RSS Feed

Kapok! Gak lagi-lagi deh….

Posted on

Fiuh, lama aja gak menjamah blog. Harusnya tulisan ini beredar bareng dengan Sempu dkk itu, tapi yasudahlah, baru sempet. Mencoba mengingat-ingat peristiwa bodoh yang saya harap jangan ada yang mengulanginya :-)
Perjalanan kami dimulai di hari kedua lebaran versi pemerintah. Tiket sudah dibeli jauh-jauh hari di bulan puasa. Berdasarkan kalender, keberangkatan kami adalah di hari lebaran ketiga. Mayan lah ya, hari lebaran masih bisa sama keluarga, hari kedua cabut. Tapi nasib membawa kami harus bepergian di hari lebaran sodara-sodara, karena pemerintah punya keputusan lain untuk Hari Raya Idul Fitri tahun 2011. Jadilah kami berempat berlebaran di kereta beserta penumpang lainnya yang rata-rata mudik. Selepas solat Ied, saat orang-orang masih berlebaran bersama sodara, kami “terpaksa” buru-buru ke Stasiun Kereta mengejar kereta kami.
Kami menikmati perjalanan karena memang kereta tak terlalu penuh, masih wajar. Saya sendiri tak pernah berfikir akan seperti apa nanti ketika balik Jakarta, sama sekali tak berfikir sedikitpun. Nah, inilah pelajaran mahalnya sodara-sodara. Jangan jalan-jalan saat lebaran deh, susah dan mahal bangeeett.
Jadi kami terdampar di Terminal bis Malang dan bingung mau ke Jakarta naik apa. Berdasar jadwal, kami masih akan mampir ke Jogja dan Borobudur dulu setelah dari Malang, dari Borobudur kami baru akan ke Jakarta. Itu rencana awal ya, nasib berkata lain rupanya. Sungguh-sungguh jauh dari impian awal :-(
Di Terminal Malang, kami sudah kehabisan tiket bis ke Jogja, ada bis yang super duper mahal, itu juga sampai Jogja lewat dari tengah malam. Kami berempat berdebat serius, telpon sana-sini bagaimana cara keluar dari Malang dan gak macet. Mentog. Akhirnya diputuskan untuk langsung ke Jakarta dari Malang. Rupanya tiket bis ke Jakarta juga abiss, yaelaaah, tambah panaslah jiwa-jiwa kami inih.
Lalu, tiket ke Jogja yang (super) mahal untuk ukuran tukang jalan kelas teri seperti saya harus dibeli, dan tepat pukul 3 dini hari kami sampai di Jogja. Kami lalu menuju masjid terminal untuk menunggu Subuh. Selesai Subuh, kami berpisah ke dua stasiun untuk nguber tiket kereta ke Jakarta hari itu. Harus dapet karena yang saya inget, lusa adalah hari Senin, hari kerja pertama. Seorang teman ke Stasiun Tugu, sedang saya dan seorang teman ke Stasiun Lempuyangan. Seorang lagi meneruskan liburan di Jogja karena liburnya masih puanjaaang.
Di Lempuyangan, kami ngantri kek orang miskin antri beras, memelas dan penuh harapan. Tapi setelah lama berdiri, ternyata tiket sudah abis aja gitu. Gak kebagian blas. Esmosi semakin memuncak setelah dapet telpon dari kawan yang di Tugu bahwa dia juga gak dapet tiket. Lebih nyesek lagi karena tiket pas abis pas dia di depan loket! Yodah, nasib! Mau protes sama siapa? Salah sendiri jalan-jalan pas orang-orang lagi sibuk juga balik Jakarta :-(  Bingung dan sempet pengen naik bis dengan resiko super duper macet dan gak dijamin kapan sampai Jakarta, tapi rupanya setelah telpon sana-sini, bis juga habis yang hari itu. Bener-bener menguras emosi dan pulsa deh. Tapi kami tetep berusaha karena putus asa itu dosa (hehehe).

