiga ratus rupiah. Tega….” Sisi hati malaikat saya angkat bicara, “Yang tiga Baht itu mungkin keuntungan dia, wajar dia pertahankan.” Dan sayapun terus berjalan.

Ternyata, mesin dewa ATM itu lokasinya nun jauh di luar terminal, kira-kira berjalan kaki 15 menit, PP ya setengah jam. Dan ya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, udah jauh gilak begitu lokasinya, mesin ATM cuma ada satu dan itu juga bukan yang berlogo VISA. Yaudah nasib, kembali ke terminal tanpa membawa Baht tambahan. Saat itulah saya tiba-tiba merasa kangen rumah dan pengen pulang! Ooops, badai pasti berlalu. Santaiiii…. *moral story, uang bisa membeli segalanya*

Kembali ke penjual tiket yang sama, saya ceritakan perihal ATM dengan muka memelas. Sambil ngomong dengan bahasa yang saya tak mengerti dia menyodorkan saya secarik tiket dan meminta uang saya. Whohoho, dia akhirnya gak masalah dengan kekurangan 3 Baht itu rupanya! Mungkin dia memberi tiket itu sambil merutuk-rutuk, “Kalau gak punya duit jangan jalan-jalan, di rumah aja!” Hahaha. Legaaaa, walaupun berbekal nol Baht beredar di negara orang, saya tetap percaya akan adanya mesin ATM di suatu tempat nanti, hohoho. Tapi emang ya, gak ada usaha yang sia-sia, semua pasti dihargai oleh Tuhan segala usaha kita. Usaha jalan kaki ke mesin ATM nun jauh di mato berbuah belas kasihan si ibu penjual tiket! :-)

Saya pun segera bertanya keberadaan bus yang akan saya tumpangi. Dengan menunjukkan tiket kepada orang yang saya tanyai, taulah saya harus menunggu di platform mana sebelum akhirnya saya menumpang bus double-decker itu.

Kursi duduk saya ada di lantai dua bus, pas dengan selera saya. Saat saya masuk, bus udah siap berangkat dengan kebanyakan penumpang adalah warga lokal. Seingat saya hanya ada 3 bule duduk di kursi paling depan lantai dua bus itu dan saya sendiri sebagai penumpang asing. Bahasa yang mereka gunakan membuat saya tau apakah penumpang orang lokal atau asing. Kelegaan saya terus berlanjut menyadari kalau bus itu nyaman, bersih dan tidak ugal-ugalan selama perjalanan. Penumpang difasilitasi toilet di lantai 1 bus, selimut, snack dan air mineral—demi kehalalan, saya enggak makan snack—serta kursi yang bisa untuk tiduran. Buat saya, harga yang saya bayarkan tergolong murah dengan fasilitas yang diberikan, sekali lagi salut dengan pemerintah lokal, lalu membayangkan kalau transportasi di semua wilayah negara saya seperti itu…….ngayal dulu…

Di tengah perjalanan kira-kira pukul 11 malam, bus berhenti di sebuah rest area untuk makan malam dan toilet break. Saya lalu turun untuk melihat makanan, siapa tau ada sayuran, kelaparan melanda. Sayangnya, butuh beberapa detik buat saya untuk menyadari bahwa kalau mau makan ternyata kita harus bayar karena itu bukan fasilitas dari bus untuk penumpang. Dari beberapa orang yang makan, saya tau kalau makanan di situ harganya murah. Tapiiiii, murah tidak sama dengan gratis!  Huh, lagi-lagi uang adalah masalah saya. Segera saya menyisir lokasi untuk mencari mesin ATM berlogo VISA. Begitu ketemu yang saya cari, semangat saya naik lagi ke puncak. Saya siap makan, hohoho… Berhubung Thailand bukan negara yang mayoritasnya penduduknya muslim, saya memilih menu sayur-sayuran aja biar aman. Weelll, itupun sebenernya jelas enggak aman kalau mau mikirin cara masaknya. Wallahu’alam, saya butuh asupan untuk petualangan di Bangkok esok hari.