Akhir dari usaha yang tanpa henti, kami dapet tiket kereta Lodaya ke Bandung. Fiuh, Walaupun Bandung bukan Jakarta, tapi at least udah sampai Bandung, lega deh! Untuk merayakan kedapatan tiket (duh, bahasanya apa yak, kok aneh gini?), kami makan siang sambil ketawa-ketawa mengingat yang udah-udah. Konyol banget menertawakan kejadian semalam di Malang sampai di Stasiun-stasiun Jogja. Bener-bener super konyol. Kami makan minum dengan santainya sampai si penjual Tanya “Mba, berangkat pakai kereta apa?”. Dan saya jawab dengan ceria, “Lodaya, bu”. Daaann, jeng jeng jeng, kenkonyolan sebenarnya baru dimulai saat kami tiba-tiba kaget dengan jawaban si ibu penjual itu. “Lho, itu keretanya udah mau berangkat kok kalian masih di sini, cepetan lari mba, mas!”
Duarrr! Bagai disambar petir kami langsung ngibrit beresin barang-barang yang betebaran diatas meja makan. Jantung berdegup keras berpacu dengan detik. Gile aje kalo ampe ketinggalan kereta, bisa menyesal seumur hidup. Susah dapet, mahal pulak. Bah, harus naik ke kereta, gak boleh ketinggalan.
Dalam hitungan detik, barang-barang sudah pindah ke tas masing-masing dan kami lari ke gerbong kereta. Langkah saya tiba-tiba terhenti ketika si ibu penjual kembali berteriak “Mba, bayar dulu. Ngecaz hape bayar mba!” Duerrr, bukan gak mau bayar tapi gak ada uang pas dan lagi mikir sambil lari (loh?). Uang tinggal seratus ribu, the one and only, bayar ngecaz cuma 8 ribu. Trus akhirnya saya cabut sambil saya bilang saya mintain uang dari temen yang udah masuk gerbong. Hmm, mukanya menunjukkan mosi tidak percaya, semacam saya ini penipu. Yodah, hak dia wong dia gak kenal saya kok. Tapi saya juga haram makan rejeki orang kali. Mikir lagi sambil lari….
Sampe jalur kereta, peluit sudah tertiup, saya teriak-teriak ke bapak-bapak dan ibu-ibu yang mempersilakan penumpang masuk gerbong minta ditunggu. Akhirnya saya bisa masuk gerbong dan berhasil dapat uang 5 ribu rupiah dari kawan. Beruntung kereta belum jalan. Langsung saat itu saya bilang ke bapak-bapak petugas kalau saya mau bayar utang dulu dan mohon ditunggu sebentar lagi, tapi beliau bilang gak bisa menunda kereta dan menawarkan jasa untuk menyampaikan hutang saya ke si ibu. Akhirnyaaa, saya nitip juga ke si bapak uang biaya ngecaz saya yang cuma sempet terisi 10 menit saja. Uang yang saya kasih cuma 5 ribu, sementara biaya ngecaz sejam 8 ribu. Saya bilang ke si bapak kalau itu uang yang kami bisa keluarkan saat kereta jalan pelan-pelan. Gak sempet bongkar-bongkar tas dan nyari dompet lagi, hiks. Dan bapak itu dengan tulusnya bilang “Gapapa, mba, nanti saya tambahin”. Whuaaaaa, makasih, paaaaakk.
Kereta secara perlahan melaju meninggalkan Stasiun tugu, tapi masih bisa saya dengar ucapan bapak itu. “Waah, mbak ini jujur ya, baik mba, nanti saya pasti sampaikan ke ibu penjual itu, saya kenal kok”. Pelajaran berharga, jangan berlibur ke wilayah-wilayah padat pemudik saat lebaran deh.

Menjamah yang Tak terjamah (Sempu)

Posted on

Pemandangan Pantai Kembar

Di Sempu, tempat yang terkenal dan biasanya jadi base camp pendatang adalah Segara Anakan. Tempat ini berbentuk semacam telaga yang baru akan ada airnya ketika air laut pasang. Antara laut lepas dan Segara Anakan ini dipisahkan oleh batu karang yang super terjal dan tinggi yang terdapat juga lubang di tengah-tengahnya sehingga air laut masuk ke Segara Anakan melalui lubang itu (ada di foto-foto judul sebelumnya). Dan beberapa meter dari Segara Anakan ada lahan kosong berpasir yang dijadikan lokasi kemping. Menyenangkan sekali bisa kemping di sana karena halaman kita adalah Segara Anakan. Superb!

Bagi banyak pengunjung, mengunjungi Sempu adalah berarti mengunjungi Segara Anakan. TapI bagi kami, mengunjungi Sempu adalah juga mengunjungi 3 pantai eksotis lainnya, Panti Kembar (dua pantai di dua lokasi yang berbeda. Dinamai Pantai kembar karena mempunyai karakteristik yang mirip) dan Pantai Panjang (saya enggak tahu kenapa namanya Pantai Panjang karena menurut saya sih gak panjang-panjang amat pantainya, hehehe).

Seandainya saya dan teman-teman enggak bareng sama temen-temen dari Madura, tentu kami juga tak akan sampai ke Pantai Kembar dan Pantai Panjang. Tau apa kami soal Sempu. Jalanan aja berupa setapak dengan banyak batu dan semak yang gak mungkin akan kami taklukan tanpa bantuan orang yang mengerti lokasi itu. Alhamdulillah, beruntung sekali kami bertemu Mas Dekky, ketua rombongan Madura yang udah beberapa kali menjelajah Sempu sehingga selain dapat makan dan tenda gratis, kami juga bisa ke pantai-pantai dahsyat itu. Mari kita mulai dengan Pantai Kembar.

Dari Segara Anakan, kami berjalan naik turun bukit, melewati semak-semak, serta melompati batu karang yang tajam.  Saya tidak tau kami berjalan ke arah mana, yang pasti lokasinya sangat berat untuk mereka yang suka mengeluh. Kira-kira setelah 30 menit berjalan naik turun serta lompat-lompat, kami tiba di sebuah pantai yang ternyata adalah Pantai Kembar (1). Sangat menyenangkan berada di sana karena cuma ada kami (padahal ketika di Segara Anakan, jumlah pengunjung udah kayak Dufan di musim liburan, penuuuuhh). Eh tapi ada satu tenda ding yang berdiri di sana, ada sekitar 5 orang yang menginap di sana. Tapi benar, gak banyak yang tau bahwa selain Segara Anakan, ada juga pantai-pantai lain.

Pantai Kembar ini sangat indah, berpasir putih dan berombak besar (maklum, masih termasuk rangkaian Laut  Selatan). Ombaknya mengingatkan saya dengan laut di Kiluan lampung (lupa euy nama lautnya), dan laut-laut di Bali. Ada beberapa karang besar juga yang membentuk pulau sangat kuecil ketika memandang ke tengah. Gak tampak ada aktifitas laut sama sekali (ya iyalah), jadi bener-bener asliiiii banget keadaan alamnya, belum terjamah. Kami puas foto-foto, teriak-teriak, bengong-bengong, tanpa harus berebut tempat dengan pengunjung lain. Pantai itu milik kami saat itu!

Setelah puas, kami kembali menerobos hutan untuk menuju Pantai Kembar (2). Ternyata benar, pantai ini sama karakteristiknya dengan yang sebelumnya. Pantas saja dinamai Pantai Kembar, bener-bener mirip. Kalau saya gak harus berjalan melalui jalanan yang berbeda, pasti saya berpikir masih berada di pantai yang sama, hehehe. Bedanya, di pantai ini hanya ada kami, benar-benar kami ber-15 ini, tanpa ada siapapun. Sekali lagi, kamilah pemilik pantai saat itu, hohohohoho.

Lokasi pantai terakhir kami adalah Pantai Panjang. Pantai ini agak berbeda dari pantai-pantai sebelumnya karena garis pantainya yang beneran panjang (tapi ya gak panjang banget kek di Kuta gitu) dan banyak sekali batu-batu karang yang super terjal tapi juga indah untuk dilihat. Diantara batu-batu itu ada yang membentuk lubang sehingga akan seperti gua jika kita mau menerobosnya, tapi harus ekstra hati-hati karena karangnya super duper tajam, jangan sampai kita terpeleset, bisa tamat riwayat tar. Sandal tipis tidak direkomendasikan, pakailah sandal gunung yang kuat agar tidak tergelincir. Oia, teman saya yang wanita terpeleset di sini dan dia kesakitan, untungnya bukan di karang yang besar dan tajam, jadi celananya doang yang robek, whehehe. Di pantai ini juga tidak terdapat aktifitas laut, tidak ada nelayan, tidak ada perahu, tidak pula nampak surfer (mungkin kalau dikenal luas, akan jadi lokasi surfing favorit kali ya). Tempat ini sangat sepi, bersih, dan nyaman. Saking yahudnya lokasi ini, ada pasangan calon pengantin yang mengadakan foto pre-wed di sini. Mereka cuma bertiga dengan Fotografernya. Keren deh! (Yang keren pantainya bukan pasangan itu dan fotografernya :-D )

Kami menghabiskan waktu cukup lama di pantai ini karena tempat ini sangat luas dan banyak hot spot untuk berfoto sesi. Tapi karena matahari terus menurun di ufuk barat, kami harus segera meninggalkan tempat ini untuk kembali ke Segara Anakan, kembali ke “pasar” dan istirahat.

Ketika malam menjelang, kami masak nasi dan makan ala kadarnya sambil rebutan. Semua makan dengan nafsunya karena kami sudah kelelahan seharian ke sana ke mari tanpa makan. Setelah semua kenyang, tibalah saatnya bersenang-senang. Kami menghabiskan malam dengan main poker, yang kalah jongkok. Seru!

Sangat puaslah kami menjelajah dan menimati Sempu pada liburan kali itu. Meskipun perjuangan ke sana sangat berat, tapi kami bahagia lahir dan batin. Terima kasih kepada teman-teman kami dari Madura yang sudah membantu kami selama di sana. Sangat menyenangkan! Terima kasih yang tak terhingga, kalian semua luaaaarrr biasa baik! Alhamdulillahhh.

Sempu. Hah? Di Mana Itu?

Posted on
Sempu. Hah? Di Mana Itu?

Pantai Kembar dari sisi lain.

Muntahan air laut ini akan jadi danau Segara Anakan.

Segara Anakan dari atas karang.

Proses pembentukan danau Segara Anakan.

Bagi para pencari ‘surga dunia’, pasti pernah mendengar nama tempat ini [bahkan ada yang mungkin menetapkannya sebagai daftar salah-satu-tempat-wajib-dikunjungi selanjutnya]. Namun bagi orang lain, nama lokasi wisata ini masih asing. Buktinya, banyak kok yang bertanya pada saya begini: “Sempu itu apa?” “Sempu itu di mana?”, “Di sana ada apa?”, “Di sana entar ngapain”, dll dll.  Yuk mari saya jawab melalui tulisan ini.

Sempu adalah nama sebuah pulau di selatan Pulau Jawa yang secara administratif berada di Kabupaten Malang, Jatim. Pulau Sempu hingga saat saya datang adalah pulau yang tidak berpenghuni dan katanya nyaris enggak ditemukan air payau didalamnya. Hanya ada laut, pantai-pantai, bukit-bukit, dan hutan. Jadi kalau mau ke sana, harap siapkan logistik yang diperlukan agar tidak merana di pulau itu, hehehe. Tapi jangan bawa secara berlebihan, ya, karena tentu akan menjadi beban saat menyusuri hutan yang agak naik-turun.

Nah, untuk menuju Sempu, kita harus ke Sendang Biru terlebih dahulu. Sendang Biru adalah sebuah desa pelabuhan. Dari sana, kita bisa menyewa perahu motor untuk menyeberang ke Sempu yang hanya butuh sekitar 10 menit waktu penyeberangan. Deket banget, yang kuat berenang mungkin bisa mencoba? :-D

Turun dari perahu motor, jangan berpikir bahwa kita sudah sampai tujuan. Beluuuum, masih jauuuuh, masih harus berjalan kaki menyeberang hutan sekitar 1 jam. Memang kita sudah sampai di Pulau Sempu ketika turun dari perahu motor, tapi sampai di hutannya, belum sampai di pantai-pantai indah yang dimaksudkan para pencari ‘surga dunia’ itu. Untuk menuju pantai-pantainya, siapkan energi yang cukup.

So, balik lagi ke pengalaman saya menuju Pulau Sempu itu, ya? Kami siang hari meninggalkan Bromo, dan malam hari sekitar pukul 19.00 wib kami tiba di Sendang Biru. Kami langsung menuju warung makan untuk makan sekaligus mencari info tempat menginap. Ternyata, oleh sang pemilik warung, kami diberi ruangan di balai desa [atau semacamnyalah] untuk bermalam berhubung semua penginapan sudah penuh. Well, seneng sih dapet penginapan gratis, tapi kok ya di balai desa, kotor pula gak pernah dipakai? Ya sudahlah, namanya juga gratis, Alhamdulillah ajalah. Akhirnya saya dtt. bergotong royong nyapu dan ngepel membersihkan ruangan. Saatnya memikirkan perjalanan nyebrang ke Sempu esok hari.