 Image

Image

kado ultah ternekadku untuk aku

Posted on

Hari Kamis, 8 November 2012, akhirnya tiba juga. Hari itu adalah hari istimewa karena saya berulang tahun, dan lebih istimewa lagi karena saya benar-benar enggak ada rencana mau ke mana selama di Phuket. Setelah browsing internet dan menghubungi saudara angkat di Bangkok, saya akhirnya memutuskan untuk naik bus dari Phuket ke Bangkok malam harinya. Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran adalah, “Di manakah terminal bus yang akan mengangkut saya ke Bangkok?” “Sebelum malam tiba mau ke mana dan ngapain?” “Kalau nanti ke suatu tempat lalu (malah) ketinggalan bus ke Bangkok gimana?” dll. Sambil memikirkan jawabannya, saya mencari bus ke luar bandara, yang terjadi terjadilah, saya siap-siap aja menghadapinya berbekal 2000 Baht di kantong, hohoho.

Perjalanan dari bandara ke kota Phuket kira-kira 1.5 jam (saya lupa sih sebenernya, cukup jauhlah dan busnya cukup pelan-pelan) dengan biaya 90 Baht (semoga tak salah ingat). Pemandangan menuju kota terasa indah di mata saya, pohon dan hutan serta bukit-bukit bener-bener menyejukkan mata dan hati saya—untuk sementara saya lupa akan prahara hidup saya di negara orang. Memasuki area perkotaan, suasana masih sangat menyenangkan; sejuk, hidup, santai dan ramah. Dalam hati saya berkata, “Sebenernya, beginilah kota impian saya untuk tinggal.”

Bus dari bandara tersebut akhirnya memasuki area terminal bus kota yang ternyata merupakan tujuan akhir. Untuk ukuran terminal bus kota, terminal tersebut sangat sepi. Pada saat saya datang, hanya ada beberapa bus bandara, beberapa kendaraan yang kalau di Jakarta disebut opelet, dan beberapa supir taxi. Ternyata, kalau dari terminal tersebut memang taxi adalah moda transportasi andalan. Ke manapun tujuan kita pasti akan diantar asal kita sanggup bayar. Ngomong-ngomong soal bus, otak saya langsung berpikir cepat bahwa bus yang akan mengangkut saya ke Bangkok tidak berasal dari tempat itu. Saya pun memutar otak gimana caranya untuk mendapatkan tiket bus ke Bangkok dulu sebelum jalan-jalan di Phuket. Setelah disarankan untuk menggunakan jasa taxi, saya memutuskan untuk angkat kaki dari terminal dalam kota tersebut (saya lupa euy nama terminalnya).

Tanpa tau arah dan tujuan, saya melangkah keluar. Di sebuah warung makan saya bertanya tentang transportasi umum. Jawabannya sungguh diluar dugaan. Saya hanya mendapatkan bahasa isyarat dan senyum manis yang saya gak mengerti artinya. Selang beberapa menit dia berteriak ke arah bangunan ruko di samping warung itu pada orang sebelah dengan bahasa lokal. Barulah saya mengerti kalau orang yang saya tanyai tersebut tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun meninggalkannya sambil mengucap “Thank you” dengan senyum tak kalah manis menuju orang yang bisa berbahasa Inggris dimaksud.

Ternyata orang yang bisa berbahasa Inggris tersebut adalah pegawai agen tour & travel. Bangunan ruko itu merupakan kantornya. Saya pun segera menanyakan transportasi umum ke terminal yang ada bus jurusan Phuket-Bangkok. Apakah anda bisa menduga jawaban yang diberikan kepada saya? Yup, saya malah ditawari paket tur yang dia punya dan pulangnya akan langsung diantar ke terminal yang saya mau atau di manapun tempat saya menginap. Dia juga mengatakan bahwa dia bisa memesankan tiket bus ke Bangkok kalau saya mau. Waaahh, orang ini sakti sekali, saya bersyukur dalam hati dipertemukan dengan orang sesakti ini—kekaguman yang akhirnya pudar seiring berkahirnya tur. Dia lalu menjelaskan paket-paket wisata yang dia miliki beserta dengan harga-harganya yang saya dengarkan sambil mikirin uang saya yang cuma 2000 Baht minus ongkos dari bandara, tinggal 1910. Setelah dipotong biaya bus ke Bangkok sekitar 500an Baht, uang saya tinggal 1510 yang artinya saya ga bisa sembarangan milih paket wisata. Saya pun spontan memeras otak mencari cara agar bisa ke pulau idaman, gak tau caranya gimana…