Dari gossip yang beredar kami tau bahwa kami harus menginformasikan kedatangan kami ke kantor administrasi setempat, tapi dari gossip yang lain kami juga dapet informasi bahwa kami gak perlu lapor, langsung aja sewa perahu dan nyebrang. Dan kami memilih meyakini gossip kedua. Kami memutuskan untuk nyebrang keesokan paginya, tanpa melapor :-D .

Subuh keesokan harinya, saya udah diuber-uber seorang teman by phone untuk segera ke pelabuhan karena mau nyebrang bareng rombongan lain dan mereka sudah di perahu. Saya yang enggak tau lokasi pelabuhan agak kesulitan menemukan jalan ke sana dan akhirnya menjadi orang terakhir yang naik perahu. Maafkan. Lalu diatas perahu kamipun saling berkenalan. Ternyata rombongan yang kami barengi adalah teman-teman dari Madura semua, bersebelas orang. Wow, ternyata ketua rombongan mereka udah 3 kali ke Sempu dan beliau hafal jalanan di hutan. Hihihihi, ngikuuuuuutt.

Dari awal saya dan dtt. tidak berencana menginap di Sempu, jadi kami sengaja tidak membawa perbekalan makanan sedikitpun. Kami hanya membawa beberapa liter air mineral saja. Tapiiii, setelah menaklukkan hutan Sempu dan menginjakkan kaki di Segara Anakan [tujuan utama sekaligus lokasi kemping di Sempu] , kami tiba-tiba secara spontan bersepakat untuk menginap. Tapi, pertanyaan kami selanjutnya adalah “Mau makan apa di sini?”, “Mau tidur di mana kita, gak bawa tenda juga?”. Daaan, semua pertanyaan itu dijawab oleh rombongan teman-teman dari Madura. Kami ikut menikmati perbekalan makanan mereka dan juga numpang tidur di tenda mereka, hehehe, terimakasiiiiiihh.

Jadilah perjalanan ke Sempu menjadi luar biasa lengkap dan sempurna buat saya. So, cerita tentang explorasi Sempu di judul selanjutnya, yaaaaa??? :-D

P.S:

Ini ada beberapa gambar pantai di dalam Pulau Sempu. Gak sabar upload foto euy. Cara ke pantai-pantai cantik ini nanti, yaaaa?

Menuju Sempu dari Terminal Malang.

Terminal Malang => Terminal Gadang => Turen (bukan terminal, tapi tempat ini sangat terkenal) => Sendang Biru => Sempu deh :-D

Danau Segara Anakan di pagi hari. Hijauuuuu banget!

Pagi hari danau masih kering belum dapet supply air laut.

Pantai Kembar dari satu sisi.

Inilah si cincin tempat lewatnya air laut sebelum akhirnya jadi danau Segara Anakan.

Menuju Puncak

Posted on

Motor yang mengantarkan saya menuju puncak.

Mari kita sambung cerita seputar Bromo. Di cerita sebelumnya, saya hanya memaparkan “kulit” Bromo. Nah, di cerita ini, saya akan membeberkan perjalanan di Bromo sampai ke kawahnya yang berada di puncak.

Setelah puas memandangi dan memotret keelokan matahari terbit di Cemoro Lawang, saya dan teman-teman (untuk selanjutnya saya singkat jadi dtt) bergerak menuju puncak Bromo. Kami kembali berjibaku dengan debu (halah, bahasanya aneh) dan menolak beberapa tawaran ojek. Tapi entah bagaimana ceritanya, kami akhirnya menerima tawaran ojek dari seorang mas-mas. Setelah nego, disepakati bahwa kami harus membayar 30.000 rupiah per orang untuk ojek dari Cemoro Lawang-Lereng Bromo-Penginapan. Harga yang bagus mengingat jarak semua itu saling berjauhan, naik-turun, dan berdebu parah karena harus melewati padang pasir. Jadilah kami ngojek menyeberang padang pasir sambil berdebar karena roda motor kadang selip karena efek pasirnya.

Singkatnya, sampailah kami di lereng Bromo. Kirain sepi, ternyataaaaa, jutaan umat pengagum Bromo sudah lebih dulu nangkring di sana. Sudahlah, gak usah peduliin orang lain, saatnya nanjak ke atas menuju puncak, ada kawah katanya di puncak. Whew, ada tangga juga rupanya buat ke puncak. Well, buat saya, gak masalah dengan nanjaknya; masalahnya adalah debunya. Sungguh luar biasa, debu Bromo saat itu bener-bener bikin mata sakit dan nafas terganggu. Tapi ayolah, demi memuaskan dahaga penasaran, masa kalah sama debu. :-)

Awalnya saya nanjak melalui tangga, tapi karena gak betah antri di tangga [saking banyaknya pengunjung, untuk menuju kawahpun harus antri di tangga], saya milih melipir ke pinggir dan loncat ke pasir untuk nanjak ke atas. Saya pikir lebih baik melangkah berat di pasir dan menghirup udara campur debu tapi cepat daripada diam di tangga sambil menghirup debu. Fiuh, bukan saya banget kalau cuma bisa diam dan gak bisa berbuat apa-apa.

Setelah berjuang sekitar 30 menit [sebenernya, sih, saya enggak ngitung waktu saat nanjak :-D ], akhirnya saya sampai juga di puncak. Wow, luar biasya! Saya tidak merasa berada di puncak Bromo itu indah. Hehehe. Sampai di atas ternyata makin sempit ruang gerak saya, makin susah juga saya bernafas, dan bahkan kawahnyapun gak terlihat karena tertutup kabut. Yang ada, saya cuma duduk semenit dan memandangi orang-orang yang berjuang menuju tempat saya duduk saat itu. Itulah satu-satunya kenikmatan saya saat berada di puncak :-D .

Karena enggak betah berada di puncak, lima menit kemudian saya dtt meluncur ke bawah. Benar-benar meluncur karena saya kembali memilih turun melalui pasir. Sreeeeet, berasa lagi main ski di padang es [ada gak sih ‘padang es’?] ketika menuruni bukit pasir. Sangat cepat sampai bawah tanpa harus mengeluarkan banyak energi. Tapi memang dibutuhkan keseimbangan yang baik, atau kalau enggak, anda akan benar-benar meluncur ke bawah dengan posisi tengkurap sampai bawah sana :-D .

Dari Bromo kami kembali ngojek menuju penginapan. Ketika menyeberang padang pasir, kami minta mampir ke sebuah pura untuk berfoto sebentar. Benar-benar sebentar karena kami enggak boleh masuk. Sayangnya, saya lupa alasannya kenapa kami enggak boleh masuk ke dalam pura. Ya udah deh, bisa foto-foto di sana juga kami udah senang, kok :-D .

Singkat cerita, sampailah kami di penginapan dengan sentausa, selamat, dan bahagia. Saatnya makan siang, beres-beres, dan cabut ke Pulau Sempu. Cerita menuju Sempu akan saya release pada judul berikutnya. Terimakasiiiiiiih. [cont]

P.S [Pesan Sponsor]:

Sebaiknya anda liburan saat orang lain tidak liburan, sehingga anda enggak perlu berjejalan dengan banyak umat pelancong. Dan satu lagi, sebaiknya tidak liburan ke gunung saat gunung itu abis meletus, enggak indah blas deh, hehehe, sebaliknya, malah berdebu banget.

Pura.

Seperti mas-mas inilah cara saya menanjak ke puncak.

Antrian tangga menuju puncak.

Menuju Lokasi Matahari Terbit di Mentagen, Bromo. Luar biasya!

Posted on

Bromo merupakan gunung impian saya sejak dulu. Rasanya seperti enggak mungkin buat saya untuk bisa sampai ke sana, terlalu jauh dan mahal (seperti yang saya baca dari blog-blog tetangga). Dan malam itu, saya sudah berada sangat dekat dengan Bromo, dekaaaat sekali. Tinggal naik mobil satu jam lagi saya akan sudah sampai di wilayah Bromo. Merinding!

Sayangnya, saat itu saya dan teman-teman terlalu malam sampai di terminal Probolinggo, jadilah itu angkot-angkot ke Bromo sudah gak ada yang beroperasi. Kalau mau, kita bisa sewa angkot itu. Saat itu, biaya sewa yang ditawarkan sebesar 300.000 Rupiah. Waw! Itu angka yang sangat besar untuk ukuran pejalan-dengan-biaya-murah seperti saya. Dilemma. Mau lanjut ke atas, mahal. Mau gak jadi juga udah tanggung, trus mau nginep di mana di Probolinggo? Kalau ke Bromo, kami udah pesen kamar di penginepan, dan karena alasan itu jugalah kami harus ke sana.

Sempet terjadi perdebatan diantara kami. Apalagi sempet terceplos sesuatu kepada supir angkot itu, jadilah masalah tambah semrawut abu-abu cenderung hitam. Sambil makan nasi goreng di salah satu warung lesehan, kami ngobrol-ngobrol tentang kelanjutan nasib kami malam itu. Dan berdasar kesepakatan, kami akan bernegosiasi dengan bapak supir agar harga bisa turun. Deal! Harga sewa angkot jadi 250.000 Rupiah untuk ke Bromo. Tapi kami terpaksa cancel penginepan yang sudah kami pesan dan beralih ke homestay yang ditawarkan bapak supir dengan biaya lebih murah, Rp. 100.000/malam (sebenernya cuma Rp. 75.000 kalau tanpa perantara bpk. supir tadi). Alhamdulillah, cita-cita ke Bromo kesampaian jugaaaaa. :-D

Tepat pukul 12.00 malam, mobil angkot sampai di depan penginapan kami yang berada di daerah cemoro lawang. Dan blaaarrrr! Kami disambut oleh milyaran bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Sumpah, saya sampai agak sesak napas memandang langit. Seumur hidup, belum pernah saya lihat bintang se-luar-biasya-banyak seperti saat  itu. Tak ada celah langit sedikitpun yang kosong tanpa bintang, seolah semua bintang sedang mengadakan pameran di atas langit Bromo. Subhanallah!

Setelah tidur selama 2 jam, kami sengaja bangun untuk melihat matahari terbit. Lokasi yang kami pilih bukan Penanjakan (yang udah terkenal itu), melainkan Mentagen. Berdasarkan keterangan orang lokal, Mentagen lebih oye sunrise-nya dibanding Penanjakan (mungkin karena semua orang menuju Penanjakan kali, ya?). Dari tempat penginapan menuju lokasi matahari terbit, kami butuh satu jam perjalanan kaki. Satu jam itu bukan karena juauh banget, tapi karena lokasi yang super berdebu tebal, menyulitkan langkah untuk berjalan, belom lagi kalau ada Jeep atau ojek motor lewat, beeerrr, debu menggerayangi seluruh wajah. Sengsara!

Sampai di lokasi, ternyata sudah banyak yang hadir duluan. Ternyata Mentagen-pun tidak sesepi yang saya bayangkan. Ya sudahlah. Eiya, di lokasi matahari terbit, gak ada mesjid or rumah or bangunan apapun, jadi kalau mau solat subuh, ya pas di Cemara Lawang tadi, deket lokasi penginepan. Tapi tentu saja belum adzan sodara-sodara, jadi, sepertinya tak mengapa kalau kita solat subuh di atas tanah berdebu, hehehe, wudhunya ya tayamum ajalah. Masa gak solat hanya karena mau lihat matahari terbit?? Ter-la-lu (kata Bang Rhoma).