Buat saya, uang bukanlah segalanya, kepuasan hati adalah yang utama. Hati saya sungguh tergoda pas dia menyebut paket tur Phi-Phi Island. Sebagai penggemar berat Leonardo Dicaprio, rasanya wajar menjadikan kunjungan ke Phi-Phi Island sebagai cita-cita. Sebelum mengiyakan tawaran ke Phi-Phi Island, saya meminta dia memastikan bahwa saya mendapat tiket ke Bangkok. Setelah tiket oke, saya mulai serius tentang Phi-Phi Island. Harga yang tertera di brosur sungguh fantastis, 1600 Baht untuk paket satu hari. Abang agen bisa memberi diskon jadi 1500 saja untuk saya karena katanya tinggal 10 menit lagi rombongan tur akan tiba di lokasi saya, jadi saya harus membuat keputusan cepat untuk pergi bersama rombongan ke pulau impian. Dengan muka pasrah tanpa harapan saya bilang kalau uang saya tinggal 1510, saya hanya mau bayar jika harganya 1300—yang mana itu merupakan harga anak-anak yang tertera di brosur. Setelah tawar menawar seru, akhirnya harga paket dilepas di angka 1400. Well, not bad lah ya. Yang penting masih ada sisa 110, yuhuuuyy…. Phi-Phi Islaaaand, I’m coming to you… Right on my birthday! Very Happy Birthday to me… :-)

Satu masalah tentang kemana-saya-sebelum-ngebus-ke-Bangkok terselesaikan. Sayapun siap menunggu masalah berikutnya, hehehe….

Image

The gate

Image

It’s so The Beach

Image

Image

A nice proof

 

Lunch coupon in Phi Phi Island

Lunch coupon in Phi Phi Island

Kamu nginep di hotel apa? Kalau aku siiiihh…

Posted on

Menjalani traveling seorang diri pada mulanya bukan merupakan impian saya, tapi ketika saya terpaksa harus menjalaninya, saya memaksa otak dan hati saya untuk menerima ini sebagai hal yang menyenangkan dan keren. Cerita bermula ketika saya dan seorang teman memesan tiket ke Phuket untuk 7 hari di bulan November 2012, tepatnya 7-14 November 2012. Rencananya kami akan ke Phuket dan ke Bangkok. Tidak disangka, menjelang hari H, temen saya itu gak bisa meninggalkan pekerjaanya, dan itu artinya saya harus berangkat sendirian atau menggagalkan kepergian ke Phuket (dan Bangkok). Saya akhirnya memilih berangkat dengan konsekuensi cengok sendirian selama seminggu karena ga ada temen ngobrol plus gak pernah ke Phuket sebelumnya.

Singkat kata, saya mulailah perjalanan saya seorang diri pertama kalinya seumur hidup. Biasanya saya memang sendiri kalau traveling, tapi selalu ada orang di tempat yang saya tuju. Lha ini, gak ada tempat tujuan pasti plus tiada teman, suramlah pokoknya mah, tapi saya nekad aja modal Bismillah dan pikiran bersih menuju bandara Soetta. Lalu naiklah saya ke pesawat yang akan ngangkut saya ke bandara int’l Phuket. Entah mengapa, saya tiba-tiba sebeeeell banget liat serombongan ibu-ibu di pesawat yang ngobrolin tentang rencana mereka di Phuket. Saya juga sedih setengah mati liat anak-anak muda pada ketawa-ketawa becanda dengan temennya. Ya ya ya, saya akhirnya menyadari bahwa kesebelan dan kesedihan saat itu disebabkan saya tidak punya siapa-siapa untuk becanda, dan parahnya saya juga tidak punya rencana mau ngapain kalau udah sampai di Phuket, dan lebih ngenes lagi saya gak tau mau ke mana setelah turun dari pesawat…. Iya sih, saya udah booking kamar penginapan di kota, tapi kedatangan pesawat sudah sangat larut sehingga bis dari bandara ke kota udah ga ada, gak mungkin banget orang kayak saya naik taxi pas traveling, apalagi di negara orang, bisa jadi TKW ujungnya.