Saat-saat menjelang matahari terbit adalah saat-saat yang buat saya lebih indah dari saat matahari terbit. Semburat warna merah kekuningan agak coklat keoranyean di langit biru di atas gunung sungguhlah luar biasya indah. Whew, keren bangetlah. Harus melihat sendiri, difoto juga gak akan sebagus aslinya. Monggo ke Bromo untuk menikmatinya. Tapi jangan pas libur nasinal, rameeeeee banget. [cont]

Matahari terbit Mentagen

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut gambaran singkat backpackingan ke Bromo.

Jakarta (bisa dengan kereta api ekonomi) => Stasiun Malang => Terminal Probolinggo (naik angkot) => Bromo

Ongkos-ongkos:

Jakarta-Malang= Rp 51.000,-

Malang-Probolinggo= Rp 5.000,- (sekitaran, lupa tepatnya)

Probolinggo-Bromo= Rp 25.000,-

Homestay= Rp 75.000-100.000,-/malam (bisa berempat dalam 1 kamar)

Naik Gunung, Lari ke Hutan, lalu Ketemu Pantai.

Posted on
Naik Gunung, Lari ke Hutan, lalu Ketemu Pantai.

Libur lebaran tahun ini (sebenarnya) sungguh tak asyik buat saya karena kantor saya cuma memberi libur 3 hari. Kalau mau cuti, saya hanya baru bekerja 3 bulan sahaja di sana, belum ada jatah cuti. Tapi Alhamdulillah saya bisa menambah libur sendiri untuk berperjalanan (dengan resiko tertentu, hehehe) bersama tiga teman saya lainnya. Akhirnya, kami mantap menuju Malang dengan kereta api ekonomi Matarmaja selepas solat Ied (terpaksa pergi dengan nuansa lebaran akibat pemerintah “memundurkan” hari Idul Fitri, padahal tiket sudah dipesan untuk hari kedua lebaran. Gleg!).

Menuju Malang, kami naik kereta api dari stasiun Senen Jakarta. Kami sangka suasana kereta bakalan ramai dan penuh sesak dengan orang-orang yang mau mudik, jadi kami kumpul di stasiun sejak pukul 10 pagi, padahal kereta jalan pukul 2 siang. Ternyata enggak tuh, suasana kereta memang ramai (gak pakai banget), tapi ramai dengan beberapa romongan anak muda yang mau naik gunung (Semeru dll) dan jalan-jalan gajebo (seperti rombongan kami). Bersyukurlah kami karena kami mendapatkan tempat duduk yang nyaman (nyaman untuk tidur, nyaman untuk becanda-canda, dan nyaman untuk main kartu sepanjang 17 jam perjalanan).

Di dalam kereta, kami ketawa-ketawa bercerita tentang kekonyolan diri sendiri ataupun kekonyolan temen. Trus kami juga main kartu. Saya yang seumur hidup gak pernah main poker (jenis permainan kartu yang saya tahu cuma cangkulan, itu juga saya mainkan jaman saya masih SD) terpaksa harus ikut kursus singkat dulu untuk bisa berpartisipasi. Akhirnya dengan tingkat kecerdasan yang cukup lumayan baik, saya bisa juga main poker (yeay!). Namun saya tetep harus mengakui bahwa dua teman saya yang lain jauh lebih hebat dari saya. Sementara terhadap satu teman yang lain, dengan bangga saya umumkan bahwa saya lebih hebat dari dia (hahaha, tidak usah disebutkan dia itu siapa, kasian dia). Dan kami-pun membunuh waktu dalam perjalanan menuju Malang dengan main poker, bahkan bersama mas-mas rombongan ke Semeru. Seru!

Akhirnya kami sampai di stasiun kota Malang dengan selamat sentausa dan bahagia pada hari Kamis, 1 September 2011. Kami sampai di sana kira-kira pukul 7 pagi (kereta dari Jakarta pukul 2 siang pada hari Rabu, 31 Agustus 2011), dan sudah ditunggu oleh para penjemput kami. Ya, kami dijemput oleh dua orang yang berbeda, dua-duanya merupakan kenalan salah satu teman saya. Salah satu penjemput bernama mas Widi dan satu lagi adalah Bapak Djihad. Beliau adalah penggemar sepeda Onthel dan punya banyak koleksi sepeda Onthel di rumahnya. Terbayang oleh saya akan sepedaan di alun-alun Malang dengan salah satu Onthel itu. Byar!

Kami-pun beristirahat sejenak di rumah Bpk. Djihad dan berkesempatan bertemu dengan Ibu Djihad beserta mba Nada dan mas …… (lupa euy namina), putra putri Bpk. dan Ibu Djihad. Sambil sarapan bersama, kami berbincang tentang tujuan kami selanjutnya. Akhirnya diputuskan untuk main-main ke kota Batu Malang, mengunjungi Bromo, mampir ke air terjun Madakaripura lalu turun ke Sempu. Menyenangkan! Setelah sempu langsung ke barat mampir Borobudur dan Jogja. Sounds perfecto at first! :-D

Okay, petualangan yang sebenarnya-pun di mulai hari itu, Kamis 1 September 2011. Dengan diantar mas Deni (sahabatnya mas Widi), kami muter-muter di kota Malang dan kota Batu, sambil mampir ke Jatim Park dan Museum Satwa. Jatim park itu seperti Dufan-lah kalau di Jakarta. Isinya permainan-permainan (tenaaaang, jangan mupeng dulu, kami gak bisa masuk kok, gak ada waktu karena sorenya harus lanjut ke Bromo). Ternyata kota Malang sungguh asyik untuk dikunjungi dan bahkan ditinggali, sejuk dan ramah. Berada di Malang buat saya seperti berada di Bandung atau Puncak, sangat sangat sangat ciamik!

Nah, karena keasyikan menikmati kota Malang dan Batu, kami kesorean menuju Bromo (lebih tepatnya sih kemaleman). Pukul 9 malem kami baru tiba di terminal Probolinggo. Bayangpun! Bagaimana caranya naik ke Bromo kalau mobil angkot udah gak ada yang beroperasi? Mau sewa mobil tarifnya mayan mahal, bukan kelas kami. Ya kalau mau sih kami bisa banget nyewa mobil, tapi bukan jalan-jalan seperti itu yang kami inginkan sebenarnya. Kami ingin naik mobil angkot umum, bukan sewaan. Jadilah malam itu malam yang menegangkan buat kami karena disitulah “konflik” pertama perjalanan yang luar biasa menyenangkan ini dimulai. Yiahoo, bersambung di judul selanjutnyaaaa. Sekalian saya beberkan bagaimana cara menuju tempat-tempat yang saya kunjungi kemarin tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Menarik bukan? Bukaaaaaannnn…. :-D [cont]

Pertama menginjak Malang #sta. Malang

Cerita Dramatis Menuju Teluk Kiluan, 28-30 May 2010 (Ending)

Posted on
Cerita Dramatis Menuju Teluk Kiluan, 28-30 May 2010 (Ending)

Di sepanjang perjalanan meninggalkan Bakaheuni, telinga kami disuguhi musik kenceng berbagai lagu yang gak asyik. Pop gak asyik lah, music ajeb-ajeb gak asyik lah, pokoknya semua lagu gak asyik. Entah apa maksud permainan musik dengan suara kenceng itu. Mas supir juga sering terlibat pembicaraan telepon dengan entah siapa, dan entah apa pula yang mereka bicarakan. Mungkin mereka sedang merencanakan kami. Entahlah. Pikiran saya menerawang, membayangkan nasib kami selanjutnya akan seperti apa nanti. Melihat kanan kiri cuma ada pohon-pohon, alas, hutan. Ah! Tak ada perumahan atau apapun untuk dimintai tolong kalau kami kenapa-kenapa. Saya hanya berdoa, dan berdzikir seolah-seolah sebentar lagi saya akan mati! (Kali ini saya enggak lebay, begitulah perasaan saya saat itu. Bisa aja kan?)

Sambil khawatir, saya mulai menebak akan diapakan kami nanti. Dalam pikiran saya, kami akan dibawa ke suatu tempat sesuai tujuan mereka, dan di sana, kami akan dipalak, alias dirampok, alias dipaksa menyerahkan semua harta benda kami. Kalau kami menolak menyerahkan harta benda, kami akan disakiti, hiks! Pedih membayangkan itu.

Saat lagi sibuk membayangkan nasib kami nanti, tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah rumah kecil. Kami kaget, tapi hanya diam, sambil saling berpandangan dan mencoba berpikir, dan tetap siap-siap dengan apapun yang akan terjadi. Ternyata, si mas supir yang turun dari mobil dan berjalan menuju rumah kecil di pinggir jalan itu. Entah dia ngapain di dalam sana. Ada anak kecil cowok (4 tahun mungkin) tampak keluar dari rumah itu. Sekali lagi pikiran saya positif, si mas supir pasti bapak dari anak kecil itu, jadi menurut saya dia enggak akan jahatin kami—menurut saya, gak boleh jahatin orang agar orang juga gak jahat sama dia atau anaknya! Sebuah pengharapan semu, sih, sebenarnya. Well, setelah beberapa menit (mungkin 5 menit), si mas supir sudah ada dibalik kemudi lagi. Sama sekali enggak ada omongon tentang why, who, what-nya dia turun dari mobil. Aneh sekaligus gak sopan!

Dan saya pun mulai berpikir untuk menyelamatkan harta benda kami. Uang (uang saya sih emang tak seberapa, tapi uang teman-teman saya si seberapa), HP, perhiasan teman-teman wanita saya, dan barang berharga lainnya harus digimanain ya biar aman, biar pas dirampok nanti gak kelihatan kalau kami punya barang-barang itu? Ah, sulit, mereka pasti memeriksa sendiri isi tas dan kantong-kantong yang ada. Akhirnya, saya kepikiran untuk menyembunyikan uang-uang itu di kaos kaki saya. Saya pakai jeans plus kaos kaki, jadi tampaknya aman menempatkan beberapa juta uang di sana. Setidaknya, ketika mereka paksa saya buka kaus kaki, saya akan berusaha menendang mereka dulu sebelum akhirnya kabur (khayalan tingkat tinggi yang saya pikir akan menjadi nyata saat itu).

Karena saya ingin menciptakan suasana tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan mas supir (beserta dua orang besoar di sebelahnya), saya hanya meminta uang teman-teman saya yang duduk di sebelah saya, di jok paling belakang, untuk dikumpulkan ke saya, dan selanjutnya saya simpan di kaus kaki saya. Badan saya yang sangat kecil memungkinkan saya untuk sedikit merunduk sehingga aktifitas saya gak terbaca dari kaca spion di atas kepala mas supir. Beres! Uang sudah pindah ke kaki. Tinggal ikhlaskan HP dan benda-benda lainnya kalau nanti terjadi tindak kejahatan. :-(

Setelah sukses menyembunyikan uang di kedua kaus kaki saya, saya mulai berpikir untuk minta tolong by phone. Pertama, saya menghubungi teman saya yang di Bd. Lampung. Saya ceritakan keadaan kami sekaligus minta doa, dan kalau perlu tolong hubungi polisi untuk menyelamatkan kami. Tapi percuma karena saya tak tahu nopol mobil dan lokasi kami. Buntu! Lalu saya telepon ibu saya, minta doa agar diselamatkan dalam perjalanan ini. Alhamdulillah, mulai tenang dan bersemangat setelah denger saran ibu untuk tetep berdoa dan berdzikir.