Saat yang mendebarkan itu tiba, saya akhirnya menginjakkan kaki di Phuket, sekitar jam 11 malam, saya lupa persisnya. Kenapa mendebarkan? Karena saya gak tau mau ke mana dan ngapain. Gleg! Sayapun untuk pertama kalinya bener-bener melangkah kemana kaki ini ingin melangkah. Lalu kepada seorang bapak satpamlah kaki ini menuju. Di sana saya mencoba bertanya transportasi menuju penginapan saya. Well, saya sih sebenernya tau saya gak akan mungkin bisa ke sana karena udah gak ada bis umum, tapi biar terkesan saya “bermodal” saya tanya itu dululah sebelum akhirnya bertanya tentang menginap di bandara Phuket.

Bapak satpam itu baiiiik banget. Beliau seorang Melayu berkebangsaan Malaysia yang bekerja di bandara Phuket. Dia sudah bekerja di situ sekitar dua tahun, sebelumnya dia bekerja di tempat lain, tapi tetep di luar negaranya. Dia menanyakan asal saya, tujuan saya dll. lah yang  saya jawab dengan sejujurnya. Saat ngobrol-ngobrol, beliau bilang mendingan saya nginap di bandara aja karena gak mungkin ke kota kecuali dengan taxi yang tarifnya mahal—ukuran budget saya, apalagi seorang diri, mahallll. Menurut beliau, menginap di bandara Phuket aman dan banyak para backpacker yang nginap di situ. Lalu beliau menunjukkan arah “area penginapan” itu yang ternyata dekat dengan lokasi kami berbincang. Setelah mengucapkan terima kasih, saya meninggalkannya dan bergerak menuju “penginapan”. Di tempat asing itu saya benar-benar tidak merasa asing loh, walaupun saya sendirian, saya tak pernah merasa takut karena menurut saya, suasanya menenangkan—ini sepertinya karena saya yang membuatnya tenang.

Setelah berjalan kaki selama 5-7 menit, sampailah saya di lokasi yang disebut sebagai area penginapan itu sekitar pukul 11.30 malam. Ternyata benar, tempat itu sempurna sekali untuk tidur, hehe. Ada dua deret sofa yang empuk dan nyaman untuk tidur. Sekedar berbasa basi sambil menunggu suasana sepi, saya duduk di salah satu sofa lalu membaca buku. Tiba-tiba ada suara di samping saya mengucap salam, “Assalamualaikum.” Saya kaget campur senang karena akhirnya ada yang menyapa saya. Ternyata dia adalah seorang wanita berkerudung, petugas kebersihan bandara yang sedang jaga malam. Dia muslim asli Thailand. Dengan Bahasa Inggris yang cukup bisa saya pahami, dia bertanya negara asal saya dan tujuan saya. Rasanya seneng banget ditanya begitu karena dia juga tampak senang ngobrol dengan saya yang mau secara sukarela  mengunjungi negaranya—masa sih dia gak tau kalau buanyaak banget orang dari seluruh dunia yang jumpalitan berusaha banget mengunjungi Phuket?

Hasil dari perbincangan itu adalah bahwa saya tau bandara Phuket punya mushola, bahwa orang Phuket ramah-ramah dan baik, bahwa saya harus ke pantai ini dan itu untuk melihat keindahan Phuket dari dekat, dan yang terpenting adalah bahwa mnginap di bandara itu amat sangat aman dan biasa sekali. Legaaa, setelah dia pamit untuk bekerja, saya mulai mengeluarkan perlengkapan tidur, syal panjang. Sebelum saya merebahkan badan saya ke deretan sofa, saya melihat dua bule cewek menuju arah saya daaaannn tanpa ba-bi-bu langsung tidur di deretan sofa sebelah saya, sementara temen satunya tidur di lantai. Dari percakapan mereka saya menebak mereka dari Australia, tapi entah yah, kami gak pernah ngobrol langsung. Fiyuh, masalah pertama terselesaikan, tinggal mikirin hari esok yang entah mau ke mana dan ngapain; hari esok yang ternyata juga hari ulang tahun saya saat ituh. :-D

 

Image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.