Tapi, tar gimana, nih, kalau beneran dijahatin? Mereka pasti banyak, sementara kami cuma berenam. Cowonya juga cuma dua, sisanya cewek-cewek berbadan kecil dan gak bisa bela diri, hadeeeeh, mules perut membayangkan nasib kami nanti. Mana semalam, orang tua salah satu kawan wanita pesen ke saya buat jagain anaknya karena ini kali pertama dia dibolehin jalan-jalan sendiri, ke luar pulau pula. Hadeeeh, tambah mules perut saya, sungguh berat beban ini. Nanti gimana kalau kami pulang dengan diantar polisi, atau tau-tau di rumah sakit, atau bahkan nama kami ada di koran sebagai korban kejahatan, muleeeeeeeeesssssss. :-(

Saya mulai mengabarkan ketidakamanan kami pada ketiga temen yang duduk di jok depan kami by sms. Yang cowok bilang dia juga udah mulai waspada dan nyiapin gunting kecilnya (gunting kecil??? Oh, please!). Yang cewek cuma bisa berdoa dan menyerahkan semua pada Tuhan. Hidup mati kami ada di tanganNya (tapi kalau bisa jangan begini juga dong Ya Tuhan, keluarga kami menunggu di rumah).

Sepanjang perjalanan, salah satau kawan saya (cowok) terus memantau mobil dengan GPS. Jangan sampai mobil keluar jalur menuju selain Bd. Lampung, berbahaya! Dan mengingat situasi jalanan yang sepi dan cuma ada hutan di kanan kiri, kami tak mungkin minta berhenti karena takut kalau-kalau malah akan dijahati di tempat itu juga. Kami menciptakan situasi yang mana kami (seolah-olah) tidak curiga dengan mereka. Yang bisa kami lakukan saat itu hanya diam, mikir, dan berdoa. So far so good, mobil tetap melaju ke Bd. Lampung. Begitu sampai kota, kami sepakat akan minta berhenti, kalau gak diberhentiin, kami siap dengan segala resiko.

Setelah beberapa jam (mungkin 3 jam), akhirnya kami melihat peradaban kota Lampung juga, gak cuma hutan dan alas. Saya mulai berpikir untuk meminta berhenti dengan alasan sarapan bersama, dan lalu akan bayar lunas dan ganti mobil umum saja, gak usah dengan mobil mencurigakan ini. Semangat saya untuk meminta berhenti tambah besar ketika kami melihat 2 orang polisi lalu lintas yang sedang bertugas di jalan. Kalau gak diberhentiin, saya mau nekad teriak ke kedua polisi itu. Begitulah tekad saya awalnya.

Dengan suara setenang mungkin (saya buat-buat tenang tepatnya), saya minta mobil berhenti untuk sarapan. Saya bilang kami belum makan dari Jakarta, dari sore belum makan sampai pagi jam 10-an ini. Gak ada reaksi dari mas supir, ngomong juga enggak. Saya berusaha tenang dengan memperpanjang kalimat meminta berhenti di mana saja, boleh di warteg, warsun, ataupun warpad, yang penting makan—kata saya dalam hati, yang penting bisa keluar dari mobil ini dengan selamat.

Kami menunggu reaksi mas supir dengan berdebar. Gak ada gejala apa-apa dalam dirinya. Mukanya tetep datar, gak bicara sekatapun, pun gak melihat ke arah kami. Sungguh menegangkan. Kami gak tahu apa yang ada di kepalanya.

Akhirnya mobilpun menepi di depan sebuah warung makan padang. Betapa leganya hati saya. Begitu pintu mobil dibuka, rasanya plooooong banget. Bayangan-bayangan tindak kejahatan itu semua sirna begitu kepala saya sudah berada di luar pintu mobil. Akhirnya saya merasa bahwa saya dan teman-teman saya selamat, walaupun kami tak tahu ada di Lampung sebelah mana saat itu.

Kami langsung menuju bagasi untuk menurunkan barang, sambil pura-pura tenang pastinya. Saya sendiri masih menunggu reaksi mas supir yang semenjak menepi diam saja. Saat menuju bagasi mobil, ia diam sambil menggaruk-garuk kepala. Enggak bicara apapun. Sampai akhirnya setelah beberapa saat dia bilang ke saya, “Mba, itu di terminal Panjang di sebrang.” Waaaaa, benar, terminal Panjang. Saya si enggak tahu itu di sebelah mananya Bd. Lampung, tapi yang pasti kawan Lampung saya dekat juga dengan terminal Panjang.

Akhirnya kami bebas. Saya langsung bersujud syukur, dan tak lupa telepon ibu, mengabarkan keselamatan kami. Fiuh! Yang masih menyisakan tanya adalah, kedua penumpang asing yang badannya segede-gede paus itu turun di mana, ya? Kan katanya dia akan turun sebelum kami semua turun. Terus, kalau saya enggak minta berhenti minta sarapan, kami akan di bawa ke mana ya? Dududu, gelap! Yang pasti saya bersyukur dapat melanjutkan perjalanan menuju Teluk Kiluan, yeay! Alhamdulillah… (End)

Akhirnya bisa juga ngeliat atraksi ini di lokasi terbaiknya...

Horeeeee, akhirnya bisa berfoto bersama jugaaaa…
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.